
Malam itu, Gafi mengajak Dita untuk bersantai di tepi pantai dan menyaksikan indahnya langit malam yang penuh dengan bintang. Dita yang awalnya enggan, akhirnya tergoda dengan ajakan Gafi itu dan setuju untuk pergi bersama.
Gafi tidak jadi mengantarnya pulang, dia justru membawa gadis itu ke pantai. Menghabiskan malam berdua.
Sesampainya di tepi pantai, mereka mematikan mesin mobil dan menuntun langkah mereka ke tepi pantai. Pasir pantai yang hangat menempel di kulit kaki Dita, membuatnya merasa nyaman dan santai.
Dita duduk di dekat Gafi sambil memandang langit malam yang begitu memesona. Lalu, Gafi memulai pembicaraan tentang bintang dan dunia luar angkasa yang cukup menarik. Dita yang awalnya tidak begitu tertarik, akhirnya menjadi engrossed dengan cerita Gafi.
Gafi bercerita tentang berbagai macam bintang dan planet, seperti Ursa Major dan Andromeda yang bisa dilihat dengan jelas di langit malam. Dia juga bercerita tentang galaksi dalam dunia luar angkasa dan warna-warnanya yang indah. Lama-kelamaan, mereka saling bertukar cerita tentang kehidupan dan mimpi-mimpi mereka.
"Dita, apa pendapat kamu tentang mereka yang nikah muda?" tanya Gafi.
"Jika keduanya telah siap, kenapa tidak? Lebih baik menikah muda, biar nanti anak sudah besar, kita masih sehat," jawab Dita.
"Bulan depan usia kamu sudah 20 tahun dan aku 23 tahun, apa menurut kamu kita masih muda?" tanya Gafi lagi.
"Kedewasaan bukan hanya tentang usia; ini tentang tanggung jawab dan pengalaman.Usia hanyalah angka. Sikapmu yang menentukan seberapa muda atau tua perasaanmu. Jadi, pertahankan pola pikir positif," jawab Dita.
"Ini yang membuat aku jatuh cinta padamu, sikapmu yang begitu dewasa dan bisa menerima semua ujian dengan sabar." Gafi membawa Dita ke dalam pelukannya. Mereka berdua duduk di pasir.
__ADS_1
"Aku tidak bisa berjanji untuk menjadi yang terbaik. Tapi aku berjanji akan selalu mendampingi dirimu. Aku ingin kau tahu bahwa aku selalu menitipkan harapan ke dalam beribu rintik hujan dalam diam. Aku ingin hari-hari depanku bersamamu. Aku mencintaimu, dan aku akan mencintaimu sampai mati. Jika ada kehidupan setelah itu, aku akan mencintaimu lagi."
Dita terkejut namun tersenyum. Dia nampak sangat bahagia mendengar kata-kata Gafi itu. Dia merasa seperti langit malam yang penuh dengan bintang-bintang di atas kepala mereka.
Gafi meraih tangan Dita dan mereka saling berpelukan. Mereka melihat langit malam yang indah bersama-sama sebelum akhirnya kembali pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, mereka saling berpelukan dan Gafi memberikan ciuman yang hangat di dahi gadis itu. Dita merasa bahwa ia telah menemukan seseorang yang benar-benar layak untuk dicintainya, seseorang yang mengerti dirinya dan membuatnya merasa istimewa.
Malam itu di tepi pantai akan selalu dikenang oleh Dita dan Gafi sepanjang hidup mereka. Itu adalah malam yang membuka pintu jalan cerita baru dalam hidup mereka. Malam yang sarat dengan keindahan dan harapan akan masa depan yang lebih baik.
***
Gafi juga akan menyusul ke Jakarta satu minggu lagi. Dia akan membantu sang Papa memimpin perusahaan. Pria itu akan belajar sebelum akhirnya perusahaan itu akan jatuh ke tangannya.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Gafi, saat mereka telah berada di dalam mobil.
"Sudah, Kak!" jawab Dita.
Gafi melirik ke arah gadis itu, sambil tetap fokus kejalanan. Dita merasa ada yang aneh dengan tatapan pria itu.
__ADS_1
"Kenapa Kakak melirikku seperti itu?"
"Kamu tidak bohong'kan? Kamu sarapan apa tadi?" tanya Gafi.
Dita mencubit lengan kekasihnya itu. Jadi pria itu berpikir jika dia berbohong. Dia memang sering sarapan dengan Gafi di kantin, tapi dia juga tidak berbohong jika telah sarapan.
"Buat apa aku bohong. Tadi aku telah sarapan dengan segelas susu, dan selembar roti yang Kakak beli kemarin," jawab Dita.
Isi kulkas Dita selalu di isi dengan makanan, dan itu semuanya Gafi yang beli. Pria itu selalu membelikan makanan ringan untuk cemilan Dita. Dia telah sering menolak, tapi tetap saja dibelikan.
Gafi walau masih kuliah memiliki penghasilan dari penjualan Online-nya. Uangnya tidak hanya dari orang tua.
Setengah jam perjalanan, mereka berdua sampai di hotel tempat seluruh keluarga Gafi menginap. Semua telah berkumpul di lobi termasuk Axel dan Lisa.
Satu persatu disalami Dita, hingga sampai pada giliran Axel. Pria itu menggenggam erat tangan Dita. Sepertinya enggan melepaskan.
"Aku minta maaf atas semua hal buruk yang terjadi di masa lalu. Kamu adalah orang yang sangat istimewa bagiku dan aku merasa kehilanganmu. Aku akan menjadi lebih baik mulai sekarang. Aku janji. Aku rindu obrolan denganmu. Maafkan aku. Tolong berikan kesempatan sekali lagi. Aku ingat seperti apa kita bertahun-tahun yang lalu. Kita sahabat yang begitu dekat. Aku merindukan hari-hari itu. Aku tahu, apa pun yang terjadi persahabatan kita tidak akan pernah hilang selamanya.Jika aku bisa melakukan apa saja untuk mengubahnya, aku akan melakukannya. Sayangnya aku tidak bisa. Maafkan aku, aku sangat merindukanmu setiap hari. Merindukan saat seperti dulu lagi," ucap Axel.
Semua keluarga terutama Lisa dan Gafi hanya bisa terdiam melihat kedua orang itu. Tampak sekali rasa penyesalan dari wajah Axel. Sepertinya dia memang tulus meminta maaf.
__ADS_1
...----------------...