TAK SEINDAH SURGA S1/S2

TAK SEINDAH SURGA S1/S2
Bab 95. Hidup Terus Berjalan


__ADS_3

Andin mengusap keringatnya yang bercucuran. Setiap akhir pekan kafe tempat dia bekerja selalu ramai pengunjung. Dia merasakan lelah yang teramat sangat.


Baru saja dia beristirahat telah di minta melayani tamu lagi. Dengan terpaksa Andin kembali berdiri. Tanpa dia sadari air mata keluar dari sudut matanya.


Andin teringat saat dia mengatakan pada ayah angkatnya jika Grecia mungkin darah dagingnya, pria itu tidak terkejut dan tidak mau tahu.


"Jika Grecia memang darah dagingku, memangnya kamu mau apa? Mau menuntut uang biaya kebutuhannya?" tanya Antoni, ayah angkat Andin.


"Aku bukan hanya ingin biaya. Yang terutama ingin pengakuan jika Grecia memiliki ayah. Bukan anak yang tidak tahu asal usulnya. Hanya itu saja."


"Semua orang juga tahu jika anakmu itu ayahnya Alex. Kenapa kau masih butuh pengakuanku. Lagi pula aku tidak yakin jika anak itu darah dagingku. Dia itu pasti anak dari banyak pria. Bersyukur aku yang merenggut keperawanan kamu, dari pada pria jalanan yang sering melayani kamu!" Antonio bicara tanpa beban.


Ucapan ayah angkatnya yang menuduh Andin sering tidur dengan pria jalanan membuat dia marah dan merasa terhina. Andin lalu berdiri dan melayangkan tamparan di pipi ayahnya itu. Bertepatan dengan ibunya yang baru datang dari pasar. Wanita itu kaget melihat suaminya ditampar. Ibu angkat Andin itu heran dan kaget. Dia mendekati kedua orang itu.


"Ada apa ini Andin? Kenapa kau menampar pipi ayahmu?" tanya Ibu.

__ADS_1


Andin menarik napas dalam. Tidak tahu harus berkata apa. Bagaimanapun ibu angkatnya itu menyayangi dirinya seperti anak sendiri. Dia tidak tega mengecewakan wanita paruh baya itu.


"Dia minta aku mengakui Grecia sebagai anak kandung, karena suaminya tidak mau mengakui sebagai anaknya setelah hasil tes DNA menyatakan dia bukan darah daging Alex. Pasti banyak pria yang telah meniduri sehingga Andin tidak tahu siapa ayah biologis putrinya. Dan minta ayah mengakui sebagai ayah biologis Grecia." Antonio menjelaskan pada istrinya dengan suara lembut agar sang istri membelanya.


"Andin, apa yang ada dalam pikiranmu saat ini. Tak menyangka kau jadi begini. Jika kau suka tidur dengan pria lain, jangan minta ayahmu mengakui anakmu! Aku tak mau melihat kau lagi. Pergilah kau, sebelum aku berbuat hal lain!" Ibu angkatnya mengusir Andin dari rumahnya.


Saat Andin ingin menjelaskan, Antonio meminta istrinya masuk dan tidak usah mendengar ucapan wanita itu. Andin di dorong Antonio agar keluar dari rumah.


Andin mengusap air matanya. Dia tidak boleh sedih. Ini semua kesalahan dia. Hidup terus berjalan. Seperti kata Alex, dari pada dia larut dalam masa lalu, lebih baik menyongsong masa depan. Dia ingin berubah, siapa tahu nasibnya juga ikut berubah lebih baik.


Semua mata memandangi Andin. Manajer kafe lalu mendatangi dan memarahinya.


"Apa yang kamu pikirkan? Membawa makanan begini saja bisa jatuh. Kamu harus mengganti semua ini. Gajimu di potong!" ucap pria itu dengan Arogan.


"Maaf, Pak. Saya tidak melihat ada kaki," ucap Andin mencoba membela diri.

__ADS_1


"Makanya punya mata itu digunakan! Jangan merem kalau berjalan," ucap pria itu masih dengan suara keras.


"Aku rasa bukan salah Mbak ini sepenuhnya. Pelanggan anda juga salah. Kenapa kaki sampai selonjor keluar dari meja?" ucap seseorang itu.


Andin dan manajernya memandangi orang itu. Tampak wanita itu kaget melihat siapa yang bicara.


"Reno ...!" ucap Andin pelan melihat siapa pria yang membelanya.


"Saya akan ganti semua kerugian tadi. Dan kamu, seharusnya minta maaf juga pada Mbak ini. Jangan diam saja. Kakimu tidak bisa dirapatkan. Kenapa bisa selonjor begini!" Reno menunjuk pada pelanggan itu. Dia hanya diam, sepertinya merasa bersalah tapi malu mengakui.


Yuni yang berada di samping Reno mengeluarkan uang merah, ratusan ribu dan menyerahkan pada manajer itu.


"Ini uang buat mengganti semua kerugian yang Mbak ini lakukan. Jika kurang, kamu bisa menghubungi nomor yang tertera di kartu nama ini. Jangan semena terhadap bawahan. Seharusnya kamu melihat dulu, dan meneliti sebelum marah. Aku bisa saja viralkan kafe kamu, biar makin terkenal," ujar Yuni.


Setelah mengucapkan itu dia mengajak Reno pergi. Sebenarnya Yuni belum siap bertemu Andin, tapi dia juga tidak bisa melihat wanita itu diperlakukan semena-mena. Tadi dia dan Reno berencana akan makan di kafe itu. Baru masuk mereka berdua disuguhkan pemandangan begini.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2