
Gafi malam ini berencana melamar Dita kekasihnya, sebelum kembali ke Jakarta. Dia sengaja menyewa satu kafe untuk memberikan kejutan. Pria itu membuat kafe menjadi tempat yang sangat romantis. Hanya ada mereka berdua nantinya.
"Kak, kita akan makan malam di mana? Tumben pakai rahasia segala," ucap Dita dengan lembutnya.Tidak biasanya Gafi menyembunyikan tempat makan malam mereka.
"Aku ingin memberikan kejutan. Jika aku mengatakan sekarang. Itu bukan kejutan namanya," ucap Gafi.
"Nanti kamu pasti akan tau juga, Sayang," ucap Gafi lagi.
Gafi menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan tangan kanan Dita selalu dalam genggamannya.
Tiba di salah satu kafe ternama di kota tempat mereka tinggal saat ini, Gafi menutup mata kekasihnya. Hal itu membuat Dita makin penasaran.
"Kenapa harus ditutup mata aku, Kak?" tanya Dita.
"Berhenti bertanya, Sayang, nikmati saja kejutan yang akan aku berikan," jawab Gafi. .
Laki-laki itu turun dari mobil, membukakan pintu untuk sang kekasih. Gafi dengan setia menuntun Dita memasuki kafe yang telah didekorasi secantik dan seromantis mungkin.
Dia menarik kursi untuk Dita duduk. "Jangan membuka matanya sebelum ada perintah dariku," bisik Gafi sedikit menunduk.
"Jantung aku berdebar, entah apa yang akan kamu lakukan, Kak," ujar Dita.
"Intinya itu akan membuat kamu dan aku bahagia," jawab Gafi.
Laki-laki itu memberi kode pada pelayan yang telah di latih pagi tadi untuk kelancaran acara kejutan. Gafi ingin semua berjalan lancar sebab hari ini adalah hari istimewa untuknya juga Dita, kalau saja wanita itu menerima lamarannya.
__ADS_1
"Kak Gafi?" panggil Dita meraba tangan Gafi yang duduk di hadapannya.
Masih dengan mata tertutup, Dita menolehkan kepala ke sana kemari mencari dari mana asal alunan musik yang begitu romantis dan menusuk relung hati.
"Kak Gafi ...," panggil Dita lagi.
Gafi tidak menyahut, lelaki itu berjongkok di depan kekasihnya seraya memegang kotak cincin sangat indah.
"Bukalah penutup matamu sekarang, Sayang!" perintah Gafi.
Tepat saat Dita membuka penutup matanya, dia di suguhkan pemandangan yang sangat indah. Di belakang Gafi, rangkaian bunga mawar bertuliskan: ‘WILL YOU MARRY ME DITA?’. Lilin-lilin yang disusun sedemikian rupa menambah keromantisan suasana malam ini.
Dita menutup mulutnya tidak percaya melihat kejutan yang di berikan Gafi untuknya. Terlebih saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut sang kekasih.
Dita meraih tangan Gafi agar berdiri. "Aku sangat bahagia dengan kejutan yang kamu berikan, aku tidak menyangka kamu akan melamarku malam ini, Kak" ucap Dita penuh kelembutan.
Dita dengan gugup meraih tangan Gafi dan membantunya untuk berdiri. "Aku sangat bahagia dengan kejutan yang kamu berikan, aku tidak menyangka kamu akan melamarku malam ini, Kak," ucap Dita penuh kelembutan.
Gafi memandangi wajah Dita tanpa kedip menantikan jawaban apa yang akan keluar dari mulut mungil wanita yang dicintainya itu.
Dia masih menunggu wanita itu memberikan jawaban atas pernyataannya cintanya. Melihat gadis itu yang hanya diam, dia kembali bersuara.
