
"Maaf Andin, aku juga tidak tahu harus membantu kamu dengan apa? Aku saat ini telah berkeluarga dan ingin fokus ke rumah tanggaku saja," ucap Farhan pelan, tapi masih bisa ditangkap dengan sempurna oleh pendengaran Andin.
Tadinya dia yakin Farhan akan terenyuh mendengar semua keluh kesahnya. Namun pria itu sepertinya tidak tertarik dengan ceritanya.
Andin melihat wajah Farhan sedikit murung. Ingin tahu apa yang sedang pria itu pikirkan. Dia teringat dengan Rachel.
"Farhan, bagaimana keadaan Rachel? Sudah makin membaik? Apa dia masih marah denganmu?" tanya Andin.
Mendengar nama Rachel di sebut, pria itu kembali teringat dengan istrinya. Dia akan kembali mencari keberadaan wanita itu.
"Maaf Andin, kita bisa bicara lain waktu lagi. Aku masih ada keperluan. Jika kamu memang butuh pekerjaan, datang saja ke kantorku lusa. Besok aku mungkin tidak kerja. Aku nanti akan carikan pekerjaan yang bisa kamu lakukan sambil menjaga putrimu. Aku pamit. Ini sedikit buat beli susu anakmu," ucap Farhan. Dia meletakkan beberapa lembar uang merah ratusan ribu.
Farhan membayar semua pesanannya dan langsung menuju parkiran. Dia melajukan mobilnya menuju kampung halaman, tempat kediaman kedua orang tuanya. Farhan mengira Rachel ada di rumah orang tuanya.
Ketika Farhan telah pergi, Andin melangkah keluar cafe. Dia kembali ke klub hendak mencari keberadaan suaminya.
Didatangi bartender. Bertanya keberadaan suaminya.
"Mana Pak Alex?" tanya Andin.
__ADS_1
"Kami nggak tahu, Bu. Ada perlu apa ibu mencari Pak Alex?" tanya Bartender itu.
Dengan mata menyala menahan amarah, Andin memandangi wajah bartender itu. Dia lalu memukul meja dengan keras, membuat beberapa pengunjung yang lain cukup terkejut.
"Apa kau ingin di pecat? Kau tidak tahu siapa aku? Aku ini istri Pak Alex!" ucapnya dengan nada tinggi.
Bartender itu dan temannya yang lain terdiam dan saling pandang. Mereka lalu menatap ke arah Andin. Merasa diperhatikan Andin bertambah marah.
"Apa kalian tidak percaya denganku? Panggilkan Alex jika kalian tidak percaya!" ucapnya lantang.
Takut para pengunjung merasa tidak nyaman atas kehadiran Andin, salah satu dari bartender itu berjalan menuju lantai atas, di mana ruang kerja Alex berada.
Setelah beberapa kali mengetuk pintu terdengar langkah kaki mendekati pintu. Alex berdiri dengan tegap dibalik pintu.
"Ada apa?" tanya Alex dengan suara lantang.
"Ada wanita marah-marah di bawah. Dia mengaku istri Bapak," ucap karyawan itu.
"Kamu turunlah, antar dia ke sini!" ucap Alex.
__ADS_1
"Baiklah, Pak!" ucap pemuda itu. Lalu turun ke lantai bawah. Menemui Andin kembali.
"Ibu di minta ke atas. Pak Alex menunggu," ucap pemuda itu.
"Kau dengar itu. Jika aku bukan istrinya, tidak akan mau dia menerima aku. Kau tunggu saja. Aku akan memecat kamu!" ucap Main Arogan.
Dia lalu berjalan mengikuti pemuda yang tadi. Sampai di ruang kerja Alex, pemuda itu mempersilakan Andin untuk mengetuknya. Namun, wanita itu tanpa mengetuk langsung membuka pintunya. Tampak Alex yang sedang bercumbu dengan seorang wanita muda.
Darah Andin mendidih melihat pemandangan dihadapkannya. Dia langsung berjalan cepat dan menarik rambut wanita itu dengan kuat sehingga hampir tersungkur ke lantai.
Alex mendekati Andin dan menampar pipi wanita itu, sehingga tangannya yang tadi menarik rambut wanita yang bersama Alex jadi terlepas. Andin memegang pipinya yang terasa panas bekas tamparan suaminya itu.
"Kau menampar aku?" tanya Andin dengan suara gemetar menahan sakit.
"Kau pantas mendapatkannya!" ucap Alex.
Andin memandangi wajah Alex dan wanitanya dengan mata menyala. Napasnya memburu, menahan emosi.
...----------------...
__ADS_1