
Seluruh keluarga menunggu dengan cemas, telah tiga jam Gafi berada di ruang operasi. Dokter masih silih berganti masuk ke ruang operasi.
Hampir tengah malam, baru dokter keluar dari ruang operasi. Alya dan Yuni langsung berdiri dan menghampirinya.
"Bagaimana keadaan anak kami, Dok?" tanya Yuni dan Alya serempak.
"Operasi berjalan lancar, tapi ...." Dokter itu menghentikan ucapannya. Yuni dan Alya makin kuatir karena dokter yang menghentikan ucapannya.
"Katakan apa yang terjadi dengan putraku, Dok?" tanya Alya dengan tidak sabar.
"Luka yang dialami cukup parah, dan juga pendarahan hebat yang pasien alami membuat keadaannya saat ini kritis. Dan ada satu lagi kemungkinan yang akan di derita pasien," ucap Dokter.
Saat ini seluruh keluarga sedang mengelilingi dokter. Mereka ingin tahu apa yang terjadi dengan Gafi dan Dita.
"Katakan saja, Dok! Apa sebenarnya yang putra kami alami?" tanya Reno.
"Pasien wanita keadaannya mulai stabil. Yang pria masih dalam keadaan kritis. Karena benturan yang keras, dan ada saraf yang berhubungan dengan mata memgalami kerusakan, ada kemungkinan sang pasien akan kehilangan penglihatannya. Apa lagi tadi dokter spesialis mata melihat ada kornea mata yang rusak.
Penglihataan dspat hilang akibat saraf yang berperan dalam proses penglihatan ikut mengalami cedera akibat cedera kepala yang terjadi atau cedera terjadi pada komponen mata seperti retina ataupun Kornea.
__ADS_1
Tubuh Alya terasa lemas mendengar ucapan dokter. Jika benar putranya cacat, dan tidak dapat melihat lagi, apa yang akan dia katakan saat sadar nanti.
Papa Gafi memeluk sang istri dan membawa ke sofa. Farhan lalu mengikuti dokter hingga ke ruang kerjanya. Dia ingin tahu penjelasan yang lebih akurat. Dokter lalu mengatakan kemungkinan buruk yang akan dialami Gafi.
**
Gafi masih berada di ruang ICU. Air mata tidak pernah berhenti mengalir dari kedua mata Alya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan putranya jika tahu mengalami kebutaan.
Di samping Gafi ada Dita yang masih belum sadarkan diri. Namun, dokter mengatakan jika keadaannya telah mulai stabil. Luka yang dialami Dita tidak parah karena dilindungi sang suami.
Dari balik kaca, Axel melihat tubuh Dita yang terbaring lemah dengan berbagai selang medis di tubuhnya. Hatinya ikut nyeri merasakan sakit yang di derita wanita itu.
"Dita, jika rasa sakit itu dapat dipindahkan, aku rela menggantikan semua rasa sakit yang kini kau rasakan. Aku tidak tega melihatmu begini," gumam Axel dalam hatinya.
Tidak ada satu orang pun yang kembali ke rumah. Semua menunggu di depan ruang ICU.
Pagi hari Farhan membelikan sarapan, tapi Yuni dan Alya tidak mau menyentuhnya. Reno telah memaksa dan menyuapi istrinya, tapi Yuni masih tidak mau.
"Bu, jika kamu ikut sakit, siapa yang akan menjaga Dita saat dia sadar nanti. Ibu harus jaga kesehatan. Jangan ikutan sakit," bujuk Reno dengan lembutnya. Dia mengerti dengan perasaan istrinya saat ini. Sehingga tidak memaksa, tapi meminta dengan membujuknya.
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa makan, sedang putriku tidak makan. Dia terbaring lemah di sana, Yah," ucap Yuni dengan air mata yang terus mengalir dari sudut matanya.
Reno menghapus air mata istrinya dengan lembut. Jika dia mengikuti kata hati, pasti dia juga tidak akan ada selera makan. Namun, Reno sadar dia harus tetap sehat demi anak dan istrinya.
"Bu, kita serahkan semua pada yang diatas. Semoga Dita segera sadar dan bisa melewati semuanya. Sekarang Ibu makan walau sedikit," ucap Reno masih dengan membujuk sang istri.
Di sudut lain Rachel juga sedang membujuk kakak iparnya Alya. Dari kemarin air mata wanita itu tidak berhenti mengalir membasahi pipinya.
"Kak, serahkan semua pada Allah. Aku yakin Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan kita. Jadi yang bisa kita lakukan saat ini, hanyalah ikhlas dan berdoa," ucap Rachel mencoba menghibur Alya, kakak iparnya.
"Apa yang akan aku katakan saat Gafi sadar dan bertanya kenapa matanya sudah tidak bisa melihat lagi? Aku tidak bisa membayangkan betapa hancur dan sedihnya anakku," ucap Alya dengan terbata.
"Itu bisa kita pikirkan nanti. Sekarang kita berdoa saja untuk kesembuhan dan kesadaran dari Gafi," jawab Rachel.
Axel yang dari tadi hanya menatap ke dalam ruang ICU terkejut dan juga senang melihat tangan Dita bergerak. Dia lalu berjalan mendekati Yuni dan Reno.
"Om, Tante, tangan Dita bergerak. Dia telah sadar," ucap Axel dengan perasaan bahagia.
"Apa ...? Kamu tidak bohong'kan?" tanya Yuni.
__ADS_1
Axel menjawab dengan menggelengkan kepalanya. Yuni dan Reno langsung berdiri dan berjalan menuju ruang ICU.
...----------------...