TAK SEINDAH SURGA S1/S2

TAK SEINDAH SURGA S1/S2
Bab 92. Axel Aydin Khalfani


__ADS_3

Keadaan kesehatan Rachel saat ini sudah semakin membaik, setelah dua hari sadar dari komanya. Kedua kakaknya Farhan telah kembali ke negara tempat mereka tinggal.


Mereka memberi saran agar Rachel dibantu seorang perawat untuk menjaga dan merawat putranya hingga keadaan wanita itu stabil dan makin membaik. Sesuai saran dari kedua kakaknya, Farhan lalu mempekerjakan seorang perawat bernama Zahra.


Zahra akan bekerja membantu Rachel hingga dia telah terbiasa dengan menjaga putranya itu. Dia tidak ingin melewatkan masa pertumbuhan putranya itu jika dibantu seorang perawat terus. Mungkin Zahra hanya membantu hingga putranya berusia dua atau tiga bulan saja.


"Zahra, kalau putraku sudah tidur, kamu bisa mandi dan setelah itu sarapan. Biar aku yang menjaganya."


"Baik, Pak. Sekarang babynya sudah tidur. Saya mau permisi dulu, mau mandi. Setelah itu saya mungkin langsung ke kantin buat sarapan."


"Ya, Zahra. Terima kasih atas bantuannya," ucap Rachel.


"Bu Rachel tidak perlu mengucapkan terima kasih. Itu semua sudah menjadi kewajibanku. Apa ibu mau dibelikan sesuatu dari kantin. Nanti bisa saya belikan sekalian?" tanya Zahra saat akan keluar dari ruangan.


"Sepertinya tidak ada, Zahra. Jika nanti ada yang ingin aku beli, bisa minta tolong Mas Farhan saja yang beli."


"Kalau begitu saya pamit dulu, Bu, Pak. Jika ada butuh sesuatu bisa hubungi saya," ucap Zahra lagi.


Zahra memang selalu mandi di kamar mandi di rumah sakit, bukan di kamar rawat inap Rachel. Mungkin dia segan mandi di kamar mandi yang ada diruang rawat Rachel, karena Farhan yang selalu ada disamping istrinya itu.


"Sayang, setelah kamu keluar dari rumah sakit,kita akan adakan pesta syukuran atas kesembuhanmu dan menyambut kehadiran putra kita. Menurut kamu bagaimana?" tanya Farhan.


"Rencananya mau diadakan dimana, Mas?" Rachel balik bertanya.


"Kita sewa gedung atau hotel saja, apa kamu setuju?"


"Kalau menurut aku jangan di hotel, Mas. Kalau di sana berarti si kecil akan dibawa. Menurutku bagaimana kalau dirumah saja. Tidak usah terlalu mewah. Sekalian Aqiqah putra kita."7


"Kalau menurutmu itu lebih baik, aku ikut saja. Mana yang nyaman bagimu dan putra kita saja," ucap Farhan.


"Bagaimana kalau pagi khusus buat anak yatim, siang hari baru para tamu yang lain. Tapi jangan terlalu banyak sebar undangan, hanya untuk orang terdekat saja, Mas," usul Rachel.


"Aku rasa itu memang lebih baik. Karena putra kita nggak mungkin berlama lama dikerumunan orang. Kamu juga baru pulih. Nanti aku minta bantuan Reno buat mengurusnya," ujar Farhan.


"Mas, aku lihat Kak Reno dan Mbak Yuni makin akrab saja. Apa mereka ada hubungan?"


"Tidak boleh kepo dengan hubungan orang." Canda Farhan dengan mencubit hidung istrinya itu.

__ADS_1


Rachel tertawa menyadari kekeliruannya yang ingin tahu urusan orang lain. Farhan lalu mengecup pipi istrinya yang memerah karena malu.


**


Seminggu telah berlalu, akhirnya Rachel kembali ke rumahnya. Dia tampak sangat senang bisa kembali ke kamarnya. Rachel memandangi setiap sudut kamar seakan telah lama tidak melihatnya.


"Mas, aku senang akhirnya dapat kembali ke kamar ini. Aku merindukan suasana kamar ini."


"Aku juga sangat merindukan suasana kamar ini." Farhan langsung merebahkan diri dikasur empuknya. Selama Rachel dirawat di rumah sakit, dia tidak pernah tidur dengan nyenyak.


Farhan tidur tengkurap dengan memeluk bantal menghadap Rachel. Menatap istrinya dengan penuh cinta.


"Sayang, aku tidak mau kamu hamil lagi, cukup satu putra yang menjadi keturunan kita. Aku tidak mau melihatmu terbaring lemah lagi. Aku sangat takut kehilangan kamu."


"Apa Mas serius dengan ucapannya? Katanya pengin anak yang banyak, biar rumah ramai. Mas juga tidak boleh bicara begitu. Semua yang terjadi denganku adalah kehendak Allah, takdir dari-Nya," ujar Rachel.


"Rumah ini juga akan ramai jika anak-anaknya Kak Nazwa dan Kak Alya berkumpul."


"Semua terserah Mas saja. Asal jangan menyalahkan takdir saja atas apa yang terjadi."


