TAK SEINDAH SURGA S1/S2

TAK SEINDAH SURGA S1/S2
Bab 59 S2. Mengulang Lagi


__ADS_3

Begitu masuk ke kamar, Gafi langsung menggendong tubuh Dita dan menghempaskan dengan pelan ke atas tempat tidur. Dia lalu ikutan naik, dan memeluk tubuh istrinya erat, mengecup seluruh bagian di wajah wanita itu.


"Sayang pakai banget deh sama nih wanita. Entah pelet apa yang diberikan, pengennya dekat terus dan mencium pipinya setiap detik," ucap Gafi sambil terus mengecup pipi Dita.


"Pelet cinta," jawab Dita dan membalas memeluk suaminya.


Gafi memiringkan tubuhnya, menatap wajah sang istri tanpa kedip. Seakan tidak pernah mau lepas dari wajah itu.


"Kakak, kalau memandangku kok lama banget?" tanya Dita dengan wajah memerah karena malu.


"Entahlah, aku tidak pernah puas jika memandang wajahmu. Aku takut tidak bisa memandang wajah kamu seperti ini lagi," ucap Gafi.


"Kakak ngomong apa? Aku akan tetap berada di samping Kak Gafi, sampai maut yang memisahkan kita,"


"Seandainya suatu hari aku pergi meninggalkan kamu, apa kamu masih ingat denganku?" tanya Gafi.


Dita mendorong tubuh Gafi agar berbaring, dia lalu menenggelamkan kepalanya di dada sang suami.


"Aku tak suka Kak Gafi bicara begitu. Tidak ada yang bisa memisahkan kita kecuali Tuhan. Namun, mulai detik ini aku akan merayu Tuhan di setiap sujudku agar mempersatukan kita selamanya," jawab Dita dan memeluk erat tubuh suaminya.

__ADS_1


Gafi mengusap rambut istrinya itu. Rasa sayang dan cintanya setiap hari makin bertambah. Dia tahu, tidak boleh mencintai sesuatu melebihi cinta pada Allah, tapi dia susah untuk mengurangi rasa sayangnya itu. Gafi teramat sayang pada Dita.


"Mungkin tak ada sebuah kata yang mampu mengungkapkan, betapa bahagianya aku saat ini, saat bersamamu. Untuk pertama kalinya, aku tak perlu mencoba untuk bahagia. Karena saat bersamamu, hal itu terjadi begitu saja. Rasanya aku ingin menjelma seperti badut hanya untuk membuatmu tertawa dan bahagia, tanpa harus ada tangis di balik kepura-puraan.Kamu tahu Dita, di atas langit masih ada langit. Di bawah langit masih ada aku yang tulus mencintaimu," ucap Gafi.


Dita makin menenggelamkan kepalanya ke dada bidang sang suami. Dia menjadi candu menghirup wangi tubuh pria itu.


"Banyak orang yang selalu bertanya, mengapa aku harus atau aku bisa mencintai kamu? Jawabannya sederhana saja. Karena aku menemukan diriku yang utuh setiap bersama kamu, Kak," ucap Dita.


Gafi mengecup kepala istrinya. Setiap helaan napas selalu berdoa semoga tetap bersama selamanya.


"Aku ingin hubungan kita di dunia ini berakhir bahagia, jika kita harus berpisah pun kuharap bukan karena orang ketiga atau adanya perbedaan. Tapi aku ingin kita berpisah ketika aku tak bisa berdiri dan tak sanggup bernapas lagi untukmu. Ucapan terima kasih tak cukup untuk kuucapkan, karena kamu lebih berharga dari apapun, Kak. Kamu adalah sahabat dan kekasihku, dan aku tidak tahu sisi mana darimu yang paling aku nikmati. Aku menghargai setiap sisi, sama seperti aku telah menghargai hidup kita bersama," ucap Dita lagi.


Gafi mengecup dahi istrinya lama. Memeluk pinggang Dita agar makin merapat dengannya.


"Sedikit ...,"jawab Dita pelan karena malu.


"Kita coba lagi, ya? Biar terbiasa. Kalau sudah sering, sakitnya akan hilang dan akan tinggal nikmatnya saja. Kamu nanti yang pengin terus," ucap Gafi menggoda sang istri.


Dita mencubit lengan suaminya itu. Dia menganggukan kepala tanda setuju. Setelah mendapatkan jawaban dari sang istri, Gafi langsung berdiri dan membuka seluruh pakaiannya.

__ADS_1


Dalam keadaan polos dia menaiki tubuh Dita dan mencumbu istrinya. Dia melakukan pemanasan hingga merasa Dita siap untuk dimasuki.


Gafi mulai mencoba memasuki inti dari tubuh Dita. Masih cukup sulit bagi pria itu memasukinya, mungkin karena ini baru masih beberapa kali mereka melakukannya. Dia mengulang beberapa kali, saat baru masuk sedikit, terdengar suara Dita sedikit mengerang kesakitan.


"Masih sakit, Kak," bisik Dita. Air mata keluar dari sudut matanya. Gafi mengecup mata Dita yang berair.


"Tahan sebentar, tidak akan sesakit pertama dan kemarin," ucap Gafi, dia mengecup bibir Dita dan melu*ma*tnya untuk mengalihkan rasa sakit yang dirasakan istrinya. .


Gafi telah berhasil memasuki inti tubuh wanita dibawahnya. Dia lalu menggerakan tubuhnya perlahan. Pria itu tidak mau Dita menjadi trauma. Sehingga melakukan dengan pelan.


Setelah kedua sampai pada puncak kenikmatan, Gafi menjatuhkan tubuhnya ke samping. Dia lalu mengecup dahi istrinya dengan lembut.


"Terima kasih, Sayang. Semoga benih yang aku tanamkan segera menjadi buah hati kita. Kamu siap 'kan menjadi ibu muda?" tanya Gafi.


Dita kembali menjawab dengan hanya menganggukkan kepalanya. Dia memeluk suaminya. Tubuh mereka berdempet tanpa ada penghalang.


"Sebentar lagi kita mandi. Bareng aja, ya?" tanya Gafi.


"Asal jangan Kakak minta lagi," jawab Dita pelan.

__ADS_1


Gafi tertawa mendengar ucapan istrinya. Dia mengacak rambut Dita dengan penuh kasih sayang.


...----------------...


__ADS_2