
Pagi-pagi sebelum mereka berpisah, Rachel menyempatkan diri untuk masak. Mungkin ada baiknya untuk terakhir kali dia memasak buat semua sahabat Farhan itu.
Kemarin Rachel telah meminta penjaga villa untuk membeli bahan yang diperlukan untuk membuat mie goreng seafood. Dia memasak tanpa menggunakan cadar karena menganggap semua masih tidur.
Reno yang ingin ke kamar mandi melihat Rachel sedang berkutat dengan alat dapur mendekatinya. Bukannya Reno ingin mengganggu rumah tangga temannya, dia hanya ingin memastikan siapa Rachel sebenarnya.
"Rachel ...," panggil Reno pelan.
Rachel yang sedang asyik memasak menjadi kaget. Dia langsung menunduk karena sadar tidak menggunakan cadar.
"Apa kamu dulu pernah berjualan kue di sekolah?" tanya Reno.
Rachel menjawab dengan menganggukan kepalanya. Tapi masih saja tetap menunduk. Melihat reaksi dari Rachel, membuat Reno tersenyum bahagia.
"Apa kamu ingat remaja cowok yang suka memberi kamu bekal Makanannya?" tanya Reno lagi untuk memastikan.
Mendengar pertanyaan dari Reno, membuat Rachel kaget hingga tidak sadar mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Reno. Dengan intens dia menatap wajah Reno.
__ADS_1
Banyak pertanyaan yang bersembunyi di kepala Rachel saat ini. Reno tersenyum melihat kebingungan di wajah wanita itu.
"Rachel, apa kamu ingat nama panggilan remaja itu untukmu?" Kembali lagi pertanyaan diberikan Reno.
Lagi dan lagi anggukan kepala yang Rachel lakukan sebagai jawaban atas semua pertanyaan yang Reno ajukan. Senyum semringah Reno berikan saat wanita itu memberikan kode jawaban.
"Beautiful eyes atau lebih tepatnya menyebut kamu dengan si mata indah."
Rasa penasaran Rachel makin menggebu. Dia tidak pernah cerita pada siapapun jika pernah menjual kue demi sesuap nasi untuk menyambung hidup termasuk dengan suaminya Farhan. Saat sulit itu hanya dia simpan sebagai kenangan.
"Dari mana Mas tahu semua itu?" tanya Rachel akhirnya. Dia penasaran sekali dengan semua yang Reno ketahui tentang masa kecilnya itu.
"Kamu tidak ingat denganku, Rachel. Aku Reno Fernando Saputra, yang biasa kamu sapa dengan Kak Nando," ucap Reno dengan antusias.
"Kak Nando ...?" tanya Rachel hampir tak percaya. Kali ini Reno yang menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Kak Nando jauh berubah. Dulu Kakak sedikit gemuk dan kulitnya agak gelap," ucap Rachel. Dia kembali menundukan kepalanya.
__ADS_1
"Sejak kamu tiba-tiba menghilang, aku menjadi kurus memikirkan kamu!" ucap Reno.
"Kak Nando bisa aja. Pasti karena semakin dewasa, makanya merubah penampilan. Tapi aku pangling banget."
"Tapi aku tidak pernah lupa denganmu. Aku masih ingat dengan mata indahmu. Pertama melihatmu, aku langsung tahu itu pasti beautiful eyes-ku," ucap Reno.
"Maaf, Kak. Tapi jangan katakan itu lagi. Nanti bisa salah paham jika ada yang mendengar. Aku saat ini telah menjadi seorang istri. Tidak sendiri lagi. Aku tidak mau semuanya menjadi fitnah. Dan maaf, bukan aku tidak sopan atau lancang, bisakah Kak Nando meninggalkan dapur ini sebelum suamiku melihat kita berdua," ucap Rachel.
Reno menarik napasnya. Dia kembali tersadar atas kenyataan yang ada, jika Rachel bukanlah gadis kecilnya yang dulu lagi. Saat ini dia telah menjadi seorang istri.
"Rachel, ini kartu namaku. Aku harap kamu mau menyimpannya. Jika suatu saat kamu butuh bantuanku, bisa hubungi nomor ponselku," ucap Reno.
"Baik, Kak. Aku juga ingin mengucapkan terima kasih karena dulu kakak sering membantuku. Dengan bekal yang sering kakak berikan itu, bisa mengganjal perutku seharian. Aku dulu belum sempat mengucapkan terima kasih karena saat itu harus segera pindah dari kontrakan. Aku tidak bisa membayarnya. Aku mencari kontrakan di pinggir kota agar lebih murah," ucap Rachel.
"Sekali lagi, jangan lupa simpan kartu namaku. Jika membutuhkan bantuan, jangan sungkan menghubungi. Aku pamit," ucap Reno.
Dia berjalan cepat menuju kamarnya, karena mendengar suara pintu kamar yang dibuka.
__ADS_1
...****************...