TAK SEINDAH SURGA S1/S2

TAK SEINDAH SURGA S1/S2
Bab 65 S2. Akhirnya Sampai


__ADS_3

"Uhm." Gafi menggumam perlahan saat matanya silau oleh cahaya matahari yang menembus kaca mobilnya. Ia mengedarkan pandangannya ke Dita, dan menemukan istrinya masih tertidur pulas di ringkuhannya.


Ia mengambil handphone yang dia letakkan di dashboard depan setelah menurunkan Dita dari ringkuhannya. Ia melirik jam digital di layar handphonenya yang menunjukkan jam delapan siang. Dan matanya kemudian beralih ke pojok kiri atas dimana bar sinyal masih menandakan tidak ada sinyal di sekitar sana.


"Udah bangun?" tanya Dita yang melihat suaminya sudah duduk di jok depan.


"Iya, ini masih ngecek sinyal belum ada juga," jawab Gafi menyemprotkan parfum ke badannya serta cologne ke sekitar tengkuknya yang beraroma berry. Dita merenggangkan badannya, kemudian merapihkan rambut nya lalu menyusul Gafi keluar dari mobil.


"Terus kita ke villa nya bagaimana?" tanya Dita yang sudah berdiri didepan suaminya.


Gafi menatap Dita sesaat. "Berdoa aja, moga ada pengendara yang bisa dimintai bantuan."


Dita hanya mengangguk, sementara Gafi menyapukan cologne yang dia tadi bawa keluar ke tengkuk Dita kemudian memberinya sedikit morning kiss.


"Sarapan dulu yah," tawar Gafi masuk kedalam mobil mengambil dua botol teh kemasan yang Dita beli kemarin.


Suasana disekitar sana walaupun sudah jam delapan pagi sangat dingin dan membuat Dita sedikit mengelus kedua tangannya karena hawa dingin.


"Nih." Gafi menyodorkan botol teh yang langsung diterima Dita.


"Dingin yah?" Gafi menarik Dita ke ringkuhannya sehingga kini istrinya itu tengah dipeluk dari samping sama pria itu


Suara klakson mobil lain mengagetkan Dita dan Gafi yang membuat mereka berdua menolehkan kepalanya ke arah suara tersebut. Ternyata mobil penduduk yang dekat dengan Villa yang orang tuanya Gafi beli. Satu jam orang itu dan Gafi bekerja agar mobil kembali jalan.


Gafi memberikan sejumlah uang untuk pria itu karena telah membantunya. Saat ini mobil telah kembali bisa dijalankan.


"Beruntung ada yang lewat, kalau nggak kita bisa bermalam-malam di sana. Mana jalan mau ke Villa salah. Seharusnya belok kanan di bawa belok kiri. Ya nyasarlah," omel Dita.

__ADS_1


Gafi hanya pasrah melihat istrinya mengomel, karena itu semua memang salahnya. Suara keripik yang dikunyah Dita memecah keheningan diantara mereka. Sesekali istrinya itu mengecek handphonenya yang sudah mendapatkan sinyal, karena mereka sudah tiba di kawasan penduduk, yang sudah pasti akan ada sinyal ditempat itu.


Dita melirik jam digital di sudut atas handphonenya yang menunjukkan pukul dua belas siang.


"Udah deket?" tanya Dita pada Gafi yang fokus menyetir.


"Belok kanan di pertigaan dan kita sampai gak jauh lagi," jawab Gafi sambil memutar radio dari speaker mobilnya.


Akhirnya mereka sampai, pikir Gafi. Dia sengaja membawa Dita ke Villa ini agar istrinya itu aset miliknya, karena ini atas nama Gafi sebagai hadiah ulang tahunnya dan akan dia hadiahkan lagi untuk Dita. Semua nanti di balik nama atas nama istrinya itu. Dia mengelus kepala istrinya gemas sebelum menghentikan mobilnya didepan sebuah Villa yang dicat putih.


Villa tersebut tampak asri dengan pepohonan disekitarnya, dihimpit kebun stroberi disisi kanan dan kiri dan diseberang jalan ada hamparan kebun Nanas.


