TAK SEINDAH SURGA S1/S2

TAK SEINDAH SURGA S1/S2
Bab 44 S2. Nasehat Ayah


__ADS_3

Reno memeluk bahu putri yang sangat dia sayangi. Mendekapnya ke dalam dada. Mengecup pipinya berulang kali, tanda rasa sayang pada sang putri.


"Ayah bukannya tidak setuju, Nak. Semua kamu yang akan jalani, ayah hanya memberikan nasihat."


"Ayah, aku yakin Kak Gafi pria terbaik untukku," jawab Dita dengan suara sedikit serak, menahan tangis.


"Ayah senang kamu menemukan kebahagiaanmu, Dita. Tapi pernikahan bukanlah hal yang mudah. Ada banyak hal yang harus kamu pertimbangkan sebelum memutuskan untuk menikah," kata ayah Reno dengan serius.


Apa yang baru saja diucapkan ayahnya membuat Dita merasa cemas dan takut. "Apa yang harus aku pertimbangkan, Ayah?"


"Ayah ingin kamu mengingat beberapa hal penting tentang pernikahan. Pertama-tama, peran suami dan istri harus dijaga dengan baik. Mereka harus saling menghormati dan memahami satu sama lain. Pernikahan bukan hanya tentang cinta, Dita. Ada banyak aspek yang harus dijaga agar hubungan tetap harmonis."


"Aku mengerti, Ayah," kata Dita dengan tatapan penuh perhatian.


"Kedua, kau harus siap dengan tanggung jawab yang akan kau hadapi setelah menikah. Kehidupan baru yang kau mulai akan membawa banyak perubahan dan tantangan. Kau harus siap menghadapinya dengan bijak dan berani."


Ayah Reno terus memberikan nasihat pada putrinya tentang pernikahan. Dia berkata, "Selanjutnya, kau harus memilih pasangan yang tepat. Orang yang bisa menjadi pendampingmu seumur hidup, bukan hanya untuk sekedar persahabatan atau kesenangan sementara. Gafi mungkin adalah orang yang tepat untukmu, tapi pastikan bahwa keputusanmu dipilih dengan hati dan logika yang seimbang."


Dita merasa sangat terbantu dengan nasehat ayahnya. "Terima kasih, Ayah. Aku akan selalu mengingat setiap kata yang kau ucapkan."


"Tidak ada yang lebih penting dari hal yang terakhir, Dita. Pastikan kau siap mengikuti pernikahan dengan sepenuh hatimu. Nikahlah bukan hanya untuk bahagia saat ini, tapi juga untuk seluruh hidupmu."

__ADS_1


"Maksud, Ayah apa?" tanya Dita.


"Yang Ayah maksud adalah, kau harus siap untuk mengikuti pernikahan dengan sepenuh hati. Bersedia menghadapi pasanganmu dalam suka maupun duka, dalam kebahagiaan dan kesedihan, dalam kemudahan dan kesulitan."


"Aku tahu, Ayah. Aku siap untuk itu." Dita menjawab dengan pasti.


Ibu Yuni hanya diam mendengarkan. Dia yakin Reno bisa memberikan nasihat yang terbaik bagi sang putri.


"Baiklah. Sekarang kau sudah tahu beberapa hal penting tentang pernikahan. Ingatlah selalu nasehat Ayah dan pastikan kau mengambil keputusan yang terbaik untuk dirimu sendiri." Reno mengatakan dengan penuh penekanan.


"Iya, Ayah. Aku akan selalu mengingat setiap kalimat yang Ayah ucapkan. Terima kasih atas nasihatmu yang berharga, Ayah," ucap Dita dan memeluk tubuh sang ayah dengan erat.


Kedua orang itu terus mengobrol tentang pernikahan dan keluarga sampai larut malam. Dita merasa lega karena telah mendapatkan perhatian dan nasehat dari ayahnya. Dia tahu bahwa meskipun orang tua tidak selalu benar, namun nasihat yang diberikan ayahnya sangat baik dan pantas untuk diikuti.


Setelah ngobrol lama, akhirnya Dita merasa lelah dan ingin tidur. "Sekarang aku harus istirahat, Ayah. Besok aku harus mengatur segalanya untuk lamaran. Gafi akan datang bersama keluarganya."


"Ya, tentu. Tidurlah dengan nyenyak dan pikirkan semuanya secara bijak."


"Baik, Ayah. Selamat malam." kata Dita seraya memeluk ayahnya.


"Selamat malam, anakku. Aku selalu ada jika kau membutuhkanku." ujar ayah Reno sambil memeluk putrinya dengan erat.

__ADS_1


Dita perlahan-lahan masuk ke kamarnya dengan pikiran dan hati yang tenang. Dia tahu bahwa dia telah mendapatkan nasihat yang berharga dari ayahnya dan akan terus mengingatnya selama hidupnya. Dia yakin bahwa pernikahannya dengan Gafi akan berjalan dengan sukses, asalkan dia siap mengikuti nasehat ayahnya dan bersedia menghadapi segala tantangan yang ada di depannya


***


Jam telah menunjukkan pukul lima sore. Axel dan kedua orang tuanya telah sampai di rumah Gafi. Mereka heran melihat kesibukan di rumah itu.


Rachel berjalan memasuki ruang keluarga dengan wajah heran. Melihat beberapa orang yang sibuk membuat hantaran.


"Siapa yang mau menikah, Mbak?" tanya Rachel pada seseorang yang ada di sana.


"Gafi ...," jawab Alya yang muncul dari dapur.


Tadi Alya menghubungi Rachel, memintanya untuk datang sore, mengatakan akan ada acara untuk Gafi. Namun, dia tidak mengatakan jika akan ada lamaran untuk pernikahan.


Farhan dan Axel langsung duduk di sofa, keduanya terlihat terkejut mendengar Gafi yang akan menikah.


"Kak Gafi mau menikah dengan siapa, Mama Alya?" tanya Axel.


Dia bertanya dengan suara sedikit gemetar, berharap apa yang dia pikirkan itu tidak benar. Apakah mungkin Kak Gafi akan menikah dengan Dita? Tanya Axel dalam hatinya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2