TAK SEINDAH SURGA S1/S2

TAK SEINDAH SURGA S1/S2
Bab 58. Rachel, Bukan Saingan Berat


__ADS_3

Farhan meminta istrinya untuk mandi agar lebih segar. Sementara itu dia menunggu di luar. Di ruang tamu masih ada para sahabatnya kecuali Reno. Pria itu baru menyadarinya.


"Reno tidak ikut?" tanya Farhan.


Andin dan kedua teman wanitanya yang lain saling pandang. Mereka sengaja tidak mengabari Reno. Masih tersinggung dengan ucapan pria itu.


"Kami mau cepat datang setelah mendengar kabar meninggalnya kedua orang tuamu. Jadi tidak sempat mengabari Reno," ucap Andin.


Yuni dan Mia menganggukan kepala tanda membenarkan ucapan wanita itu. Andin yang bersemangat saat mengetahui kedua orang tua Farhan telah tiada. Dia bahkan menitipkan Grecia dengan kenalannya dan menjanjikan memberi sejumlah uang. Andin tidak ingin direpotkan jika harus membawa anaknya.


Setengah jam berbincang-bincang, barulah Rachel keluar dari kamar. Melihat istrinya, Farhan langsung berdiri dan mengajak duduk di samping dirinya.


"Kamu pasti belum makan, aku ambilkan nasi ya?" tanya Farhan dengan lembut, seperti bertanya dengan anaknya. Usia Farhan dan Rachel memang terpaut cukup jauh, sekitar 6 tahun lebih.


"Aku nggak lapar, Mas," jawab Rachel.


"Makan dikit aja. Aku suapin. Tidak ada penolakan!" ucap Farhan. Dia berdiri untuk mengambil satu kotak nasi.


"Eh, kalian juga belum makan 'kan. Ambil sendiri sana. Makan sekalian," ajak Farhan.


"Biar aku aja yang ambilkan. Kalian duduk saja," ucap Andin.

__ADS_1


Dia mengambil lima kotak nasi. Masing-masing untuk Yuni, Mia, Dodi, dirinya dan juga Farhan.


"Ini untukmu. Kamu juga harus makan. Jangan istrimu saja," ujar Andin. Dia menyodorkan satu kotak nasi. Rachel hanya diam tidak peduli sama sekali. Dia memang masih belum membuka hatinya lagi untuk Farhan. Jadi tidak ada rasa cemburu atas apa yang mantan kekasih suaminya itu lakukan.


"Seharusnya kamu tidak perlu repot mengambilkan untukku. Ini sudah cukup untuk aku dan Rachel," ucap Farhan. Dia kembali menyuapi Rachel.


Ketiga sahabat wanita Farhan, mencuri pandang ke arah keduanya. Terutama Andin. Dia terlihat sangat cemburu.


"Halangan terbesarku untuk mendapatkan Farhan lagi telah tiada. Jika kedua orang tuanya masih hidup akan sangat sulit untuk aku masuk kekehidupan Farhan lagi. Saat ini hanya satu istrinya saja yang menjadi penghalang. Bagiku Rachel bukanlah saingan berat. Aku tahu di hati Farhan masih terukir namaku, jadi hal yang gampang membuat dia jatuh cinta lagi," ucap Andin dalam hatinya.


Baru beberapa sendok Farhan menyuapi makanan ke mulut istrinya, wanita itu telah menolaknya. Belum ada selera makan. Cobaan yang datang silih berganti, membuat Rachel kehilangan selera makannya.


"Baru beberapa suap saja," ucap Farhan.


"Aku nggak selera makan. Dari pada muntah kalau dipaksakan," ucap Rachel.


Farhan lalu mengambil tisu dan memasukan tangannya ke cadar istrinya. Membersihkan bibir wanita itu. Dia tersenyum pada Rachel saat sengaja menyentuh bibir wanita itu dengan jarinya. Menggoda agar wanita itu tersenyum.


Farhan lalu menghabiskan sisa makanan itu. Andin terus saja memandang dengan wajah masam. Selama mereka pacaran, Farhan tidak pernah mau makan sisa darinya. Dengan Rachel dia langsung melahapnya tanpa ada rasa jijik.


"Kalian menginap di mana?" tanya Farhan setelah menyantap habis makanannya.

__ADS_1


"Di hotel dekat ke jalan raya sana. Mau ke pasar. Jauh dari sini," ucap Andin. Dia berharap Farhan akan menawarkan menginap di rumahnya saja.


"Hotel A?" tanya Farhan lagi.


"Ya, hanya itu hotel yang terdekat dari rumahmu ini," ucap Dodi.


"Itu tidak begitu jauh. Hanya 10 kilo dari sini," ucap Farhan. Kembali wajah Andin tampak cemberut.


Saat tadi mengetahui tidak ada Rachel, Andin telah berencana untuk mendekati pria itu lagi dengan pura-pura simpati atas meninggalnya kedua orang tua Farhan.


"Mas, aku mau istirahat. Aku masuk kamar dulu," ucap Farhan.


"Tunggu sebentar lagi. Teman-temanku juga akan kembali ke hotel untuk istirahat," ucapnya.


Dodi yang mengerti atas pengusiran secara tidak langsung dari Farhan, lalu berdiri.


"Sebaiknya kita pulang lagi. Farhan dan istrinya pasti ingin istirahat," ucap Dodi. Farhan menanggapi dengan senyuman.


Dodi lalu mengajak keempat temannya untuk meninggalkan rumah kediaman orang tua Farhan. Di antara keempat teman Farhan, tampak Andin yang paling tidak rela untuk pergi dari rumah itu. Saat bersalaman dengan Rachel, wajah cemberut Andin tidak bisa disembunyikan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2