TAK SEINDAH SURGA S1/S2

TAK SEINDAH SURGA S1/S2
Bab 84 S2. Proses Melahirkan


__ADS_3

Tak terasa kandungan Dita saat ini telah memasuki usia sembilan bulan. Perutnya sudah sangat membuncit.


Pagi ini Dita merasakan perutnya kram, dia membangunkan Gafi yang masih tertidur. Emang kebiasaannya tidur kembali setelah melaksanakan solat subuh.


"Kak, bangun." Dita mengguncang tubuh Gafi pelan.


"Kenapa, Sayang. Aku masih ngantuk."


"Sepertinya aku mau melahirkan, Kak." Mendengar ucapan Dita, Gafi langsung bangun.


"Apa, Sayang. Mau lahiran. Di mana?"


"Di rumah sakitlah, Kak."


"Maksud aku bukan itu. Aduh ... aku mau ngomong apa sih tadi. Tunggu aku panggil Mama."


Sejak kehamilannya makin membesar, Alya meminta Dita tinggal bersamanya. Dita sebenarnya ingin melahirkan didampingi ibunya, tapi Alya berkata itu kewajiban mertua untuk menjaganya.


Gafi turun dari tempat tidur dengan tergesa menuju pintu. Langkahnya terhenti saat mendengar namanya dipanggil Dita.


"Kak ...," panggil Dita. Gafi membalikkan badannya dan menghampiri istrinya itu.


"Kenapa, Sayang. Udah mau keluar anaknya, ya?" tanya Gafi makin ngawur.


"Kakak ngomong, apa? Masa main keluar aja," jawab Dita.


"Terus aku harus bagaimana? Aku nggak ngerti, makanya aku panggil mama dulu."


"Iya, tapi apa Kak Gafi tak malu memanggil mama seperti itu." Dita menunjuk ke tubuh suaminya itu.


Gafi memandangi tubuhnya. Ternyata ia hanya memakai pakaian dalam aja. Pria itu baru ingat jika ia sebelum solat subuh tadi sempat bermain kudaan dengan Dita. Setelah mandi, ia hanya memakai pakaian dalam dan langsung tidur.


"Aku lupa," ucap Gafi cengengesan. Ia berjalan menuju lemari dan mengambil pakaiannya. Setelah memakai baju barulah Gafi keluar dari kamar.


Gafi yang tadi panik telah selesai memakai semua pakaiannya dan berlari memanggil mamanya yang berada diteras. Alya yang ikut panik menghampiri Dita yang sedang meringis menahan tangis.


"Kamu mau melahirkan?" tanya Mama Alya khawatir. "Tapi ketubannya, belum pecah,"


Mama Alya tampak panik, kemudian dia menghubungi Dokter Zubaidah bahwa dia akan datang kerumah sakit, karena Dita akan segera melahirkan. Tak lupa juga menghubungi kedua orang tua Dita.


Sementara itu Gafi segera menyiapkan mobilnya, setelah itu dia menggendong tubuh Dita ke mobil, disusul oleh Mama Alya yang segera menyuruh putranya itu ke rumah sakit.

__ADS_1


"Kak, sakit," keluh Dita sedikit mengeluarkan air matanya karena dia merasakan sakit di daerah jalur lahirnya.


Gafi sendiri sedikit bingung, bukankah tadi subuh mereka sempat melakukan adegan kuda-kudaan yang menggairahkan, kenapa sekarang tiba-tiba Dita mengalami kontraksi.


"Sabar, Sayang," jawab Gafi mempercepat laju kendaraannya.


"Cepat, Gafi!" teriak Mama Alya mulai khawatir.


Bagaimana tidak, Dita mengalami kontraksi namun air ketuban tak kunjung pecah yang bisa saja menahan jalur bayinya untuk keluar.


Tak lama kemudian, mereka tiba di rumah sakit, Gafi memarkirkan mobilnya asal, dan kembali menggendong Dita dengan keadaan panik masuk ke rumah sakit.


"Dokter! Suster! Istri saya mau melahirkan!" teriak Gafi yang membuat semua orang disana gempar menatap ke arahnya.


Bayangkan saja, ditengah suasana yang damai di pagi hari, tiba-tiba ada seorang pria berstatus suami yang menggendong istrinya dan berteriak kencang memanggil dokter dan suster disana. Untungnya Dokter Zubaidah yang ada disana segera mengetahui keberadaan Gafi dan mamanya.


"Dokter! Istri saya mau melahirkan!"


Dokter Zubaidah mengangguk, kemudian memerintahkan beberapa suster membawa brankar [Ranjang Rumah Sakit] dan segera menaikkan Dita disana, setelahnya Gafi dan Mama Alya menyusul para suster dan Dokter Zubaidah yang membawa Dita ke salah satu ruangan.


Gafi hendak masuk ke ruangan itu sebelum tangannya ditahan oleh Mama Alya yang membuat pria itu menatap Mamanya.


"Mau nemenin istriku," jawab Gafi pada Mama Alya.


Mama menggelengkan kepalanya dan menggenggam erat tangan anaknya itu. "Itu urusan Dokter dan Suster, lagipula kalau kamu ada didalam sana, nanti kamu heboh sendiri. Nanti ketika akan melahirkan baru kamu temani."


"Padahal aku ingin melihat proses kelahiran kedua bayiku," batin Gafi pasrah.


