
Pagi-pagi Gafi telah berada di depan pintu kamar kos Dita. Dia ingin mengajak gadis itu ke mal dan membelikan baju untuk di pakai wisuda nanti.
Gafi mengetuk pintu, beberapa kali mengetuk, barulah pintu terbuka. Dita melihat dengan mata yang masih terpejam, mungkin baru bangun tidur. Terlihat dari pakaiannya yang kusut. Sepertinya nyawa gadis itu belum terkumpul sepenuhnya.
Gafi yang gemas melihat Dita dengan wajah bantalnya itu, membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Dia mengacak rambutnya dan mengecup pucuk kepala Dita.
"Kita sarapan di luar, dan setelah itu ke mal mencari baju untukmu," ucap Gafi.
"Pagi benar, Kak!"
Dita yang berada dalam dekapan dada Gafi, menengadahkan kepalanya sehingga bibirnya mencium dagu Gafi. Pria itu lalu kembali memeluk Dita. Dia takut kalau Dita terus menengadahkan kepala, bisa khilaf dan mengecup bibirnya.
"Mandi sana! Kakak tunggu di sini," ucap Gafi. Dia mendorong pelan tubuh gadis itu agar masuk kembali.
Dita mengucek matanya dan menganggukan kepala. Gafi memang selalu memperlakukan dia semanis itu. Elfa saja mengira mereka pacaran.
Setelah mandi dan rapi, Dita menghampiri kembali Gafi. Pria itu sedang memainkan ponselnya.
"Sudah cantik aja," ucap Gafi.
"Kita mau kemana, Kak?" tanya Dita.
"Katanya kamu belum ada baju buat di pakai wisuda Kakak nanti?" Gafi balik bertanya.
Dita mengangguk. "Iya. Kenapa, Kak?" tanya Dita pula.
"Kalau begitu, ayo kita cari baju buat kamu sambil jalan-jalan. Sekaligus mau beli hadiah juga untukmu," ucap Gafi.
Dita tersenyum. "Serius, Kak? Ide yang bagus! Aku sudah bingung mau membeli baju yang bagaimana. Terima kasih, Kak Gafi," kata Dita bersemangat.
Setelah sarapan, mereka berdua kemudian pergi ke salah satu mal besar yang ada di kota mereka. Sepanjang perjalanan, Gafi terus menanyakan ke Dita mengenai pilihan baju yang terbaik menurutnya.
__ADS_1
"Menurut Kak Gafi, apa yang cocok untuk aku pakai saat wisuda kakak nanti?" tanya Dita.
Gafi memandangi Dita dengan seksama sejenak sebelum menjawab, "Aku pikir warna biru atau putih bakal cocok banget untukmu, karena itu juga favoritmu bukan?"
Dita mengangguk. "Iya, itu benar, Kak," jawabnya sambil tersenyum.
Ketika mereka tiba di mal, mereka mencari seluruh toko baju yang ada di sana, dan berusaha untuk menemukan baju yang sesuai dengan selera Dita. Mereka berdua selalu membicarakan tentang desain baju dan memilih potongan baju yang tepat.
"Bagus banget ya ini, Kak Gafi?" kata Dita sambil menunjukkan baju yang dia temukan.
Gafi mengangguk dan tersenyum. "Iya, warnanya pas dengan kamu, Dita," katanya.
Dengan antusiasme, mereka memilih baju-baju yang disukai Dita dan mencoba satu per satu, kadang-kadang ada yang terlalu kecil atau terlalu besar. Namun, pada akhirnya, mereka berhasil menemukan baju yang cocok untuk Dita.
"Percayalah, kamu terlihat cantik banget pakai baju ini," kata Gafi sambil memperhatikan Dita yang mengenakan baju tersebut.
Dita tersenyum kecil dan berterimakasih. "Terima kasih banyak ya, Kak Gafi. Aku sangat senang," kata Dita sambil memamerkan baju barunya.
"Kak Gafi, perutku sudah lapar. Apa kita makan siang dulu baru lanjutkan jalan-jalannya?" tanya Dita.
"Baiklah, mari kita cari restoran yang enak di sini," kata Gafi menyambut ajakan Dita.
Mereka akhirnya menemukan restoran dan memesan hidangan yang sangat lezat. Selama makan, mereka terus menikmati hidangan dan berbicara banyak.
"Sekarang kalau kita ingin pergi ke tempat lain, ke mana kita akan pergi?" tanya Dita.
"Apa kamu tidak ingin mencoba toko-toko pernak-pernik terlebih dahulu?" kata Gafi.
Dita setuju dan mereka pun keluar dari restoran dan menuju ke toko-toko kecil di mal tersebut. Dita sangat senang melihat keindahan dari barang-barang yang ditawarkan oleh toko-toko tersebut. Dia terus memilih benda-benda kecil yang menarik perhatiannya.
"Sudah cukup mengeluarkan uang," kata Gafi sambil tersenyum ke Dita.
__ADS_1
Gafi bertanya, karena gadis itu banyak membeli barang-barang dan dia tidak mengizinkan Gafi membayarnya.
Dita tertawa. "Iya, mungkin Kak Gafi benar," katanya sambil memamerkan hadiah barunya.
Mereka pun akhirnya keluar dari mal dengan hati yang senang setelah seharian mencari baju dan berbelanja bersama. Sepanjang perjalanan pulang, mereka banyak membicarakan tentang momen-momen yang sudah mereka lewati.
"Aku masih ingin jalan-jalan lagi, Kak," kata Dita dengan sangat antusias.
"Tenang, mungkin lain kali kita akan mencoba pergi ke tempat lain," jawab Gafi.
Dita tersenyum. "Terima kasih telah mengajak aku hari ini,Kak. Aku sangat senang," kata Dita berterima kasih ke Gafi.
"Aku juga senang melihat kamu seriang ini, Dita," kata Gafi sambil tersenyum ke Dita.
Mereka akhirnya sampai di kos, tetapi Dita masih merasa begitu gembira dari hari yang melelahkan ini. Dia merasa sangat beruntung bahwa dia mempunyai teman seperti Gafi yang akan selalu membantunya dalam segala situasi.
"Terima kasih, Kak. Selama dua tahun ini selalu mengisi hariku. Aku merasa hariku berwarna sejak aku dekat dengan Kak Gafi," ucap Dita saat Gafi mengantarnya pulang.
"Aku juga senang bisa dekat denganmu, Dita. Aku akan lebih senang jika kita bisa lebih dekat lagi," ucap Gafi.
"Maksud Kak Gafi?" tanya Dita.
"Aku ingin mengenal kamu lebih dekat lagi, bukan hanya sebagai teman, sahabat atau kakak saja," ucap Gafi.
"Kak, aku ...."
Gafi segera menutup mulut Dita. Melarangnya melanjutkan ucapannya.
"Jangan jawab sekarang. Nanti akan bisa merusak acara Wisuda minggu depan. Kamu bisa menjawab setelah itu," ujar Gafi.
Dita menganggukan kepalanya tanda setuju.
__ADS_1
...----------------...