"Terima kasih karena telah mau mengandung buah hati kita dan berjuang ketika melahirkan. Kamu adalah istri terbaik dan mommy terhebat buat putra kita. Aku sudah janji tidak akan melakukan sesuatu yang jelek lagi jika kamu sadar. Aku akan mengulang janjiku, ketika kamu tak sadar kemarin. Mulai hari ini, aku akan menjaga setiap ucapanku. Tidak akan pernah menyinggung kamu lagi. Aku ingin hidup denganmu hingga menua. Tidak akan ada nama wanita lain dihati ini selain kamu seorang."


"Aku juga yakin Mas adalah suami yang sangat baik dan bisa aku banggakan. Mas daddy terhebat buat sikecil. Aku yakin si kecil sangat beruntung dilahirkan dari darah seorang pria seperti kamu, Mas."


Farhan lalu mengecup dahi istrinya itu. Membawa Rachel ke dalam pelukan.


"Sayang, kamu sudah mempersiapkan nama buat putra kita. Siapa nama yang akan kamu beri buatnya?" tanya Farhan.


"Aku sudah mempersiapkan nama buat putra kita. Aku beri dia nama Axel Aydin Khalfani yang artinya Bapak perdamaian yang cerdas dan menjadi pemimpin. Bagaimana Mas, apa kamu setuju?" tanya Rachel lagi.


Pintu kamar mereka diketuk dari luar. Rachel lalu mempersilakan masuk, karena dia tahu pasti Zahra yang membawa putra mereka yang telah mandi. Zahra meletakkan putranya Rachel kepangkuan wanita itu.


"Bu bisa menyusui baby boy. Dia pasti haus," ucap Zahra.


"Zahra mulai hari ini kamu bisa memanggil putraku Axel saja," ujar Rachel.


"Nama nama yang bagus. Cakep seperti wajahnya," puji Zahra.

__ADS_1


Rachel menyusui putranya itu hingga tertidur dengan lelapnya. Farhan tidur disamping Axel sambil memegang pipi gembul putranya itu.


Zahra pamit karena merasa tidak dibutuhkan, dan berpesan agar memanggilnya jika butuh.


"Mas, jangan diganggu. Axel nya baru tidur nanti kebangun lagi," ujar Rachel.


"Sampai usia berapa biasanya bayi menyusui dengan mommynya, Sayang?" tanya Farhan.


"Kalau bisa sih sampai usia dua tahun, tapi jika ASI-nya nggak ada lagi, terpaksa dengan susu formula sepenuhnya." Rachel menerangkan sesuai yang dia tahu.


Putra Rachel saat ini diberi ASI siang hari, hanya pada malam dia diberi susu formula agar Rachel bisa istirahat penuh, itu keputusan yang dibuat Farhan, ketika Rachel bersikeras memberi ASI. Sebenarnya pria itu maunya bayi mereka di beri susu formula sepenuhnya, tapi Rachel tidak setuju. Makanya selama di rawat kemarin ia berusaha memberi ASI sampai bisa.


"Berarti giliran daddy nya lama lagi. Dua tahun lagi baru bisa nyusu dengan mommy-nya!" ucap Farhan dengan suara lirih, tapi masih bisa di dengar Rachel.


"Mas, pikirannya kok mesum saja," ucap Rachel dengan cemberut.


"Bukankah itu hal yang biasa. Siapa bilang mesum? Itu normal, Sayang. Aku juga butuh asupan gizi dari sana," ucap Farhan lagi. Rachel mencubit lengan suaminya itu. Baru dia sadar, jika suaminya itu suka bercanda dan sedikit mesum omongannya. Semua itu semenjak hubungannya dan Farhan membaik.


**


Hari ini tampak keramaian dirumahnya Farhan dan Rachel. Tamu undangan satu persatu mulai berdatangan. Saat ini sedang diadakan aqiqahnya putra Farhan yang pertama yang di beri nama Axel.


Rachel tampak bahagia dengan Axel dipangkuannya. Acara akan segera dimulai dengan pengajian. Setelah pengajian dilanjutkan sholawat.


Saat ini Farhan yang menggendong putranya itu, yang akan di cukur rambutnya. Dimulai dari kedua kakaknya dan keluarga inti lainnya mencukur rambut Axel.


Setelah cukuran selesai acara dilanjutkan dengan ceramah dari salah satu Ustad yang diundang Farhan. Axel diletakkan dalam ayunan. Pria itu dengan balutan busana muslim putih tampak sangat tampan.


Rachel duduk disampingnya, dia juga tak kalah cantik dengan busana muslimnya. Tak ada yang mengira jika wanita itu pernah terjerumus di dunia hitam.


Acara aqiqah selesai hingga sore hari. Semua tamu undangan telah kembali, hanya tinggal keluarga dan sahabat terdekat Farhan saja.


Saat ini Rachel telah masuk kembali ke kamar. Badannya terasa pegal karena seharian melayani tamu undangan. Farhan mengatakan jika yang diundang hanya sedikit, tapi ternyata tamu undangan yang datang tidak seperti bayangan Rachel. Hingga acara berakhir rumah mereka penuh dengan semua tamu yang mendoakan Axel, putra mereka.


Rachel tidak bisa mengatakan apa-apa, selain rasa syukur karena hidupnya yang sekarng jauh lebih baik. Dia tidak pernah bermimpi bisa sampai di titik ini. Kebahagiaannya terasa telah sempurna, memiliki suami yang sangat menyayangi dia dan putra yang sehat serta lucu. Semua Takdir Allah begitu indah terasa.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2