
Dita merasa seperti sedang dalam sebuah petualangan saat melangkah masuk ke kampus baru yang akan menjadi rumahnya selama beberapa tahun kedepan. Dia masih terlihat sedikit grogi dan tidak terlalu yakin tentang apapun, tetapi dia merasa sangat bersemangat untuk memulai babak baru dalam hidupnya. Setelah menjelajahi beberapa gedung, dia akhirnya mencari kantin dan memesan teh hangat.
Sementara menunggu teh hangat, Dita merenung tentang semua hal yang ingin dilakukannya di kampus baru ini. Dia ingin menjalin hubungan baik dengan dosen-dosennya, bergabung dengan klub atau organisasi, dan telah mengumpulkan beberapa nama untuk dihubungi.
Dita juga berharap dia akan bisa melupakan semua tentang Axel. Mengubur namanya dalam-dalam.
Kemudian, dia merenung tentang rumahnya sendiri, tepatnya kamar kos. Dia berharap bisa mendapatkan teman sekamar yang baik dan bahwa mereka akan menjadi teman terbaik.
Hari pertama orientasi, Dita dateng kuliah tepat waktu. Dia perhatikan ada satu cewek yang lagi kebingungan ngurusin kartu ID.
"Aku juga gitu, kok. Kamu perlu bantuan apa?" tawarnya ke cewek itu.
"O-oh, terima kasih banget ya," ucap cewek itu sambil senyum.
"Nanti kalau lagi bingung apa-apa, boleh tanya sama aku atau temen-temen," ucap Dita sambil mengulurkan tangan. "Aku Dita, mau kenalan sama kamu," lanjutnya.
"Saya Elfa, senang berkenalan denganmu," balas Elfa sambil menggenggam tangan Dita.
***
Seminggu berlalu, Dita udah akrab banget sama temen-temennya. Mereka sering main ke mall atau nonton bareng, biasanya dibarengin sama teman mereka satu kos lainnya. Tapi Dita juga bisa enjoy bareng temen-temennya.
Hari itu, Dita dan teman-temannya lagi nongkrong di lobby asrama.
"Kamu cuma stress doang, Ci. Sama aku aja," ajak Dita ke Ci, salah satu temannya yang lagi curhat.
__ADS_1
"Kamu gak ngerti, Dita," protes Ci.
"Aku ngerti kok, ci. Kamu butuh liburan aja," ucap Dita.
"Lagi-lagi Dita yang punya solusi buat engkong stress," canda Jihan, teman mereka yang lain.
Dita cuma senyum doang, maklum udah biasa akrab bareng temen yang punya masalah. Dita tampaknya sudah mulai akrab dengan teman lainnya.
Dita berusaha berteman dengan siapa saja. Dulu dia tidak mudah akrab dengan teman lain, karena Dita berpikir tidak butuh teman selagi Axel ada bersamanya. Sekarang dia merubah pikirannya dan berusaha membuka hati untuk menerima kehadiran orang baru.
Jika kedua orang tuanya melihat, pasti tidak percaya dengan perubahan yang terjadi pada diri Dita saat ini. Dia lebih terbuka dan gaul.
Sudah beberapa minggu Dita kuliah di sana, dia juga mulai ngerti gimana caranya survive hidup sendiri di kota ini. Berangkat kuliah pagi-pagi udah jadi tradisi buat Dita. Senang banget rasanya bisa beraktifitas di kota lain, bertemu dengan orang-orang baru.
Semuanya jadi semakin seru dengan menjadi bagian dari kelompok teman-teman yang akrab. Dita senang banget karena dia merasa dia bukan sendiri.
"Tapi kamu juga udah jadi bagian dari kita, Dita," balas mereka semua dengan senyum ramah.
Dita tambah ngerasa nyaman banget sama kota ini. Sepertinya dia benar-benar telah melupakan Axel. Dia cuma bisa bersyukur bisa kuliah di sini.
***
Beberapa bulan kemudian, Dita natap ke jendela kantin sambil siram-siram teh di recovery software laptopnya. Ada Elfa datang dan nongkrong sama dia.
"Eh, kamu main game ini juga ya, Dita?" tanya Elfa sambil ngeliatin layar Dita.
__ADS_1
"Iya, aku juga udah addicted sama ini," jawab Dita sambil cemburu liat Elfa yang udah lebih cao dari dirinya.
"Kamu belum nge-pass level berapa?" tanya Elfa lagi.
"Belum, aku lagi stuck di level 68."
"Loh, kok gitu? Padahal aku udah lewatin level itu," kata Elfa.
Dita cuma cekikikan. "Aku doang yang tolol," ucap dia sambil nyerah yeuh.
"Aku kasih tau rahasia nge-pass level itu," tawar Elfa.
Dita cuma terima dengan senyum. Ia senang banget punya teman-teman yang bisa berbagi ilmu, membantunya ketika ada masalah, dan tumbuh bersama dalam keseruan ataupun kesulitan.
Hari ini Dita diajak Elfa ke tempat kos kekasihnya. Dia takut nanti ada yang salah paham jika dia, seorang gadis mendatangi kos seorang pria.
"Awas ya kalau aku hanya jadi obat nyamuk," canda Dita. Seorang Dita yang dulu terkenal pendiam dan pemalu itu telah hilang. Dia telah berusaha menjadi pribadi yang berbeda.
"Tak akan jadi obat nyamuk. Aku akan kenaikan kamu dengan teman Kak Rio. Orangnya tampan. Sayang aku tekah memiliki kekasih, jika belum, telah aku dekati itu cowok," ucap Elfa.
"Jangan mencoba menjodohkan aku lagi!" ucap Dita.
Elfa telah beberapa kali menjodohkan Dita dengan beberapa pria. Namun, gadis itu selalu menolak. Dia belum mau membuka hati buat pria lain, bukan berarti dia masih mengingat Axel. Cuma belum bisa saja menerima kehadiran pria selain sebagai teman.
Sampai di kos Rio, Elfa mendatangi kamar sang kekasih. Mengetuknya perlahan. Beberapa saat terdengar langkah kaki mendekati, dan orang itu membuka pintu.
__ADS_1
Dita terdiam memandangi pria yang membuka pintu itu. Wajah yang tidak asing baginya. Gadis itu menarik napas panjang, untuk menetralkan degup jantungnya.
...----------------...