"Dita, aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama. Untuk mengatakan ini, aku butuh banyak waktu. Mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi. Bermunajat pada Tuhan untuk menentukan pilihan yang paling tepat. Berkali-kali ku tanya di hatiku sendiri. Sudah tepatkah pilihanku? Dan berkali-kali pula jawabanku tetap sama, itu kamu. Tahukah kamu? Satu-satunya orang yang memenuhi syarat untuk menjadi istriku adalah kamu. karena, syarat pernikahan adalah jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama. Maukah kamu menikah denganku, Dita?" tanya Gafi lagi.
Gafi kembali mempertanyakan kesediaan Dita untuk menjadi pendamping hidupnya. Pria itu takut jika gadis itu berubah pikiran lagi. Dita tersenyum dan memandangi wajah kekasihnya itu. Dia tahu, pasti Gafi tidak sabar lagi menunggu jawabannya.
__ADS_1
"Kak Gafi, terima kasih sudah memilihku untuk bersamamu, aku tahu aku sangatlah beruntung memilikimu. Kamu datang di hidupku dan kurasa itulah keajaiban yang diturunkan Tuhan kepadaku. Kamu telah membuatku melewati jalan yang penuh liku dengan senyuman dan penuh kebahagiaan, sekali lagi terima kasih, Kak. Aku bersedia menikah denganmu," ujar Dita dengan pelan.
Walau kalimat terakhir diucapkan Dita dengan suara yang pelan, tapi tetap terdengar di telinga pria itu. Tanpa di duga, pria itu melompat kegirangan.
"Yess, akhirnya aku bisa kawin," teriak Gafi.
Dita memandangi tingkah Gafi dengan tersenyum. Untung saja kafe ini telah di sewa khusus untuk mereka berdua.
"Dita, aku sepertinya mencintaimu dalam bentuk yang tak terhitung jumlahnya, dalam kehidupan demi kehidupan, di zaman ke zaman selamanya. Ketika aku menatap matamu, aku tidak melihatmu, aku melihat hari ini, hari esok, dan masa depanku selama sisa hidupku. Kamu selalu menjadi yang pertama dan terakhir di hatiku ini. Ke mana pun aku pergi, atau apa yang aku lakukan, aku akan selalu memikirkanmu."
"Aku tidak butuh kata gombal dan rayuanmu, Kak. Aku hanya butuh pembuktian. Bukankah pria sejati tidak akan pernah mengingkari ucapannya. Mulai hari detik ini, buktikan semua kata-katamu itu, Kak," jawab Dita.
"Aku akan buktikan pada dunia, jika kamu wanita paling beruntung. Akan aku buat wanita di luar sana cemburu melihat kamu yang sangat aku cintai. Sekali lagi aku tanyakan, apakah kamu bersedia menjadi pendampingku dan ibu anak-anakku?" tanya Gafi.
Dita tidak menjawab pertanyaan Gafi, yang entah udah keberapa kali. Hanya anggukan kepala sebagai jawabannya. Pria itu langsung memeluk Dita erat.
"Orang-orang bilang kalau jatuh cinta hanya terjadi sekali, tapi mereka tidak benar. Setiap aku melihatmu, aku selalu jatuh cinta, lagi dan lagi. Kamu adalah orang yang muncul pertama kali ketika aku akan mengawali hari dan kamu akan selalu hadir ketika aku akan tidur di malam hari," ucap Gafi dengan antusias.
"Aku nggak butuh kata cinta dan gombal saja tapi bukti nyata dari semua ucapanmu itu, Kak."
"Baiklah, Sayang. Aku akan buktikan dengan menikahimu segera. Aku akan minta mama melamarmu secara resmi pada kedua orang tuamu," ucap Gafi.
Gafi mengajak Dita untuk duduk ke tempat semula. Setelah itu menyematkan cincin di jari manis gadis itu sebagai tanda pengikat. Tanpa kedip Dita memandangi cincin yang disematkan di jari manisnya. Tanpa bisa di bendung air mata jatuh membasahi pipi mulusnya. Bahagia dan terharu. Dia telah siap menikah muda.
...----------------...
__ADS_1