
Farhan masih terduduk dilantai ketika kedua kakaknya datang. Mereka datang hanya berdua. Suaminya di hotel, untuk menjaga anak mereka.
"Farhan ...," ucap Kak Alya memegang bahu adik bungsunya itu.
Melihat kedatangan kakak Nazwa dan Alya, Farhan langsung memeluk salah satunya. Menangis dalam dekapan kakaknya itu.
"Kak, Rachel akan selamat 'kan? Rachel tidak akan meninggalkan aku 'kan? Rachel akan sehatkan, Kak. Dia dan bayiku akan baik-baik saja 'kan?" Banyak pertanyaan yang Farhan ajukan pada kedua kakaknya itu.
"Fathan ...." Kakak Nazwa mengajak adiknya itu berdiri dan duduk di kursi ruang tunggu.
"Kamu jangan rapuh begini. Kakak Alya juga ketika melahirkan operasi, lihat dia selamat dan sehat. Kamu seharusnya mendoakan yang terbaik buat Rachel bukannya putus asa begini," ucap Nazwa menasehati adiknya itu.
"Kak, aku pernah menyaksikan Arnetta istrinya Rendi yang keluar dari ruang operasi itu dengan tidak bernyawa. Aku tak mau Rachel mengalaminy," ucap Farhan dengan terisak.
Kak Alya mendekati adiknya. Dia lalu memeluk Farhan, adiknya itu terisak menahan tangisnya.
"Rachel pasti kuat, dia akan melahirkan dengan selamat. Kakak yakin dia pasti berjuang, karena tahu ada pria yang begitu mencintainya menanti di sini," ucap Alya berusaha menenangkan adiknya.
"Aoakah Kak Alya yakin?" tanya Farhan dengan memeluk pinggang Kak Alya yang berdiri dihadapannya.
"Ya, cintamu yang sangat tulus dan besar untuknya membuat ia akan tetap bertahan. Yakinlah itu, Dek!"
Farhan memeluk kakaknya dan membenamkan kepalanya diperut Alya. Wanita itu lalu mengusap kepala adiknya.
"Ya Allah, aku percaya dengan takdirmu. Ya Allah, selamatkan Rachel dan bayinya, karena aku tak tahu apa yang akan terjadi dengan adikku jika Rachel dan bayinya meninggalkan dunia ini. Aku tahu Farhan sangat mencintai Rachel. Aku percaya takdirmu pasti yag terbaik." Doa Ayla dalam hatinya.
Farhan duduk dengan gelisah menunggu Dokter keluar dari ruang operasi. Setelah satu jam bidan keluar dengan membawa bayi mungil.
__ADS_1
"Suaminya Ibu Rachel, ada?" tanya bidan yang membantu Dokter kandungan.
"Saya suaminya ...," jawab Farhan langsung berdiri menghampiri bidan itu.
"Selamat, Pak. Bapak telah mendapatkan seorang putra, karena dia lahir prematur, kami akan membawanya ke ruang bayi untuk dimasukan ke inkubator. Bapak bisa ikuti kami biar sekalian mengadzani putranya," ucqp Bidan itu dengan ramah.
"Bagaimana keadaan ibunya?" tanya Farhan masih cemas.
"Ibunya masih ditangani Dokter. Operasinya belum selesai."
"Kak, aku akan mengadzani bayiku dulu. Kakak tunggu di sini, jangan kemana-mana! Kabari aku segera jika Rqchel telah selesai dioperasi," ujar Farhan.
Farhan mengikuti langkah Bidan itu menuju ruang NICU. Bayinya dimasukan ke inkubator. Pria itu mendekati telinga bayinya dan mengadzani. Dia memegang tangan mungil bayinya dari lubang inkubator.
Setelah itu Farhan keluar menuju ruang operasi. Kakaknya mengatakan jika Rachel belum selesai dioperasi. Farhan melihat perawat dan Dokter sibuk silih berganti masuk ke ruang operasi. Hal itu makin membuat Farhan cemas.
"Berdoalah semua baik baik saja," ujar Kak Nazwa.
Sebenarnya tadi mereka sudah mendengar dari salah satu Dokter jika Rachel mengalami pendarahan dan membutuhkan banyak darah. Beruntung darah Rachel bukanlah jenis darah yang langka dan rumah sakit memiliki banyak stok golongan darah itu.
