
"Maaf, aku tak ikut campur kali ini. Elfa, aku pinjam Dita. Kalian selesaikan berdua masalah kalian. Aku mau jalan berdua dengan Dita," ucap Gafi.
Gafi lalu menarik tangan Dita agar pergi dari hadapan sepasang kekasih yang sedang marahan itu. Dita mendekati Elfa, untuk pamit.
"El, aku boleh pergi dengan Kak Gafi?" tanya Dita dengan suara lembut. Dia memang gadis yang sangat lembut dalam bertutur sapa.
Lagi-lagi Rio memandangi Dita tanpa kedip. Hal itu makin membuat Elfa marah dan sakit hati. Dia memukul lengan kekasihnya dengan buku yang ada ditangannya.
"Aduh, sakit Elfa," ucap Rio.
"Makanya mata itu di jaga. Jangan jelalatan!" bentak Elfa.
"Elfa, sesuatu keindahan itu diciptakan Tuhan untuk dikagumi dan dinikmati, apa aku salah?" tanya Rio tanpa rasa berdosa dan bersalah. Ucapan Rio itu kembali membuat Elfa marah dan memukul kekasihnya dengan buku secara bertubi-tubi.
"Sebelum terjadi perang dunia ke tiga, aku dan Dita pamit dulu, ya," ucap Gafi. Dia menarik tangan Dita menuju mobil yang terparkir.
"Kak, apa nanti Elfa tidak marah denganku?" tanya Dita saat mobil baru berjalan meninggalkan pekarangan kos pria itu.
"Kenapa Elfa harus marah, justru dia harusnya berterima kasih karena kita memberi mereka waktu berdua," ucap Gafi.
Dita tersenyum menanggapi ucapan Gafi. Dulu mereka tidak pernah mengobrol seakrab ini karena Dita yang tidak mau. Gadis itu hanya mau bicara dengan Axel saja.
"Kamu bosan tak hari ini?" tanya Gafi menyetir mobilnya.
"Banget. Ada ide nggak untuk menghibur diri kita?" jawab Dita.
Gafi sempat berpikir sejenak, sebelum dia berseru, "Ayo kita ke toko buku! Aku butuh novel baru."
Dita mengangguk setuju, "Oke, tapi kalau kita ke toko buku aja, nggak ngebosenin juga, Kak?"
"Betul juga. Gimana kalau kita beli es krim juga?" tawar Gafi.
"Kak Gafi tahu toko es krim yang di Pinggir Jalan itu? Seru kalau kesana," sambung Dita.
Gafi menghentikan mobilnya, "Kita langsung kesana saja."
__ADS_1
"Boleh," jawab Dita.
Gafi lalu memutar mobilnya menuju ke tempat yang mereka rencanakan dan dalam perjalanan mereka berbicara tentang segala macam hal yang menarik perhatian mereka.
Saat mereka sampai di pinggir jalan, toko es krim itu sudah terlihat dari kejauhan. Ada banyak orang yang mengantre, sepertinya es krim di sana enak sekali.
"Kita harus tunggu lama sekali untuk bisa beli es krim," keluh Dita.
"Itu nggak masalah, kita bisa menikmati suasana sambil ngobrol. Selain itu, nanti justru semakin terlihat segar dan enak," jelas Gafi.
Akhirnya, setelah 15 menit mengantre, mereka berhasil memesan es krim mereka.
"Maaf kamu nggak diperbolehkan makan di dalam toko. Kamu harus makan di luar," kata kasirnya.
"Tidak masalah, kita akan menikmati es krim kita di luar," kata Gafi.
Mereka duduk di bangku taman kecil yang terletak dekat toko buku. Sambil menikmati es krim, mereka membicarakan topik-topik yang menarik seperti film atau buku yang baru mereka baca.
"Tumben-tumbennya cuaca hari ini terik banget, seakan-akan minta kita makan es krim," kata Dita.
Dita tersenyum dan berterima kasih, "Terimakasih, Kak, karena sudah mengajakku menghabiskan hari ini. Aku benar-benar menyukainya."
"Tidak ada apa-apa. Aku juga sangat menikmati waktu yang kita habiskan bersama. Setidaknya kita jadi nggak merasa bosan lagi," jawab Gafi.
Dita mengangguk setuju. Setelah menyelesaikan es krim mereka, mereka memutuskan untuk menginjakkan kakinya ke toko buku.
Mereka berjalan mengelilingi toko buku dan akhirnya Gafi menemukan novel yang dia cari. Dita memilih untuk membeli buku tentang kucing, hewan kesukaannya.
"Kamu tidak suka baca Novel?" tanya Gafi melihat buku yang dipilih Dita.
"Aku lebih suka baca novel Online dari ponsel saja," jawab Dita.
"Aku juga suka. Di mana kamu sering baca novel online. Siapa penulis favorit kamu?" tanya Gafi.
"Aku sering baca di aplikasi Noveltoon, Kak. Penulis favorit aku mama reni. Saat ini aku sedang membaca novelnya yang berjudul MENGANDUNG BENIH BURONAN dan KEHORMATAN YANG TERGADAI," jawab Dita dengan antusias.
__ADS_1
"Sama, aku juga suka baca novel karya mama reni," ujar Gafi. Dia berjalan menuju kasir diikuti Dita.
Ketika mereka membayar di kasir, mereka saling memandang dan tersenyum. Dita maju untuk membayar, tapi Gafi melarang. Dia yang ingin membayarkan sekaligus buku yang Dita ambil.
"Kali ini aku yang bayar," ucap Gafi.
"Terima kasih, Kak. Tapi lain kali harus aku yang bayar," ucap Dita. Gafi hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Membeli buku dan makan es krim bersama adalah pengalaman yang menyenangkan. Dita sangat menikmatinya.
"Kapan-kapan kita akan melakukan hal yang serupa ya, Kak?" tanya Dita.
"Kita bisa melakukan ini setiap akhir pekan, jika kamu mau," kata Gafi, sambil mengulurkan tangannya.
"Apa pacar Kak Gafi tidak akan marah jika setiap akhir pekan harus pergi denganku?" tanya Dita.
"Aku masih jomblo, tak ada yang mau," ucap Gafi tertawa.
"Tak ada yang mau atau Kak Gafi yang tidak mau?" tanya Dita lagi.
Gafi tersenyum dan memandangi Dita tanpa kedip, membuat gadis itu salah tingkah dan menunduk.
"Aku orangnya memang sedikit pemilih. Sukanya dengan wanita yang bicara lembut seperti kamu," ucap Gafi
Hal itu membuat Dita semakin malu. Wajahnya menjadi merah seperti tomat. Melihat itu Gafi jadi tersenyum.
...----------------...
Bonus Visual
Dita
Gafi
__ADS_1