Setelahnya Gafi memilih duduk di kursi tunggu yang ada dikoridor itu bersama dengan Mama, tangannya bergetar, menanti kondisi Dita, ia tidak hentinya memanjatkan doa, agar istrinya diberi kelancaran pada proses melahirkan putra putri mereka.


Hampir cukup lama menunggu, Gafi benar-benar gusar dan memilih berjalan mondar-mandir menanti kepastian akan keadaan istri dan anaknya.


Mama Alya yang melihat Gafi hanya menggeleng maklum, pasalnya ini adalah anak pertamanya. Tak lama kemudian, Dokter Zubaidah keluar dari ruangan bersalin dan menemui Gafi serta Mama Alya dengan wajah serius.


"Istri saya gimana, Dok?" tanya Gafi.


"Hemm, begini pak, Bu Dita mengalami penyumbatan yang menghalangi jalan lahirnya, dikarenakan ketubannya belum juga pecah, padahal ini sudah pembukaan terakhir, kalau begitu saya minta izin akan segera pecahkan saja air ketubannya?" ucap Dokter Zulaidah. Gafi dan Mama Alya terdiam sejenak. Tampak anaknya memikirkan sesuatu.


"Aku tahu!" ujar Gafi pada Mama Alya yang membuat wanita itu menatap ke arah putranya. "Aku pernah membaca kalau melakukan hubungan intim, bisa mempercepat pecahnya air ketuban, apa kita lakukan itu saja?"


"Kamu dapat info darimana?" tanya Mama Alya.

__ADS_1


"Google. Aku pernah tak sengaja membacanya," jawab Gafi dengan wajah tanpa dosa yang membuat Mama Alya mengeplak kepala putranya itu.


"Ah, sakit," keluh Gafi memegangi kepalanya.


"Cara itu memang bisa, tapi enak di kamu, gak enak di Dita, Mama tak setuju. Biar Dokter saja yang pecahkan. Mereka lebih tahu apa yang mesti dilakukan," ucap Mama Alya.


Dokter Zubaidah mengangguk, baru saja dia akan masuk ruangan, tiba-tiba seorang suster berteriak kencang bahwa, Air ketuban Dita sudah pecah, sontak semua yang ada disana mengucap Alhamdulillah.


Reno dan Yuni baru saja sampai. Dia ingin menyaksikan kelahiran cucu pertamanya. Gafi dan Ibu Yuni serta mama Alya masuk ke ruang bersalin.


Gafi menghampiri istrinya, dia memegang tangan istrinya dan berusaha menguatkannya. "Ayo sayang! Kamu bisa!"


Dita menatap Gafi dengan kesakitan yang luar biasa. Dia terus mengejan, berusaha mendorong keluar bayinya, Dokter Zubaidah segera membantu Dita.


Sementara itu Gafi, mama dan ibunya Dita, menguatkan Dita dari segi moril agar dia bisa semakin semangat, dan atas izin Allah, suara bayi itu terdengar menggema seisi ruangan, bayi laki-laki yang membuat Dita bernapas lega karena telah berhasil melahirkannya secara normal.


Sepuluh menit kemudian, dia kembali mencoba mengejan lagi. Akhirnya bayi kedua dengan jenis kelamin perempuan juga berhasil dilahirkan.


Dokter Zubaidah segera menaruh kedua bayi itu di dada Dita untuk mendapatkan asi pertama. Gafi yang melihat itu hanya tersenyum dan menangis haru atas kelahiran kedua anaknya.


"Aku akan berbagi susu, dengan anak-anakku sekarang, selamat tinggal kuda-kudaan." batin Gafi mengusap puncak kepala Dita.


Setelahnya Dokter Zubaidah kembali mengambil kedua bayi Dita untuk dibersihkan dan setelahnya langsung di azankan oleh Gafi.


Kalimat Allah itu terdengar menggema dari bibir Gafi dengan penuh haru dan terasa semua itu hanyalah mimpi, bahwa kini dia menggendong darah dagingnya sendiri, setelah itu Gafi menyerahkan bayinya untuk digendong kepada Mama Alya. Dan yang satu di gendong Ibu Yuni.


Gafi kemudian mencium puncak kepala Dita yang membuat dia mencolek hidungnya pelan. "Jangan nangis, lihat tuh anak kita, semua mirip sama Kakak, aku yang mengandung, aku yang ngidam, aku yang ngelahirin, tapi mukanya mirip Kak Gafi keduanya."


Gafi terkekeh pelan. "Kan aku yang buat."


Dita hanya memalingkan wajahnya, kemudian Gafi kembali menggoda bayinya yang ada di pelukan Mama Alya dan Ibu Yuni. Dita yang melihat itu hanya tersenyum, hati kecilnya terasa telah melepaskan semua rasa lelahnya.


"Aku Dita, tidak pernah berpikir akan jatuh cinta pada sosok Gafi, karena hidupku dulu hanya diisi oleh sesosok pria bernama Axel. Namun, Allah yang membolak balikan hati, membuat aku jatuh cinta pada sosok pria hebat seperti Gafi. Dear, Gafi Jodohku yang terukir di lauhul mahfudznya, skenario kita memang indah, tapi skenario Allah jauh lebih indah dari yang kita rencanakan."


- END -


...----------------...


Selamat sore. Kisah Gafi dan Dita sampai di sini. Semoga semua puas. Maaf jika ada yang tidak berkenan. 🙏🙏


Mama mohon dukungannya untuk novel terbaru mama HIJRAH ITU CINTA. lope-lope sekebon untuk semua pembaca setia novel mama. 😍😍😍💓💓. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2