TAK SEINDAH SURGA S1/S2

TAK SEINDAH SURGA S1/S2
Bab 83 S2. Ke Dokter


__ADS_3

"Kamu tak kuliah ...?" tanya Axel saat melihat istrinya masih belum berganti pakaian.


Saat ini mereka sedang sarapan bersama di meja makan. Rachel lalu memandangi menantunya itu.


"Kamu terlihat sedikit pucat, apa kamu sakit, Nak?" tanya Rachel.


Syifa hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Axel yang duduk di samping sang istri, menatapnya tajam. Mama Rachel benar, Syifa terlihat sedikit pucat. Axel memegang dahi istrinya, tapi tidak terasa hangat.


"Yakin tak ada yang sakit?" tanya Axel lagi.


"Sudah satu minggu ini kepalaku sering pusing dan mual. Itu saja," jawab Syifa.


Rachel yang mendengar jawaban dari menantunya, langsung menatap wajah Syifa. Dia lalu tersenyum.


"Apa kamu telah datang bulan?" tanya Rachel.


Axel dan Syifa saling berpandangan. Mungkin malu dengan pertanyaan yang diajukan mamanya.


"Bulan ini belum, Ma. Sudah telat satu minggu," ucap Syifa pelan karena malu.


"Apa jangan-jangan kamu hamil?" tanya Rachel.


Axel dan Syifa saling berpandangan. Sebenarnya dia juga berpikiran begitu, tapi takut salah. Wanita itu tidak ingin berharap. Lagi pula saat ini dia juga sedang kuliah.


"Sebenarnya aku juga ada berpikir ke sana. Tapi takut salah," jawab Syifa.

__ADS_1


"Kalau begitu, sebaiknya kamu dan Axel ke rumah sakit saja, buat periksa," ucap Rachel.


Axel setuju dengan pendapat mamanya. Dia lalu memutuskan izin dari kampus dan akan mengantar Syifa ke rumah sakit.


**


Axel dan Syifa sedang duduk bersama di ruang dokter kandungan. Wajah mereka terlihat cemas ketika dokter sedang memeriksa hasil tes darah Syifa.


"Bu Syifa, hasil tes nya menunjukkan kalau kamu hamil," kata dokter dengan senyum lebar.


"Ham...hamil?" gumam Syifa terkejut.


"Benar, Bu Syifa. Ibu saat ini dalam keadaan kehamilan awal," jelas dokter dengan penuh kegembiraan.


Axel langsung meraih tangan Syifa dan menatapnya dengan senyum hingga meluas di bibirnya. "Syifa, kamu benar-benar hamil?"


Mereka berdua terdiam sejenak menikmati momen bahagia mereka. Setelah itu, Si dokter meminta mereka untuk bertanya apapun yang ingin mereka ketahui tentang kehamilan.


"Apakah kehamilan saya berjalan normal?" tanya Syifa cemas.


"Secara umum, ya. Namun, saya melihat ada kekurangan asupan nutrisi pada tes darahmu. Saya akan memberikan rekomendasi makanan dan suplemen tambahan yang akan kamu butuhkan selama 9 bulan ke depan."


Syifa dan Axel saling pandang. Mereka sama-sama bertanya-tanya seperti apa tantangan yang akan mereka hadapi.


"Apakah akan berbahaya bagi istri saya atau calon bayi jika tetap melanjutkan aktivitas seperti biasa?" tanya Axel.

__ADS_1


"Dalam tahap awal kehamilan, asalkan sang Ibu merasa nyaman dan tidak tersentuh oleh kondisi yang tidak sehat, sangat disarankan untuk tetap menjalankan aktivitas seperti biasa. Tapi, hati-hati ya. Ibu harus menghindari aktivitas fisik yang keras atau naik turun tangga banyak. Apalagi pada tahap ini, Ibu perlu istirahat dengan cukup," jawab dokter.


Axel mengangguk tegas. Dia bertekad untuk selalu menjaga kesehatan istri dan calon bayinya.


"Kami juga mendengar tentang morning sickness. Apa gejala itu berbahaya?" tanya Syifa.


"Morning sickness adalah bagian alami dari kehamilan. Tidak berbahaya, tapi bisa sangat tidak nyaman. Anda bisa mencoba minum air jahe atau makan biskuit sebelum bangun tidur untuk meringankan gejalanya. Jika Anda terus-menerus mual atau muntah sangat parah, saya akan memberikan tips diet khusus untuk membantu Anda mengontrol gejala," jawab dokter.


Axel dan Syifa merasa lega mendapat jawaban dari dokter. Mereka berjanji untuk bekerja sama dan menjaga kesehatan serta kebahagiaan mereka dan calon bayi yang terlahir nanti.


Dalam perjalanan pulang, mereka saling berbicara dan merencanakan masa depan mereka bersama bayi yang akan datang. Axel memegang tangan Syifa dan menciumnya lembut. "Aku akan memberikan semua yang kamu dan calon bayi kita butuhkan. Aku akan selalu menjagamu dan si bayi dengan segenap hati."


Syifa menatap suaminya, kemudian membalas ciuman lembut Axel. "Terima kasih telah menjadi pendukungku sepanjang waktu. Aku akan selalu berusaha dan menjaga diriku dan bayi kita."


Saat kembali ke rumah, Axel segera melakukan some browsing tentang apa yang bisa dilakukan agar kehamilan Syifa berjalan lancar. Dia langsung menyusun rancangan diet yang membantu tumbuh kembang calon bayinya.


"Aku membaca bahwa sayuran hijau seperti bayam dan brokoli sangat bagus untuk kesehatan janin," ujar Axel kepada Syifa.


Syifa tersenyum. Dia merasa bersyukur karena memiliki suami yang sangat perhatian dan perduli pada kesehatannya dan calon bayinya.


"Syifa, aku juga menemukan beberapa tips menarik untuk merawat ibu hamil. Mungkin kelak aku bisa membantu kamu mencuci pakaian bayi dan menggotong buah hati kita," ujar Axel.


Syifa menatap suaminya dengan penuh kasih sayang. Kehamilan tak hanya miliknya, tapi juga milik Axel. Dan mereka akan merawat dan bahagia dengan janin kecil yang bertumbuh dalam rahim Syifa itu. Wanita itu bisa merasakan jika pria itu benar telah mencintainya bukan hanya sebagai pelarian dari Dita.


Rachel dan papa mertuanya sedang berada di luar rumah. Axel dan Syifa sudah tidak sabar ingin mengatakan berita bahagia ini.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2