
Sudah tiga hari mereka menghabiskan waktu bulan madu di villa. Setiap harinya kegiatan hanya di isi dengan jalan-jalan sekitar villa. Lebih banyak menghabiskan waktu di kamar, maklum pengantin baru.
Hari ini terakhir liburan mereka. Gafi ingin menghabiskan waktu ke pasar tradisional terdekat.
Mereka akan mendatangi pasar tradisional yang terkenal dengan cendramatanya. Jarak antara villa dan pasar tersebut lumayan dekat sehingga Gafi memilih untuk mengendarai motor saja yang ia pinjam dari pengurus Villanya.
"Nih, Pakai Sayang." Gafi menyodorkan helm kepada Dita yang langsung dipakai istrinya itu.
"Kalau rambutku berantakan, tanggung jawab yah," jawab Dita naik ke atas motor yang dimana Gafi sudah sedia dari tadi.
"Pegangan!" pinta Gafi mengambil tangan Dita untuk memeluk erat tubuhnya. Mengeratkan pegangannya yang lebih mengarah ke pelukan di perut Gafi yang dibalut kaos serta jas kulit yang sedikit tebal.
"Kak, pelan-pelan aja yah." Dita lalu menyandarkan kepalanya dibahu Gafi.
"Iya, Sayang," jawab Gafi mengurangi kecepatan motornya.
Tak lama di perjalanan yang menghabiskan waktu lima belas menit, Gafi dan Dita akhirnya sampai di pasar tradisional yang cukup ramai oleh pedagang makanan, produk kesehatan, kosmetik dan juga cenderamata yang mau mereka cari.
Gafi turun dari motor menggandeng Dita yang berjalan di sampingnya, mereka memasuki area pasar yang penuh oleh lalu lalang orang berbelanja.
"Kak, pengen itu." Dita menarik tangan Gafi ke arah stand yang menjual aneka gantungan kunci. "Lucu banget."
"Kamu mau?" tanya Gafi melihat Dita mengambil sebuah gantungan kunci couple dengan bentuk buah pisang.
"Pengen, kita ambil dua yah? Yang couple nanti aku jadi in gantungan kunci buat di motor aku dan di mobil Kakak, walaupun motor aku dirumah jarang di pake sih," ucap Dita memperlihatkan gantungan kunci yang dia pilih.
"Okey. Pak, bungkus yang itu yah," pinta Gafi kepada bapak penjual tersebut. Bapak penjual tersebut langsung membungkus gantungan kunci yang mereka beli dengan harga sepuluh ribu satu gantungan.
Setelah selesai berkeliling di pasar tersebut dan merasa apa yang mereka ingin beli sudah ada semua, Gafi dan Dita segera kembali ke parkiran dan melanjutkan perjalanan ke villa.
"Kak, Lapar." Dita kembali menyandarkan kepalanya di punggung Gafi.
Gafi yang melihat istrinya kelaparan segera menghentikan motornya di warung pecel pinggir jalan. Ini pertama kalinya mereka berdua makan di tempat seperti ini, tapi ini juga bisa jadi satu pengalaman yang bagus.
"Makan pecel aja?" tanya Gafi pada Dita.
"Boleh, aku suka," jawab Dita.
"Aku juga suka. Ini makanan favoritku," ucap Gafi.
"Enak aja, ini tuh makanan kesukaan aku tau," jawab Dita turun dari motor.
__ADS_1
Sesampainya didalam sana mereka segera memesan menu pecel ayam untuk mereka berdua. Didalam warung tersebut cukup ramai dengan pengunjung, tapi untungnya masih banyak meja senggang di warung yang terlihat minimalis tersebut.
"Habis ini mau kemana lagi?" tanya Gafi pada Dita.
"Mau pulang aja, capek keliling pasar," jawab Dita.
Mendengar jawaban istrinya Gafi hanya mengangguk-nganggukkan kepalanya hingga tak lama kemudian pesanan mereka berdua sudah datang. Dita yang sudah lapar segera memakan makanannya sedangkan Gafi tampak sibuk dengan handphonenya.
"Kak?"
"Hmm?"
"Makan dulu, main hpnya nanti aja," ucap Dita meraih handphone Gafi dan menaruh di tas yang ia bawa.
"Iya, Sayang." Gafi mengambil sendok dan mencicipi makanan yang ada didepannya.
