
Kedua belah pihak keluarga Gafi dan Dita sedang berkumpul di sebuah resort. Hari ini, ada pemotretan prewedding untuk kedua calon pemgantin. Pasangan yang baru saja tunangan tiga hari lalu itu langsung memesan fotografer yang memang biasa mengurus tentang konsep prewedding seperti kali ini.
Gafi dan Dita sama-sama ingin melakukan foto prewedding di alam bebas. Kebetulan sang fotografer tahu tempat yang menyediakan tempat seperti itu. Seperti contohnya hari ini, keduanya sibuk foto di bawah pohon pinus dan disaksikan oleh keluarga yang sambil duduk-duduk santai di resort yang mereka sewa hanya untuk satu hari ini saja.
Kali ini, foto prewedding Gafi dan Dita hanya mengenakan pakaian putih khaki dan terkesan lebih casual. Tidak sampai berpakaian heboh yang malah membuat calon pengantin jadi kerepotan. Untungnya, semua pihak keluarga setuju dengan pilihan sang gadis mengenai konsep prewedding buat pernikahannya.
"Kalian bisa lebih dekat lagi?" Sang fotografer meminta supaya Dita lebih menempel pada Gafi.
Tanpa Dita sangka, Gafi malah menarik pinggangnya hingga kini mereka benar-benar menempel bagai amplop dan perangko. Sang gadis dibuat blushing karena tindakan yang dilakukan oleh tunangannya itu.
"Biar cepat selesai. Kamu juga capek 'kan foto terus dari tadi?" Gafi memberikan alasan supaya Dita tidak marah. Tapi sebenarnya tanpa sang pria memberikan alasan pun, Dita tidak akan marah kepada Gafi. Dia menganggukkan kepalanya dan kembali melakukan arahan yang diucapkan oleh fotografer mereka.
"Oke, satu kali gaya lagi. Kita selesai!" seru sang fotografer sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah Gafi dan Dita.
Mendengar kalau mereka akan berfoto sekali lagi, Gafi dan Dita sama-sama lega. Akhirnya kegiatan yang melelahkan hari ini akan usai. Namun meski melelahkan, kedua calon pengantin itu sama-sama senang dalam menjalaninya.
"Mereka terlihat sangat serasi ya?" ucap Mama Alya, kepada Ibunya Dita yang ikut menonton prosesi pemotretan anak-anak mereka.
"Iya, cocok banget," sahut Ibu Yuni.
Salah seorang petugas resort datang, dia menyela dan memberi tahu bahwa petugas wedding organizer yang dipesan oleh kedua belah pihak keluarga telah datang. Tentunya, para tetua itu mengiyakan dan meminta petugas resort tadi buat mempersilakan petugas wedding organizer tadi buat masuk ke dalam resort.
__ADS_1
Mamanya Gafi, meminta tolong kepada asisten rumah tangganya buat memberi tahu fotografer yang masih sibuk bersama Gafi dan Dita mengenai kedatangan wedding organizer. Kebetulan, acara pemotretan juga sudah selesai sehingga petugas wedding organizer itu tidak perlu menunggu lama.
Beberapa asisten fotografer tadi membereskan properti yang dipakai untuk pemotretan sementara fotografernya sendiri ikut ke dalam resort karena pihak Gafi dan Dita akan menggunakan jasanya lagi untuk pesta pernikahan mereka nanti.
Gafi dan Dita sama-sama duduk di sofa di dalam resort. Ketua wedding organizer yang memiliki nama besar itu pun turut menyambut kedua calon pengantin. Dia juga berbasa-basi sebentar sebelum masuk ke pembahasan. Semacam memuji ketampanan dan kecantikan Gafi maupun Dita.
"Untuk fotografer dan dokumentasi, nanti kami akan tetap memakai jasa yang sama dengan foto prewedding kami, Mbak." Gafi memberi tahu terlebih dulu supaya pemilik wedding organizer itu tidak menawarkan jasa fotografer lagi kepada mereka.
"Oh begitu? Boleh," sahutnya seraya mengeluarkan booklet mengenai beberapa tema pernikahan. "Ini booklet-nya, silakan dilihat dulu. Mana yang sekiranya calon pengantin atau pihak keluarga suka." Satu buah booklet yang berisikan foto-foto beberapa tema pernikahan sudah dilihat oleh pihak keluarga.
