TAK SEINDAH SURGA S1/S2

TAK SEINDAH SURGA S1/S2
Bab 72 S2. Kedatangan Syifa


__ADS_3

Dita menangis terisak. Dengan berlinang air mata, Dita menundukan kepalanya. Bahunya tampak berguncang dengan dada yang naik turun menahan sebak di dada.


Yuni dan Reno telah kembali, dia telah tahu dari Rachel jika Dita sedang melihat suaminya. Axel masih berdiri di samping kursi roda wanita itu.


Yuni berlutut agar menyamakan tingginya dengan Dita yang duduk di kursi roda. Dia menggenggam tangan sang putri yang salah satunya masih terpasang infus.


"Sayang, menangislah. Keluarkan semua sedih yang kamu rasakan. Jangan malu," ucap Yuni.


"Bu, kenapa bukan aku saja yang berada di posisi Kak Gafi?" tanya Dita di sela tangisnya.


"Jika kamu yang mengalami itu, apa kamu pikir Gafi juga tidak akan sedih, Sayang," ujar Yuni dengan lembut.


"Semua terjadi karena Kak Gafi yang ingin melindungi aku," jawab Dita.


"Sayang, jangan menyalahkan dirimu. Semua ini karena takdir. Sekarang kamu harus lebih sehat dan kuat agar bisa menjaga Gafi nanti. Buktikan pada Gafi jika pengorbanannya tidak sia-sia," ucap Yuni lagi.


Setelah pamit dengan kedua orang tua Gafi, Dita kembali ke kamar rawatnya. Axel masih setia. mendorongnya. Di kamar pria itu juga yang menggendong Dita ke atas ranjang.

__ADS_1


"Aku mau keluar sebentar, apa kamu ingin aku belikan sesuatu?" tanya Axel.


"Aku tidak mau apa-apa, Xel. Aku hanya ingin Kak Gafi sehat kembali," jawab Dita.


"Kak Gafi pasti sembuh lagi. Sekarang kamu makan. Pulihkan kesehatan. Aku beli brownies ya?" tanya Axel lagi.


Akhirnya Dita hanya bisa menganggukan kepalanya tanda setuju. Axel mengacak rambut wanita itu dengan lembut.


"Tante, aku pamit dulu. Jika ada yang perlu dibelikan, telepon aja aku segera," ucap Axel.


"Terima kasih, Xel. Hati-hati di jalan," jawab Ibu Yuni.


"Aku tidak tahu kenapa Tuhan memilihku sebagai salah satu manusia yang hidup ditakdir yang keras ini. Entah dari sisi mana Tuhan melihat ketangguhan dan kemampuanku untuk melewati semua ini. Setiap malam harus menangis karena kasihan pada diri sendiri. Setiap hari harus berpura-pura terlihat baik-baik saja. Dihadapan semua orang harus menahan rasa mengeluh, rasa hancur, rasa ingin marah, semua ku tahan sendirian. Bagaimana Tuhan bisa berikan ujian seberat ini padaku yang lemah? Bagaimana Tuhan bisa percaya aku mampu, sedangkan diriku sendiri ragu? Aku benar-benar sampai di titik pasrah, pintaku pun pada Tuhan tidak banyak, sekiranya memang ini sudah jalanku, kuatkan aku pada apa yang telah menjadi takdirku ini."


Setelah cukup lama menangis akhirnya Dita tertidur. Dia terbangun saat merasakan seseorang menggenggam tangannya erat. Dita mengira itu Gafi. Dia langsung membuka matanya.


"Kak Gafi," ucap Dita. Saat matanya terbuka yang dilihat bukannya Gafi, tapi sahabatnya Syifa. Tangis Dita pecah melihat sahabatnya. Yuni duduk di sofa, agak sedikit menjauh. Dia sengaja membiarkan Dita dan Syifa. Agar putrinya itu lebih bisa terbuka dan berbagi kesedihan dengan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Syifa, Kak Gafi ... Kak Gafi pasti sembuh'kan? Aku tidak bisa membayangkan jika harus kehilangan dia saat ini," ujar Dita dengan suara serak karena menahan tangis.


"Dita, kamu percaya takdir'kan. Jika Kak Gafi itu memang takdir kamu, dia akan sembuh dan kembali padamu. Sehebat apa pun kecelakaan yang dialaminya, dia akan segera sembuh jika dia memang ditakdirkan untuk mendampingi kamu. Jadi tugasku saat ini hanya berdoa. Berharap semua baik-baik saja."


"Kenapa Allah memberikan cobaan seberat ini padaku, Syifa? Rasanya aku tidak sanggup menanggungnya," jawab Dita.


"Kamu sanggup. Aku yakin kamu sanggup. Allah juga yakin kamu bisa memikul semua ini, karena Allah tidak akan menguji hamba Nya di luar batas kemampuannya. Kamu adalah orang yang terpilih. Allah memberikan kamu cobaan ini karena yakin kamu sanggup menanggungnya. Di balik semua kejadian ini, pasti ada hikmahnya. Baik kejadian baik atau buruk, pasti ada hikmah yang dapat kita jadikan pelajaran," jawab Syifa dengan lembut.


Dita menganggukan kepalanya sebagai tanda setuju dengan ucapan Syifa. Dia memandangi sahabatnya itu dengan intens.


"Dari mana kamu tahu aku di rawat. Ibu tidak memiliki nomor ponselmu. Siapa yang mengabari?" tanya Dita.


Syifa terdiam mendengar pertanyaan sahabatnya itu. Dia menarik napas dalam. Lalu berusaha tersenyum sebelum menjawab. Tampak sekali jika gadis itu sangat sulit untuk menjawab.


"Dari Axel," jawab Syifa pelan, tapi masih dapat di dengar Dita.


"Axel ...? Dari mana Axel tahu nomor telepon kamu? Sejak kapan kalian berdua akrab?" tanya Dita bertubi-tubi. Syifa menggaruk kepalanya yang tdiak gatal mendengar pertanyaan yang banyak daei sahabatnya itu.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2