Jangan tanya itu milik siapa, itu milik warga desa yang di beli tiga tahun lalu. Dan tidak pernah lagi kesini. Hanya seseorang yang oarng tuanya percaya, di minta menjaganya. Jika ada kerusakan mereka hanya mengirim dana. Villa tersebut juga sangat indah dengan perpaduan cat putih dan macha, membuat mata memandang langsung terpesona dibuatnya.


"Ini Villanya?" tanya Dita tidak percaya.


"Iya, gimana? Suka gak?" tanya balik Gafi mengambil koper dari dalam bagasi dan menyusul Dita yang sudah masuk ke halaman.


Gafi tersenyum membalas pelukan istrinya dan mengecup puncak kepala Dita pelan. "Apapun itu untuk kamu."


Dita melepas pelukannya dan berlari ke hamparan tanaman stroberi yang sudah siap panen. Ia menatap dengan mata berbinar buah-buah ranum merah yang siap untuk dipetik. Disaat Dita hendak mengambil buah tersebut, Gafiblangsung memeluknya dari belakang dan menciumi tengkuknya.


"Makan siang dulu yuk, kamu yang masak yah? Bahannya ada di kulkas," pinta Gafi sama Dita.


"Nanti dulu, aku pengen makan ini," tolak Dita menunjuk buah stroberi yang hendak dia petik tadi.


"Aku gak nerima penolakan!"

__ADS_1


Gafi langsung menggendong tubuh Dita dan membawanya masuk ke Villa, sementara istrinya hanya mengalungkan tangannya di leher sang suami dengan posisi gendongan ala bridal style.


"Keras kepala," ujar Dita mencubit pipi Gafi.


"Biarin, aku lapar, dan aku pengen makan," jawab Gafi.


Suara decitan pintu tersebut menggema disaat Gafi membuka pintu Villa dengan kakinya. Mata Dita terpana dengan arsitektur bangunan tersebut, ruangan minimalis dengan nuansa green macha, ada ruangan tv, dapur, ruang keluarga dan kamar tidur di samping dapur.


Sangat minimalis untuk bulan madu yang konsepnya hanya berdua. Sejenak Dita merasa ingin tinggal selamanya di Villa tersebut.


Dita membuka kulkas dan melihat isi kulkas tersebut. Masih segar seperti sudah diisi oleh seseorang yang pasti adalah pengurus Villa itu. Dia mengambil beberapa bahan dan berjalan ke counter dapur untuk mengolahnya. Gafi memeluk Dita dari belakang.


"Jangan pernah menyesal menjadi istri dari pria seperti aku ini, yang banyak kekurangannya. Aku ingin kamu tetap mencintaiku walau roh terpisah dari raga ini," ucap Gafi.


"Aku akan selalu mencintai kamu, Kak. Sekarang dan selamanya," jawab Dita. Gafi lalu mengecup pipi istrinya.


Dita lalu melanjutkan kegiatan memasaknya sementara Gafi memilih untuk duduk di meja makan seperti biasa. Memperhatikan istrinya memasak didapur, merupakan pemandangan yang indah untuk dilihat.


Setelah selesai memasak, Dita menyajikan apa yang dia masak dihadapan Gafi yang langsung dimakan dengan lahap. Hari itu mereka habiskan untuk memetik stroberi dan beristirahat setelah dua hari perjalanan yang melelahkan. Kamar yang mereka tempati pun tak kala indahnya dengan arsitektur ruangan lain dengan perpaduan macha dan putih.


Malam sudah menyapa mereka berdua, Dita tengah duduk memainkan handphonenya dengan berbantal dada suaminya, sementara suaminya dari tadi sudah tertidur karena kelelahan dalam posisi meringkuh. Dia memandangi wajah suaminya yang damai dan tenang ketika tertidur.


"Aku ingin selamanya bisa menatap wajahmu ini. setiap akan memejamkan mata dan membuka mata di pagi hari," gumam Dita pada diri sendiri.


Ia sesekali mengecup kening pria yang telah mengisi bagian dihatinya itu. Pria yang sangat baik yang dititipkan Tuhan untuknya.


Dita merasa perjalanan cintanya penuh dengan lika-liku sebelum akhirnya menemukan kebahagiaan bersama Gafi

__ADS_1


"Semoga kita bisa selamanya menikmati hari bersama putra putri kita, " bisik Dita sebelum memejamkan mata.


...----------------...


__ADS_2