"Untuk tema yang akan kami pilih, kebetulan kami berdua sudah mendiskusikannya bersama-sama. Saya dan calon suami saya mau temanya itu rustic tapi indoor." Dita menyuarakan pendapatnya. "Tapi kami belum membahas ini dengan pihak keluarga. Nanti kalau sekiranya pihak keluarga ada yang tidak setuju atau mau berpendapat tentang tema yang lain, boleh dijadikan masukan dan kami bahas bersama-sama sampai ketemu hasil akhirnya." Dengan lugasnya Dita menjelaskan semuanya, membuat pihak wedding organizer tadi mengangguk paham.
Mamanya Gafi seketika mengerutkan keningnya, "Tema rustic itu yang bagaimana, Dita?" tanyanya sedikit bingung.
Pihak wedding organizer tadi langsung memberikan satu booklet lainnya dengan isian gambar-gambar pelaminan yang bernuansa rustic. "Ini adalah pernikahan dengan tema rustic, Ibu. Dominan dengan warna putih, krem atau warna pastel lainnya. Hiasannya cenderung lebih banyak mengenai tentang ranting pohon, dedaunan, bunga-bunga berwarna putih, pink dan hiasan lampu gantung. Untuk lebih detailnya, Ibu bisa melihat-lihat beberapa gambar yang ada di sini. Semoga membantu."
Mamanya Gafi langsung mengiyakan dan melihat-lihat booklet tersebut. Sedangkan Ibunya Dita, bilang bahwa mereka akan menuruti keinginan putra-putri mereka. Lagi pula, ini adalah pernikahan Gafi dan Dita, bukan pernikahan Ibu Yuni. Sehingga dia paham dan membebaskannya.
"Kalau untuk warna gaunnya bagaimana, Bu?"
Percakapan terus berlanjut. Buat kali ini, Dita bertanya kepada anggota keluarga, mengenai warna yang akan dipakai. Mulanya ibunya Dita ingin didominasi warna brunt orange, tetapi karena gadis itu tidak terlalu suka sehingga keputusan akhirnya nanti mereka akan memakai dua warna untuk bridesmaid. Ada warna hijau emerald dan warna mauve.
__ADS_1
Sementara untuk pengantinnya sendiri, akan memakai empat warna. Ada kebaya yang full putih, lalu lanjut ke warna hijau emerald saat siang, ketika sore akan berganti dengan gaun warna mauve. Lalu saat malam hari, pengantin bakal memakai gaun berwarna silver. Itulah rencana pernikahan yang diinginkan Dita.
Perbincangan mereka mengenai persiapan pernikahan berakhir di sana. Wedding organizer dan fotografer tadi juga sudah pamit. Begitu pula kedua belah pihak keluarga pun pamit karena mereka bilang masih harus mengurus yang lain.
Banyak sekali yang harus mereka persiapkan, mengenai undangan dan katering. Kebetulan, pihak keluarga Gafi dan Dita juga tidak akan memakai jasa katering dari pihak wedding organizer karena mereka sudah memiliki pilihan sendiri.
Saat ini, Dita dan Gafi sedang dalam perjalanan menuju rumah. Mereka baru saja membeli makanan di luar karena merasa lapar dan lelah usai mengadakan foto prewedding. Gadis itu tidak menyangka kalau melakukan persiapan pernikahan itu begitu melelahkan. Dulu Dita pikir, menikah itu tidak capek. Tapi nyatanya juga menguras tenaga.
"Aku turun dulu ya, Kak. Makasih banget udah nganterin aku sampai rumah." Dita memberanikan diri buat mencium pipi Gafi sekilas.
Gafi tersipu malu, dia mengusap-usap pipi kirinya yang barusan dicium oleh Dita.
"Iya, kamu juga langsung mandi terus istirahat, Sayang."
"Hati-hati di jalan, Kak." Dita langsung keluar dari mobil begitu saja. Begitu pula Gafi yang langsung meninggalkan rumah kediaman orang tua Dita.
Dita merebahkan tubuhnya di ranjang empuknya. Rasanya begitu nyaman, dia bahkan bernapas lega karena akhirnya proses hari ini selesai juga.
"Sebentar lagi aku akan menikah dengan Kak Gafi. Semoga hanya maut yang memisahkan kami berdua," gumam Dita seraya tersenyum cantik.
...----------------...
__ADS_1