
Di ruang inap tampak ibunya Farhan sedang mengobrol dengan menantunya. Tangannya terus saja mengelus tangan Rachel untuk memberi kekuatan pada wanita itu.
"Maafkan aku, Bu. Aku nggak bisa memegang amanahmu untuk tetap bersama Mas Farhan," ucap Rachel dengan air mata berderai.
Ibu menghapus air mata menantunya dengan penuh kasih sayang. Dia tidak tahu seberapa kecewanya Rachel pada putranya, tapi dari raut wajah wanita itu bisa disimpulkan jika dia telah sampai di titik batas kesabaran.
"Jika saja ibu boleh memaksa, pasti ibu akan meminta kamu untuk tetap bertahan dan bersabar. Tapi ibu tidak boleh egois. Yang mengalami semua kamu, yang menjalani rumah tangga itu juga kamu, jadi kamu yang tahu bagaimana harus bersikap. Ibu hanya bisa mendukung saja semua yang menjadi keputusan kamu," ucap Ibu Nur.
Ayah yang telah kembali dari kantin berdiri tak jauh dari kedua wanita itu. Dia membiarkan istrinya bicara berdua.
"Bu, jika aku memang harus berpisah dari Mas Fafhan, apa aku masih boleh memanggil ibu dan bermain ke rumah ibu?" tanya Rachel. Dia merasa sangat menyayangi wanita itu seperti ibu kandungnya. Dia juga dapat merasakan kasih yang tulus dari ibu mertuanya.
"Tentu saja. Ibu malah senang jika kamu masih tetap mau menganggap ibu dan ayah sebagai orang tuamu. Jika kamu butuh bantuan kami, jangan sungkan menghubungi," ucap Ibu.
__ADS_1
Ayah lalu mendekati istrinya. Rachel hanya tersenyum pada ayah mertuanya itu. Dari cerita Farhan, dia mengatakan jika pria paruh baya itu sangat tegas dan tidak banyak bicara sehingga Rachel sedikit segan.
"Maaf Nak Rachel, kami tidak bisa menunggu kamu hingga sembuh. Kamu bisa kabari apapun nanti yang menjadi keputusan kalian. Seperti yang ibu katakan, kami mau kamu pertimbangkan semua ini. Kami besok akan berangkat lagi ke tanah suci Mekah, jadi harus kembali sekarang juga. Semoga Allah menunjukan jalan terbaik untuk rumah tangga kalian," ucap Ayah.
Pria itu merogoh saku celananya. Mengambil dompet dan mengeluarkan satu kartu ATM.
"Ini kamu pegang saja. Bisa digunakan untuk peganganmu," ucap Ayah. Dia lalu memberikan selembar kertas yang dituliskan sejumlah angka sebagai nomor PIN.
"Nggak perlu, Ayah. Aku masih ada simpanan," ucap Rachel menolak.
"Ayah, Ibu, kenapa kalian begitu baiknya. Padahal aku baru jadi menantu. Kalian belum tahu semua keburukanku. Aku bukan sebaik yang kalian pikirkan, tapi mengapa mau menerima aku dengan tangan terbuka begini," ucap Rachel dengan air mata yang terus membanjiri wajahnya.
Rachel tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia sangat terharu dengan kebaikan kedua orang tua Farhan. Jika saja dia diberi pilihan nantinya, setelah mati dia ingin menjadi istri yang dicintai Farhan agar bisa merasakan lebih lama lagi kasih sayang kedua mertuanya.
__ADS_1
Ayah dan ibu berpamitan sama menantunya itu. Ketika kaki ibu baru menginjak lantai di luar ruangan, tangannya dipegang seseorang yang tak lain Farhan.
Farhan mencium tangan ibunya, mengecupnya lembut. Air mata tumpah, jatuh mengenai tangan wanita yang telah melahirkan dirinya.
"Ibu, maafkan aku. Karena telah membuat kamu kecewa. Aku doakan ibu selalu sehat dan dapat menjalankan ibadah dengan baik di tanah suci. Semoga selamat sampai tujuan dan kembali lagi dengan selamat," ucap Farhan.
Setelah itu Farhan juga meraih tangan Ayah Hakim dan menciumnya."Maafkan aku, Ayah. Aku belum bisa menjadi anak kebanggaanmu. Aku selalu saja mengecewakan, Ayah.Kenapa ayah dan ibu tidak pernah mengatakan akan ke tanah suci?" tanya Farhan.
"Ayah sudah pernah mengatakannya. Kamu saja yang tidak ada perhatian. Kami pamit," ucap Ayah, menarik tangan ibu pelan dan berjalan meninggalkan Farhan.
Farhan menarik napas dalam, tidak tahu harus mengatakan apa dan melakukan apa. Dia hanya bisa menatap kepergian kedua orang tuanya hingga hilang dari pandangannya.
"Maafkan aku, Ayah, Ibu, aku sangat mengecewakan kalian," gumam Farhan pada diri sendiri.
__ADS_1
...----------------...