TAK SEINDAH SURGA S1/S2

TAK SEINDAH SURGA S1/S2
Bab 12 S2. Akhirnya Pergi


__ADS_3

"Kau sudah siapkan semuanya, Nak? Pastikan tidak ada sesuatu yang tertinggal."


Dita tersenyum ketika ayahnya tiba-tiba masuk ke kamarnya saat dia sedang membereskan semua baju dan juga bukunya.


Reno, yang tidak lain adalah ayah Dita hanya bisa tersenyum ketika melihat anaknya begitu bahagia membereskan semua pakaian itu. Dia tidak terlalu khawatir seperti yang dirasakan oleh Yuni. Dia merasa senang karena pada akhirnya Dita melanjutkan kuliahnya dengan semangat seperti ini, seolah melupakan hal yang lain.


Walau berat melepaskan putrinya, tapi Reno rasa ini jauh lebih baik dari pada Dita bertahan di kota ini. Lukanya akan terus terkoyak jika melihat Axel.


Reno mendekat, cukup menyadari bahwa ternyata kamar itu sudah dirapikan. Semua bantalnya disusun dengan rapi dan selimut yang dilipat juga di atas meja samping ranjang. Dia cukup sadar bahwa kamar ini tidak akan digunakan dalam beberapa waktu ke depan. Wajar apabila Dita merapikannya lebih rapi daripada sebelumnya.


"Aku sudah menyiapkan semuanya, Yah. Memang tidak terlalu banyak, setidaknya cukup untuk nanti," ucap Dita.


Reno mengangguk paham. "Kau mungkin juga bisa membeli baju baru nantinya, Sayang."


Dita menutup kopernya. Hari ini ayahnya sendiri yang akan mengantarnya ke luar kota. Menganggap ini sebagai perpisahan, walaupun ayahnya memang tidak terlalu khawatir seperti yang dirasakan oleh ibunya.


"Baiklah, ayah menunggumu di luar." Reno keluar dari kamar itu selagi putrinya merapikan sejenak ikat rambutnya.


Dita menatap sejenak kamar tidurnya, menghela nafas panjang dan cukup menyadari bahwa dia akan merindukan kamar ini. Orang tuanya mungkin akan mencarikan kos yang terbaik untuk dirinya, namun kamar tidur ini sepertinya memang tidak akan pernah terganti. Apalagi sulit rasanya untuk beradaptasi dengan tempat tinggal yang baru, dan juga harus berbaur dengan semua orang yang ada di sana. Dia sudah cukup sadar bahwa ini tidak akan mudah.


Dengan sangat berat hati dia mengambil kopernya dan keluar dari kamar itu. Menutup pintunya dengan perlahan. Dia berjalan perlahan keluar dan melihat ayah dan ibunya sudah ada di sana. Perjalanan itu jelas membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Sebelumnya Yuni juga sudah membantu untuk mencari kos terbaik.

__ADS_1


"Kami berharap kau nyaman dengan kos yang kami pilih. Ibu sudah mencari tahu sebelumnya. Mereka bilang kalau fasilitasnya sangat lengkap. Setidaknya kau akan merasa nyaman di dalamnya. Meski begitu, kau juga harus tetap hati-hati pada penghuni kos lainnya," pesan Yuni.


Reno tertawa mendengar apa yang dibicarakan oleh Yuni. Hal itu membuat Yuni mengerutkan kening ke arah suaminya, melempar pandangan tidak suka ketika suaminya itu seolah mengejeknya saat ini.


"Dia bukan lagi anak kecil, Yuni. Dia sudah bisa menjaga dirinya sendiri. Kamu harus percaya dengan anak kita," ucap Reno.


Yuni melipat tangan di depan dada dan menatap sebal ke arah suaminya. "Apakah salah kalau aku mengkhawatirkan dirinya? Aku belum pernah berpisah jauh dan lama begini."


"Tidak ada yang salah sama sekali kalau kau khawatir, itu sesuatu yang sangat natural. Tapi jangan juga terlalu berlebihan karena dia tidak akan merasa nyaman dengan sikap seperti itu. Jangan membuatnya merasa kalau dia dikekang dalam hal pendidikan semacam ini. Pendidikan itu penting. Dia harus merasa bebas melakukannya."


