TAK SEINDAH SURGA S1/S2

TAK SEINDAH SURGA S1/S2
Bab 31 S2. Apakah Kamu, Dita?


__ADS_3

Dita berjalan tanpa pedulikan Axel yang bicara dengannya. Axel membalikan tubuh memandangi kepergian Dita tanpa kedip. Lisa yang melihat itu, mencubit lengan pria itu.


"Matanya bisa di jaga, nggak?" tanya Lisa dengan cemberut.


"Maaf, aku merasa mengenalnya. Tapi itu tidak mungkin. Suaranya juga sama," ucap Axel dengan lirih.


"Siapa ...? Dita? Kepala kamu itu selalu diisi oleh gadis itu, makanya semua cewek dikatakan mirip. Apa kamu tidak melihat jika gadis tadi tanpa kaca mata. Wajahnya bersih berseri. Berbeda jauh dari Dita mu itu. Pakai kaca mata tebal dan kulit kusam," ujar Lisa.


"Jika Dita seperti tadi, kamu pasti lebih memilih dia dari aku, betul'kan?" tanya Lisa lagi.


Axel tidak menjawab pertanyaan sang kekasih. Kakinya melangkah menuju aula. Semua keluarga akan berkumpul di depan gedung sebelum masuk.


Mata Axel kembali bertemu dengan Dita. Dia melihat gadis itu yang sedang menelepon. Rupanya dia belum juga menyadari siapa dia.


Semua keluarga Gafi telah datang dan berkumpul tidak jauh dari Dita berdiri. Gadis itu belum menyadarinya. Pandangannya masih lurus ke depan mencari keberadaan Gafi.


Saat melihat Gafi yang berjalan mendekatinya, Dita tersenyum. Axel yang memperhatikan semua itu jadi terkejut. Begitu juga Lisa. Mereka makin terkejut saat melihat Gafi memeluk sang gadis.


"Ternyata gadis itu pacarnya, Gafi. Kamu lihat sendiri'kan. Jaga mata kamu, jangan sampai Gafi marah karena kekasihnya kamu tatap sebegitu dalamnya," ucap Lisa. Dia sebenarnya kesal karena mata Axel yang memandangi Dita tanpa kedip. Pria itu lalu mengalihkan pandangannya. Dia berkumpul dengan keluarga lainnya.


"Axel, kamu melihat Gafi?" tanya Mama Alya.


"Itu lagi bersama kekasihnya," jawab Axel, menunjuk ke arah Gafi dan Dita yang sedang berjalan ke arah mereka.


Tangan Dita yang mengapit di lengan Gafi membuat keluarga melihat tanpa kedip. Termasuk Rachel. Dia menatap keduanya dengan intens. Saat keduanya telah dekat, Rachel berjalan maju mendekati sang gadis.

__ADS_1


"Dita ...? Kamu Dita 'kan?" tanya Rachel lagi untuk memastikan. Mama Alya dan Axel kaget saat Rachel menyebut nama Dita. Semua jadi menatap gadis itu tanpa kedip.


"Mama Rachel, apa kabar?" ucap Dita. Dia langsung memeluk wanita itu. Air matanya tumpah membasahi pipi.


Dua tahun sudah dia menahan rindu untuk tidak bertemu dan menghubungi Rachel. Rasa rindu itu telah memuncak. Alya mendekati keduanya dan ikut memeluk Dita. Ketiganya saling berpelukan.


"Sayang, mama kangen," ucap Rachel dengan air mata berlinang.


Walau bagaimana pun perubahan gadis itu, rasa dalam hatinya tidak bisa dibohongi. Ada ikatan yang membuat dia langsung mengenalnya. Rasa sayangnya memberikan petunjuk, jika yang ada di depannya saat ini adalah gadis yang dari bayi selalu bersamanya.


Cukup lama ketiganya saling berpelukan. Hingga Dita melepaskan pelukan kedua wanita itu.


"Kamu cantik banget, Sayang," ucap Alya dan mengecup kedua pipi gadis itu.


Gafi mendekati Dita, dan menggenggam tangan gadis itu. Mata Axel memandanginya tanpa kedip. Apa lagi saat Dita membalas genggaman tangan pria itu.


"Jangan di buat riasan wajah gadisku luntur karena menangis. Nanti dilanjutkan acara kangennya. Sekarang kita masuk, acara akan segera di mulai," ucap Gafi.


Rachel tetap menatap tanpa kedip ke arah gadis itu. Mungkin masih tidak percaya dengan penglihatannya. Rachel datang hanya bertiga dengan Axel dan Lisa. Farhan tidak sempat karena mengurus bisnisnya di luar kota.


Alya tampak tersenyum dan bahagia. Dia juga menggenggam tangan suaminya masuk ke gedung.


Melihat Rachel yang hanya berjalan sendirian, Dita melepaskan genggaman tangan Gafi dan memeluk lengan Rachel. Dia memang sangat menyayangi wanita itu.


"Mama jalan bareng aku saja. Papa Farhan mana?" tanya Dita.

__ADS_1


"Papa masih di luar kota mengurus bisnis," jawab Rachel.


"Dita, kamu dan keluargaku duduk di sana saja ya. Aku harus gabung dengan teman lainnya," ucap Gafi.


"Iya, Kak. Semangat ...!" ucap Dita dengan cerianya. Hal itu mampu menarik perhatian keluarga lainnya. Dita yang dulu terkenal pemalu, dalam dua tahun telah berubah. Dia juga tampak percaya diri.


"Iya ..." ucap Gafi. Dia mencubit hidung gadis itu pelan. Setelah itu memeluknya. Hal itu tambah membuat keluarga yang lain heran. Gafi tidak seakrab itu dulu dengan Dita.


Dita mengikuti langkah Alya dan suaminya. Mereka duduk berdekatan. Di sebelah kiri Dita duduk Rachel. Alya dan suaminya di depan gadis itu. Tanpa di duga, Axel memilih duduk di samping kanan Dita.


"Apa kabar, Dita?" tanya Gafi begitu mereka semua telah duduk di tempat.


"Alhamdulillah baik," jawab Dita datar.


"Kenapa kamu tadi pura-pura tidak mengenalku?" tanya Axel.


"Bukan aku yang tidak mengenalmu, tapi kamu yang tidak mengenalku," ucap Dita.


Lisa yang mendengar percakapan keduanya, tampak cemberut. Dia lalu mencubit lengan pria itu.


"Jangan berisik, acara akan di mulai!" ucap Lisa dengan ketus.


Axel terdiam mendengar ucapan Lisa yang ketus. Perhatiannya kembali ke depan di mana Gafi sedang menerima ijazahnya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2