
Rachel dan teman Farhan lainnya sibuk mempersiapkan makanan untuk takziah nanti malam. Saat yang lain sibuk, Reno diam-diam mendekati Rachel. Berdiri di samping wanita itu yang sedang memasukan kue ke kotak.
Farhan dan keempat yang lainnya sedang di luar menyusun kursi untuk para takziah. Mungkin mereka tidak menyadari jika Reno pergi menjauh dari mereka dan mendekati Rachel.
"Kenapa pergi dari villa tanpa mengatakan apa-apa?" tanya Reno.
Rachel tetap menunduk tidak berani menatap Reno. Merasa bersalah dengan pria yang telah menolongnya itu.
"Aku merasa tidak enak berada di villa seorang pria. Takut menjadi fitnah. Bagaimana pun statusku masih istri sah seorang Farhan," ucap Rachel pelan.
"Apa yang mama aku katakan? Apa dia mengusirmu?" tanya Reno.
__ADS_1
Reno tahu jika mamanya datang ke villa dari bibi penjaga. Dia juga yang mengatakan jika mama pria itu mengantar hingga ke terminal.
Awalnya Reno begitu kuatir hingga meminta seseorang menyelidiki. Saat tahu Rachel ada bersama Farhan hatinya sedikit lega. Dia lalu menyusul ke sini setelah mendengar kabar duka yang sedang menimpa Farhan.
"Dari mana Kak Reno tahu mama Kakak datang ke villa?" tanya Rachel.
"Apa yang mama aku katakan?" Reno kembali bertanya tanpa menjawab pertanyaan Rachel.
"Mama kak Reno tidak mengatakan apa-apa. Aku pergi memang karena kemauan sendiri. Perasaanku sudah nggak enak. Ternyata benar, mertuaku tiada. Orang yang baru aku kenal, tapi menyayangi aku dengan sepenuh hati. Apakah akan ada lagi orang yang menyayangi aku setulus ayah dan ibu. Rasanya cobaan paling berat bagiku adalah saat ini!" ucap Rachel dengan air mata berlinang.
"Aku yakin Rachel, kamu pasti kuat menghadapi semua ini. Percayalah di balik semua musibah pasti Allah telah menyiapkan sesuatu yang baik setelah itu. Apa lagi jika kamu ikhlas menerimanya."
__ADS_1
"Aku tidak tahu kenapa Tuhan memilihku sebagai salah satu manusia yang hidup ditakdir yang keras ini. Entah dari sisi mana Tuhan melihat ketangguhan dan kemampuanku untuk melewati semua ini. Padahal setiap malam harus menangis karena kasihan pada diri sendiri. Setiap hari harus berpura-pura terlihat baik-baik saja. Dihadapan semua orang aku harus menahan rasa mengeluh, rasa hancur, rasa ingin marah, semua ku tahan sendirian," ucap Rachel dengan terbata karena menangis.
"Bagaimana Tuhan bisa berikan ujian seberat ini padaku yang lemah? Bagaimana Tuhan bisa percaya aku mampu, sedangkan diriku sendiri ragu? Aku benar-benar sampai di titik pasrah, pintaku pun pada Tuhan tidak banyak, sekiranya memang ini sudah jalanku, kuatkan aku pada apa yang telah menjadi takdirku ini, Kak," ucap Rachel lagi.
Farhan dan keempat temannya masih terpaku mendengar Rachel yang mengobrol begitu lancar dan akrabnya. Andin tampak tersenyum simpul.
"Aku yakin kamu kuat. Apa kamu ingat saat kamu hidup sendiri dan harus mencari nafkah di usia masih belia, kamu mampu melewatinya bukan? Aku yakin kamu juga mampu saat ini," ujar Reno.
"Itu juga karena Kak Reno yang sering membantuku dan memberiku uang lebih. Terima kasih, Kak. Aku selalu saja merepotkan Kakak jika ada masalah," ucap Rachel.
"Bukan karena bantuan aku. Buktinya setelah kita pisah, kamu bahkan lebih tenang, lebih dewasa, dan mampu hadapi kerasnya hidup sendirian," ucap Reno.
__ADS_1
Andin berjalan dengan pelan mendekati Farhan. Dia berkata dengan penuh tekanan. "Ternyata istrimu tidak selugu yang kau dan orang lain pikir. Kau bilang istrimu pulang ke kampung, nggak tahunya kabur dengan Reno. Dan yang lebih mengejutkan mereka teman lama," ucap Rachel sambil tersenyum sinis.
...----------------...