
Dita berjalan menuju kelas. Dadanya terasa sesak menahan sebak di dada. Mencintai dalam diam sangat menyakiti.
Cinta terkadang memang sulit diungkapkan dan tidak dapat disampaikan. Berbagai alasan membuat sesorang memendam saja perasaannya tersebut. Meski berat dan kadang membuat sedih, namun beberapa orang memilih cara ini. Mungkin karena hati masih tidak yakin dan bimbang.
Dita duduk di sudut ruangan kelas dengan termenung. Hari ini guru rapat sehingga pelajaran semua kosong.
"Menjadi orang yang memendam rasa akan tersiksa jika tawa itu berasal dari seseorang wanita yang dia puja bukan diri kita. Cinta terindah antara dua insan yang belum halal adalah saling mendoakan dalam diam tanpa saling mengetahui, karena tak ada yang lebih tulus dari hati yang mencintai dalam perih, dan mendoakan dalam diam. Untuk orang sepertiku yang hanya bisa memendam perasaan, cinta hanya bisa memberikan sebuah penderitaan," ucap Dita dalma hatinya.
Syifa mendekati Dita. Walau mereka baru dekat, wanita itu tahu jika sahabatnya sangat mencintai Axel.
"Hal yang sebaiknya kita lakukan saat hati harus mencintai seseorang, ikhlaskan orang itu bersama wanita lain, fokuslah pada diri sendiri tanpa melibatkan apa pun tentangnya dan mulailah untuk tidak memikirkannya lagi," ucap Syifa.
Dita memeluk sahabatnya itu, akhir tangis gadis itu pecah. Apa yang dikatakan Syifa benar adanya. Dia harus ikhlas.
Dita melepaskan pelukannya saat mendengar suara teriakan dari lapangan. Mereka berdua berdiri. Tampak Axel yang membawa sebuket kembang, yang diberikan untuk Lisa.
Axel dan Lisa tampak berdiri di tengah lapangan yang luas, dengan cahaya matahari yang bersinar menerangi wajah mereka yang bahagia. Lisa tersenyum lembut pada Axel, tampak begitu bahagia dan senang. Axel memandang Lisa dengan penuh kasih dan melanjutkan sebuah drama yang telah direncanakan selama beberapa hari ini.
__ADS_1
"Lisa, selama hidupku, aku belum pernah merasakan apa yang kurasakan pada dirimu. Aku bersyukur memiliki keberanian untuk mengatakan padamu bahwa aku mencintaimu. Aku mencintaimu, Lisa, dan aku ingin kamu mendampingi aku. Maukah kamu menjadi kekasihku," ucap Axel.
"Terima ... terima," ucap semua teman satu sekolahan yang ada di lapangan itu.
Lisa terkesiap dan tersenyum dengan semringah.Dia benar-benar tidak menyangka jika pria yang juga dicintainya akan mengatakan hal seperti itu. Dia menatap Axel dengan penuh cinta dan berkata, "Axel, aku juga mencintaimu. Kamu adalah seseorang yang membuatku bahagia dan siapa pun itu akan sulit untuk menggantikanmu."
Semua yang hadir bertepuk tangan mendengar jawaban Lisa. Satu sekolah sepertinya merestui hubungan keduanya. Axel dan Lisa memang pasangan yang serasi. Ganteng dan cantik.
Axel tersenyum dan mengelus rambut Lisa dengan lembut, merasa begitu bahagia dan tersanjung dengan respons Lisa. Dia merasa seperti bisa menggapai bintang.
Dita merasakan dunianya runtuh saat melihat Axel menyatakan cinta pada Lisa di depan mata. Dita sudah lama memendam perasaan untuk Axel, tapi sekali lagi, cintanya harus terhalang oleh Lisa. Seakan tak kuasa menahan beban perasaannya, air mata Dita pun mengalir deras.
Syifa yang dapat merasakan sakit hatinya Dita menarik tangan sahabatnya itu untuk pergi dari tempat itu. Dia mengajak Dita ke taman samping.
"Menangislah, Dita. Tapi setelah ini kamu harus melepaskan semuanya. Ikhlaskan dia dengan wanita lain," ucap Syifa.
Tangis Dita akhirnya pecah, Syifa memeluk sahabatnya itu. Sebagai wanita dia tahu bagaimana perasaan Dita saat ini.
__ADS_1
"Sebaik apapun kita. Setulus apapun kita. Sesayang apapun kita, sebanyak apapun pengorbanan kita, tidak akan pernah berharga di depan orang yang tidak bersyukur memiliki kita. JANGAN PERNAH JADI PELANGI UNTUK ORANG YANG BUTA WARNA," ucap Syifa.
"Syifa, aku mau pulang. Bisa kamu minta izin pada guru," ucap Dita.
"Pulanglah, jika masih ingin menangis, menangislah. Luapkan semua kesedihanmu itu. Tapi esok kamu sudah harus bisa memulai lembaran baru," ujar Syifa.
Dita hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Syifa mengambilkan tas Dita dan membiarkan wanita itu pulang.
Dita bukannya pulang ke rumah, dia mengendarai mobil menuju sebuah danau di pinggir kota. Dia ingin menangis di sini. Di rumah takut ibunya curiga.
"Tuhan, terima kasih karena sudah pernah menitipkan rasa yang begitu luar biasa pada saya untuk seseorang. Setidaknya saya pernah menemukan sosok yang membuat saya mencintainya dengan rasa yang begitu dalam. Dia, laki-laki yang mengajarkan saya titik tertinggi mengcintai yaitu dengan mengikhlaskan. Dia membuat saya jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Dia laki-laki yang saya cintai dengan tiba-tiba dan mengikhlaskan secara terpaksa. Ketika saya berusaha untuk terbiasa tanpanya, rasanya saya hampir gila karena melawan rindu. Saya pernah sabar karena menahan diri untuk tidak mencarinya, bahkan saya menangis terisak saat mengingatnya. Lantas jika takdir saat ini kami tidak bisa lagi bersatu, maka tolong bantu saya dengan rasa ikhlas. Sebab melepaskannya adalah keterpaksaan yang benar-benar nyaris membuat saya membenci takdir saya sendiri."
Dita kembali masuk ke mobil. Dua jam sudah dia menyendiri di sini. Dia takut jika pulang telat, ibunya akan menghubungi Axel. Bertanya tentang keberadaan dirinya.
"Ya Tuhan, mulai hari ini aku ikhlas melepaskannya. Aku lepaskan walau dengan terpaksa. Aku janji akan mengikhlaskannya seluas aku mencintainya. Aku kembalikan lagi seluruh cintaku pada-Mu Tuhan. Sungguh aku percaya sudah kau atur sebaik-baiknya. Jika dia memang takdirku, biarlah semesta yang akan membawanya kembali padaku. Karena sekuat apa pun aku menggenggam jika dia bukan milikku, pasti akan terlepas juga. Namun, sejauh apapun kita melangkah jika dia memang jodoh kita, pasti akan dipertemukan kembali."
...----------------...
__ADS_1