Mereka sengaja tidak mengatakan itu pada Farhan, agar adiknya itu tidak cemas. Kedua Kakak Farhan itu tahu jika saat ini saja adiknya itu sudah sangat cemas.
Dokter keluar dari ruang operasi. Farhan langsung menghampiri. Tidak sabar menanti kabar istrinya itu.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya? Tidak terjadi sesuatu pada istri saya 'kan, Dok?" tanya Farhan begitu berada dihadapan Dokter. Dokter itu tampak menarik napasnya sebelum menjawab pertanyaan Farhan.
"Istri Bapak tadi mengalami pendarahan yang hebat. Dan membutuhkan beberapa tabung darah. Syukurlah semua dapat dia lalui, saat ini keadaannya sudah stabil. Tapi istri Bapak akan tetap mendapatkan perawatan intensif."
__ADS_1
"Apa, Dok? Aku mohon lakukan apa pun itu Dokter. Saya tidak peduli berapa besar biayanya, yang terpenting istri saya selamat. Saya mohon selamatkan istri saya, Dok." Farhan memohon.
"Kami pasti akan melakukan yang terbaik buat istri Bapak. Saat ini istri Bapak akan dibawa ke ruang ICU." Farhan menyetujui apa pun yang Dokter itu katakan.
Tidak lama tampak Perawat dan Bidan yang mendorong tempat tidur Rachel. Farhan langsung mendekatinya.
"Sayang, kamu harus kuat. Bertahanlah demi aku dan anak kita," bisik Farhan ditelinga Rachel sambil mendorongnya menuju ruang ICU.
Farhan dan kedua kakaknya, melihat Rachel dari balik kaca ruang ICU. Dokter sedang memasang beberapa alat ditubuh wanita itu.
Air mata Farhan terus saja mengalir melihat Rachel yang terbaring tak berdaya. Tubuh pria itu terasa lemah. Dia akhirnya terjatuh dan terduduk dilantai.
Kak Nazwa lalu berjongkok dihadapan Farhan dan membawa kepala adik bungsunya itu kedalam pelukan. Tangis Farhan akhirnya pecah dipelukan kakaknya. Kak Alya yang melihatnya tak dapat juga menahan tangisnya.
"Kak, Rachel akan segera sadar 'kan? Rachel tak akan meninggalkan aku 'kan, Kak?"
"Iya, Dek. Kamu nggak boleh begini. Kamu harus semangat agar Rachel juga semangat berjuang buat kesembuhannya. Percayalah dengan takdir Allah pasti yang terbaik."
"Kak, aku belum siap kehilangan Rachel."
"Rqchel, pasti sembuh. Kamu harus yakin itu. Jangan putus asa. Bukankah Dokter tadi mengatakan jika istrimu itu telah melewati masa kritisnya. Hanya saat ini dia butuh istirahat. Dia hanya tidur," ucap Kak Nazwa mencoba menghibur adiknya.
Setelah satu jam , Dokter mengizinkan Farhan masuk sebentar buat melihat keadaan istrinya. Pria itu masuk setelah mengganti pakaiannya dengan yang steril.Dia duduk di samping tempat tidur Rachel dan memegang jari istrinya.
"Sayang, kamu saat ini hanya tidur dan istirahat 'kan? Kamu hanya capek. Kamu tidak akan pergikan. Aku menyayangi kamu . Aku menunggu saat kamu sadar dan kita akan menjaga bayi kita bersama. Dia juga sangat membutuhkan kamu, Sayang. Aku janji, setelah kamu bangun, apapun yang akan kamu mau dan inginkan akan aku lakukan. Kamu mau apa? Kamu katakan saja. Kita liburan? Kita akan pergi liburan bertiga dengan putra kita. Sayang, jangan lama lama tidurnya. Aku akan menunggu saat kamu membuka mata. Kamu adalah jiwaku. Jika kamu sakit, aku akan lebih sakit lagi. Bangun, Sayang! Lihatlah aku ada disini. Aku akan menunggu di luar ya. Ingat janjimu, kamu akan hidup sampai tua bersamaku dan anak kita.Ingat itu, Sayang. I love you more," bisik Farhan.
Farhan mengecup tangan istrinya dan juga wajah Rachel. Setelah itu dia keluar. Tangisnya kembali pecah. Tadi pria itu tidak ingin mengeluarkan air mata agar Rachel juga kuat.
__ADS_1
...----------------...