
Nazwa mendekati Alya. Dia sangat tahu karakter adiknya itu. Alya akan bicara apa adanya saat tidak memyukai seseorang.
"Alya, ini rumah sakit. Kasihan Rachel. Bukankah dia di rawat untuk dapat suasana tenang," ucap Nazwa.
Alya menatap Kak Nazwa dengan wajah memelas, seolah meminta maaf. Baik Alya ataupun Farhan begitu menghormati dan menghargai kakak tertua mereka itu.
"Biarkan aku bicara, Kak," pinta Alya. Dia lalu mendekati Rachel. Farhan hanya bisa diam. Dengan Alya, pria itu tidak berani membantah.
"Rachel, maaf jika kakak mengganggu istirahat kamu. Kak Alya harus bicara dengan Andin," ucap Alya. Rachel menjawab dengan senyuman sambil menganggukkan kepalanya.
Mia sudah berdiri di samping Andin. Dia memang teman yang paling membela Andin. Saat melihat Alya mendekati Andin, Mia langsung menggenggam tangan sahabatnya itu, ingin mengatakan jika dia tidak sendiri.
"Katakan dengan jujur, Andin. Apa maksud kamu mendekati Farhan lagi?" tanya Alya.
"Maaf, Kak. Apa salah jika kami ingin menjalin siraturahmi?" tanya Mia.
Alya tampak tersenyum miring saat Mia yang menjawab pertanyaan darinya. Andin hanya diam saja.
__ADS_1
"Maaf juga, aku tidak bertanya denganmu. Menjalin siraturahmi itu boleh saja. Asal jangan ada maksud tertentu di balik itu," ucap Alya.
"Kak Alya jangan takut, aku tidak ada maksud apapun pada Farhan. Seperti kata Mia, kami hanya ingin menjalin siraturahmi. Jika aku mau menggoda Farhan, itu bukan hal sulit. Kak Alya pasti tahu gimana perasaan Farhan padaku. Aku juga datang bukan sendiri tapi dengan teman lainnya. Jadi jangan kuatir. Aku tahu posisiku," ujar Andin.
"Syukurlah jika ku sadar dengan posisi kelian saat ini. Farhan dan kamu telah memiliki keluarga masing-masing. Jangan ada menyimpan perasaan dulu lagi. Aku rasa Farhan juga telah melupakan perasaannya padamu. Ingat Andin, tidak ada pertemanan murni antara laki-laki dan perempuan. Pasti salah satunya menyimpan perasaan. Aku harap kamu dan juga kamu Farhan, bisa menjaga perasaan pasangan kalian. Jangan mengingat kisah lama lagi," ujar Alya.
Setelah mengucapkan itu Alya berjalan mendekati ranjang Rachel. Menatap ke arah Farhan. Pria itu hanya menunduk sambil memainkan jari istrinya. Dia takut Alya juga lama memarahinya.
"Kamu juga Farhan, ingatlah jika kamu telah memiliki perasaan. Tolong jaga perasaan istrimu. Jangan pernah berteman dengan wanita manapun. Cukup satu teman wanitamu, itu istrimu." ucap Alya.
Farhan hanya menganggukkan kepalanya. Andin mendekati temannya. Mengajak mereka pergi meninggalkan rumah sakit ini. Dia tidak ingin lama-lama berada di dekat Alya.
"Maaf semuanya, kami harus pamit. Rachel, Farhan, selamat ya. Semoga lancar dan sehat hingga lahiran," ucap Dodi.
Semua teman wanita Farhan ikut berdiri, termasuk Andin. Mereka menyalami Kak Nazwa, Kak Alya dan juga Rachel.
Saat mereka ingin melangkah, terdengar suara pintu diketuk, dan setelah itu tampak seorang pria masuk dengan membawa keranjang buah di tangan kanan dan tangan kiri menggandeng tangan seorang putri kecil.
__ADS_1
"Ma ... ma," panggil putri kecil itu.
"Gracia ...," ucap Andin kaget.
Ternyata yang datang Alex dan putrinya Grecia. Yang membuat Andin kaget, bukan saja karena kehadiran Alex saja, tapi karena Grecia yang datang bersama pria itu.
Bukankah putrinya tadi dipenitipan anak. Kenapa bisa bersama Alex? Tanya Andin dalam hatinya.
Gracia berlari mendekati Andin. Dengan langkah yang masih terseok. Maklum saja, putrinya itu baru bisa berjalan. Andin menggendong putrinya. Pandangan mata Alex begitu tajam pada Andin, seolah ingin menelan wanita itu hidup-hidup.
Alex menyalami Farhan dan memberikan keranjang buah. Semua mata diruangan itu tertuju pada pria itu. Mereka baru pertama kali melihatnya, dan dapat menyimpulkan jika dia adalah suami Andin.
Yang tidak kalah kaget, adalah Rachel. Dia pernah mendengar jika pria itu memiliki istri, dan tidak menyangka jika itu Andin, mantan kekasih suaminya.
"Ternyata kamu di sini. Lebih enak mengumpul dengan teman dari pada menjaga purrimu. Kau tega menitipkan dia hanya untuk bersenang-senang," ucap Alex dengan penuh penekanan.
Andin hanya menunduk dengan memeluk putrinya. Dia tidak berani menatap wajah pria itu.
__ADS_1
...----------------...