"Enak?" tanya Dita yang membuat Gafi menoleh ke arahnya.
"Lumayan," jawab Gafi kembali menyuap makanannya.
"Kak belepotan ih." Dita mengambil tissu dan mengelap pinggir bibir Gafi yang penuh dengan bumbu kacang.
Gafi yang mendapat perlakuan seperti itu langsung menyosor bibir istrinya yang terpaut jarak dekat dengan wajahnya. Pengunjung warung yang melihat itu hanya terdiam dan menatap pasangan suami istri tersebut.
"Gatau tempat banget," bisik Dita menginjak kaki Gafi.
"Lagian kenapa kamu godain aku?" tanya Gafi sedikit meringis karena kakinya diinjak.
"Siapa juga yang godain, geer banget." Dita kembali menyuap makanannya dan membelakangi Gafi karena kesal.
"Sini lihat aku.” Gafi membalikkan tubuh Dita agar melihat wajahnya. Pria itu segera menangkup wajah istrinya dan menatap dalam mata istrinya itu.
"Maafin, aku ya?"
"Gak."
"Loh kok?"
"Nanti pasti diulang lagi."
"Janji gak."
__ADS_1
"Yaudah kalau gitu, Aku maaf in," jawab Dita tersenyum kepada Gafi.
Gafi membalas senyuman istrinya. Kemudian melanjutkan melahap makanan mereka, setelah selesai makan dan membayar, mereka melanjutkan perjalanan mereka di Villa.
Suasana yang adem, membuat Dita dan Gafi tidak gerah walaupun sinar matahari siang itu sangat cerah. Sesampainya di Villa, jam sudah menunjukkan pukul dua siang, yang berarti hampir empat jam mereka di pasar itu.
Gafi membantu Dita menenteng belanjaannya masuk kedalam Villa, setelahnya dia memilih mengembalikan motor yang mereka pinjam kepada pengurus Villa.
"Aku mau berenang dulu, mau ikut gak?" tanya Gafi yang sekarang sedang bertelanjang dada dan hanya menggunakan speedo untuk berenang.
"Gak ah, Kakak jahil," tolak Dita sibuk mengutak atik handphonenya.
"Janji gak jahil lagi, yuk temenin aku saja! Kamu duduk aja di pinggir kolam, biar aku yang berenang." Gafi berjalan mendekati Dita dan mengambil ponsel yang sedang dimainkan istrinya.
"Iya." Dita berjalan berdampingan dengan suaminya di kolam berenang.
Dita mengambil tempat di kursi malas samping kolam, sedangkan Gafi langsung menyeburkan dirinya di kolam sehingga terdengar cipratan air. Cukup lama ia berenang, dan memilih naik ke atas kolam untuk mengeringkan tubuhnya.
"Nih handuknya." Dita menyodorkan handuk kepada suaminya yang langsung di ambil pria itu.
"Makasih, Sayang," jawab Gafi memakai handuk tersebut.
Dita mengangguk hendak meninggalkan Gafi, sebelum pria itu menarik tangannya dan mencium bibir istrinya itu. Gafi meraih tengkuk istrinya dan mendorongnya pelan agar ciuman mereka semakin dalam. Dita tidak menolak hal ini, karena dia tahu sifat suaminya memang begitu.
Akhirnya mereka hanya menghabiskan waktu dengan ciuman yang berlanjut ke urusan ranjang sebelum pulang besok harinya.
**
Pagi-pagi setelah sarapan Dita dan Gafi meninggalkan Villa. Suaminya sudah harus bekerja dan Dita kembali kuliah.
"Kak, yakin jika mobil ini sudah bagus?" tanya Dita. Dia takut setelah peristiwa mogok tempo hari.
"Kan sudah aku bereskan semua dengan penjaga villa kemarin," jawab Gafi.
"Kakak yakin jika dia memang tahu mesin?" tanya Dita lagi.
Gafi hanya menjawab dengan menganggukan kepala. Dia mulai menjalankan mobil meninggalkan villa.
Ketika tiba dijalanan yang menanjak, tampak wajah Gafi sedikit pucat. Dita yang melihat menjadi ikut panik.
"Kak ada apa?" tanya Dita
__ADS_1
Belum sempat Gafi menjawab, tiba-tiba dari arah berlawanan ada truk yang melaju kencang. Gafi langsung memeluk tubuh Dita. Tabrakan tidak bisa dihindari.
...----------------...