
Ibu Dara mengantar Rachel ke terminal seperti yang wanita itu inginkan. Sampai di tempat tujuan, dia langsung keluar dari mobil. Ibunya Reno juga ikutan.
"Ibu harap kamu menepati janji untuk tidak mengatakan apa pun pada Reno tentang kedatangan Ibu. Suatu saat, jika kamu telah berkeluarga dan memiliki anak, pasti akan mengerti dan paham dengan keputusan yang ibu ambil ini," ucap Ibu Dara.
"Ibu jangan kuatir. Aku tidak akan mengatakan apa pun tentang kepergianku ini. Percayalah, Bu!" ucap Rachel.
Ibu Dara lalu membuka tas dan mengambil sebuah amplop coklat. Dia mendekati Rachel dan memberikan padanya.
"Ini ada sedikit, untuk ongkos kamu. Hanya ini yang bisa Ibu bantu," ucap Ibu Dara.
"Nggak usah, Bu. Terima kasih atas niatnya. Tapi aku masih ada uang untuk ongkos. Mertuaku memberi aku uang dan juga ATM."
Rachel menolak pemberian Ibu Dara. Bukannya dia sombong. Namun, Rachel tidak ingin pemberian itu hanya karena rasa kasihan dari wanita itu untuk dirinya.
Sebelum ke villa dengan Reno kemarin, Rachel sempat minta di antar ke ATM untuk mengambil uang. Kebetulan uang tabungannya masih ada. Farhan juga telah mentransfer untuk belanja bulanan. Rasa penasaran dengan ATM yang diberikan mertuanya, membuat Rachel mengecek saldonya.
__ADS_1
Rasanya Rachel ingin memeluk kedua mertuanya saat itu juga. Mengucapkan rasa bahagianya. Bukan karena nominal yang begitu besarnya di ATM itu tapi juga karena kepercayaan yang mertua berikan.
Dia yang baru saja menjadi menantu mereka diberi uang dengan nominal yang besar. Begitu perhatian dan sayang kedua mertuanya. Rachel janji akan tetap menyimpan uang itu dan hanya akan menggunakan jika di perlukan saja.
"Tapi ibu ikhlas memberikan ini," ucap Ibu Dara memaksa agar Rachel menerimanya.
Rachel menarik napas berat. Rasa serba salah. Jika tidak diterima, nanti dikatakan sombong. Namun, jika dia terima takut dikatakan matre.
"Maaf, Bu. Bukannya aku tidak mau menerima niat baik Ibu. Tapi sungguh ... saat ini uangku masih cukup untuk memenuhi kebutuhanku. Aku harap ibu juga bisa mengerti akan sikapku ini," ucap Rachel dengan melipat kedua tangannya di dada, tanda memohon maaf.
Uang itu memang telah dia persiapkan dari rumah. Saat mendengar jika Reno putranya membawa seorang wanita ke Villa, yang ada dalam pikiran wanita paruh baya itu, adalah wanita genit yang hanya ingin menggoda putranya dan sengaja menjeratnya.
Dalam pikiran wanita paruh baya itu, jika nanti wanita yang di bawa anaknya itu tidak mau di minta pergi, dia akan memberikan uang sebagai gantinya. Namun, diluar dugaan ternyata wanita yang dibawa anaknya wanita yang lembut dan tidak keras kepala.
Dia meminta Rachel pergi, takut anaknya Reno mencintainya dan membatalkan rencana pertunangannya dengan jodoh pilihan mereka.
__ADS_1
"Hati-hati di jalan. Maafkan Ibu, maafkan jika membuat kamu marah. Semua yang ibu lakukan hanya untuk kebaikan Reno," ucap Ibu Dara.
"Aku mengerti ibu. Aku pamit, ibu juga hati-hati di jalan," ucap Rachel. Menyalami tangan ibu dan menciumnya.
Rachel masuk ke dalam Bus. Setelah memastikan bus Rachel berjalan membawa wanita itu, barulah Ibu Dara pergi meninggalkan terminal.
"Maafkan, aku tidak ingin Reno berubah pikiran. Aku telah melakukan berbagai cara agar dia mau menerima Dokter itu sebagai calon istrinya. Aku tahu gimana anakku, dia pasti memiliki perasaan denganmu. Jika tidak, mana mungkin dia mau menolong kamu, dan mengambil risiko sebesar ini jika tidak ada rasa dihatinya untukmu," gumam ibu pada dirinya sendiri.
Perjalanan yang Rachel tempuh terasa begitu panjang dan melelahkan, dia tidak tahu apa lagi yang akan dia hadapi kedepannya. Seolah cobaan tidak pernah berhenti menghinggapi dirinya.
"Ya Allah, tolong yakinkan aku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Genggamlah tanganku untuk melewati semuanya. Termasuk menerima semua yang tidak aku inginkan. Duhai Pemilik Hati, mungkin tangisku selalu berderai, tapi sungguh aku tidak pernah menyesali takdirku ini. Mungkin keluhku selalu terdengar, tapi sungguh aku tidak pernah mengutuk apa yang ada. Aku tahu semua atas kendali dari-Mu Ya Allah. Aku hanya ingin, tolong peluklah aku di saat semua tidak seperti yang ku mau," gumam Rachel.
Jam tujuh malam sampailah Rachel di kampung halaman suaminya itu. Di depan rumah terpasang tenda dan ramai orang sedang membaca surat Yasin. Jantung Rachel berdetak keras. Perasaan tidak enak mulai dia rasakan.
"Ada apa ini? Apa yang terjadi dengan ayah dan ibu? Mengapa ada pengajian?" tanya Rachel pada dirinya sendiri.
__ADS_1
...----------------...