Yuni hanya bisa menghela nafas ketika suaminya mengatakan hal itu. Sedangkan Dita hanya bisa tertawa kecil melihat percakapan kedua orang tuanya. Ayahnya memang orang yang paling bisa mendukung dirinya dalam hal ini. Bukan hanya cinta, dia juga butuh kepercayaan dari kedua orang tuanya. Jadi memang benar apa yang dikatakan oleh ayahnya tadi. Dia tidak akan nyaman sama sekali kalau orang tuanya overprotektif. Dikekang itu tidaklah enak.


"Selamat datang," sapa seorang wanita paruh baya yang tersenyum ramah. Dia adalah Ibu Susi, pemilik kos-kosan. Ia mengenakan apron berkilauan, menandakan bahwa dia baru saja memasak.


Yuni menghampiri Ibu Susi dengan senyum, "Halo, Bu Susi. Ini putri kami, Dita, yang akan tinggal di sini selama kuliah, seperti yang saya katakan kemarin lewat chat."


Ibu Susi mengulurkan tangannya kepada Dita. "Senang bertemu denganmu, Dita. Selamat datang!" ucapnya hangat.


Dita merasa tersenyum karena sambutan ramah Ibu Susi. Mereka mengikuti langkah Ibu Susi. Kos-kosan ini memang tidak mewah, tetapi sangat nyaman. Dita mendapatkan sebuah kamar pribadi dengan meja belajar, lemari, dan tempat tidur yang nyaman. Kamar mandi bersama dan dapur bersama juga tersedia, lengkap dengan peralatan masak yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.


Reno mengecek koneksi Wi-Fi yang disediakan dan merasa puas dengan kecepatan internetnya. "Ini penting untuk tugas-tugas kuliahmu, Nak," katanya kepada Dita.

__ADS_1


Yuni mengajak Dita untuk melihat kamarnya. Mereka berdua naik ke lantai dua, dan ketika pintu kamar terbuka, Dita langsung berbinar. Kamar itu terang benderang dengan jendela yang besar, dan sebuah rak buku diletakkan di salah satu sisi dinding. Di meja belajar, terdapat sebuah lampu yang memberikan pencahayaan yang baik untuk belajar malam.


Ketika mereka kembali ke bawah, Ibu Susi menawarkan makan malam yang sudah ia masak. Reno dan Yuni dengan senang hati menerima tawaran itu, dan keluarga kecil itu duduk bersama di meja makan sederhana namun nyaman.


Sejenak Yuni merasa ada sesuatu yang masih mengganjal dalam hatinya. Dengan wajah yang penuh keraguan, ia mendekati Dita sebelum mereka benar-benar meninggalkannya.


"Dita," ucap Yuni perlahan. "Ibu ingin bertanya sekali lagi. Apakah kamu benar-benar yakin dengan keputusan ini? Kamu akan tinggal jauh dari rumah, dan kamu akan sendirian di sini selama berkuliah."


Dita mengangkat kepalanya, wajahnya dipenuhi keyakinan. "Ibu, aku sudah sangat yakin dengan keputusanku ini. Aku ingin belajar dan mandiri. Aku tahu ini akan menjadi pengalaman yang berharga bagiku. Ibu dan Ayah jangan khawatir berlebihan, dan aku akan selalu menghubungi kalian setiap hari."


Yuni tersenyum lembut. "Kamu tahu kami selalu mendukungmu, Nak. Kamu hanya perlu berbicara jika ada sesuatu yang membuatmu khawatir atau butuh bantuan."


Dita meraih tangan ibunya. "Aku tahu, Ibu. Aku tidak ingin melewatkan kesempatan ini."


Yuni merasa lega mendengar kata-kata Dita. Meskipun perasaan cemas masih ada, ia tahu bahwa putrinya telah tumbuh. Mereka merangkul satu sama lain dalam kehangatan keluarga, meyakinkan satu sama lain.


Dita akhirnya sendirian setelah kedua orang tuanya meninggalkan kos-kosan itu. Dia cukup sadar bahwa dia harus segera beradaptasi dengan lingkungan barunya. Lagi pula dia merasa bahwa kos-kosan ini memang sangat nyaman dan para penghuni lainnya juga tampak sangat ramah padanya.


Kos-kosan ini juga hanya dihuni oleh perempuan, jadi dia tidak terlalu waspada. Dia akan merasa sangat aman di dalam sini. Lagi pula pengamanannya juga sangat ketat bahkan menggunakan teknologi digital untuk mengunci pintunya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2