TAK SEINDAH SURGA S1/S2

TAK SEINDAH SURGA S1/S2
Bab 32 S2. Ungkapan Cinta


__ADS_3

Setelah acara wisuda selesai, semua berkumpul di luar gedung. Gafi langsung menghampiri Dita yang duduk berdua dengan mama Rachel di dekat taman.


Dita tersenyum melihat Gafi yang mendekatinya. Tanpa di duga pria itu langsung memeluk Dita.


"Terima kasih karena telah menemani aku selama menulis skripsi. Aku jadi dapat nilai terbaik," ucap Gafi.


"Itu karena memang Kak Gafi yang pintar. Bukan karena aku," jawab Dita.


Axel memandangi Gafi dan Dita tanpa kedip. Rachel yang melihat putranya memandangi Dita menjadi kasihan. Dia lalu berdiri dan memeluk Dita juga agar Gafi melepaskan pelukannya pada gadis itu.


"Mama ...," ucap Dita dan melepaskan pelukannya Gafi.


"Sejak kapan kalian berdua dekat, kamu tidak pernah cerita dengan Tante," ucap Rachel sama Gafi.


Gafi memandangi Dita. Gadis itu mengerti jika Gafi pasti kesulitan menjawab.

__ADS_1


"Mama, aku yang minta Kak Gafi untuk sembunyikan semua. Aku tidak mau ada yang tahu aku kuliah di kota ini," ujar Dita.


Rachel hanya tersenyum menanggapi ucapan Dita. Dia tidak bisa juga menyalahkan Gafi atau Dita, karena semua ini kesalahan Axel.


Alya dan suaminya mengajak semua ke sebuah restoran untuk makan siang. Gafi dan Dita menggunakan satu mobil. Lisa dan Axel juga satu mobil. Sedangkan Alya, suaminya dan Rachel di mobil yang berbeda juga.


Dalam perjalanan menuju restoran, Dita meraih tangan Gafi. Dia mengenggamnya erat.


"Kak, impianmu untuk menjadi sarjana kini telah menjadi kenyataan yang luar biasa. Aku tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata betapa senang dan bangganya aku menjadi salah satu orang yang menemani saat Kakak wisuda. Selamat memasuki kehidupan baru, Kak. Semoga mimpi-mimpimu bisa tercapai. Aku akan selalu ada di sampingmu!


Gafi menghentikan mobilnya dan menepikan. Dia memandangi Dita dengan intens.


"Apa benar ucapanmu itu, Dit?" tanya Gafi.


"Ucapan yang mana, Kak?" Dita balik bertanya.

__ADS_1


"Jika kamu akan selalu mendampingiku!"


"Aku akan selalu ada jika kapan pun Kakak butuhkan, karena Kak Gafi juga begitu saat aku butuh teman untuk berbagi."


"Apa ini berarti kamu mau menjadi pendampingku Dita? Aku sangat mencintai kamu, aku ingin kamu menemani setiap langkahku!" ucap Gafi.


Dita terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa. Gafi lalu mengubah duduknya menghadap gadis itu. Menggenggam tangannya.


"Mungkin aku tidak seperti pria yang pernah mengisi hatimu. Mungkin aku juga tidak sebaik dirinya. Mungkin aku tidak semenarik pria yang pernah kamu cintai, dan mungkin aku tidak semenawan pria-pria yang mendekatimu. Tapi aku punya satu cinta yang tak bisa digantikan dengan siapa pun. Untukmu dan hanya untukmu seorang, aku sangat mencintai kamu, Dita. Maukah kamu menjadi kekasihku?" tanya Gafi.


"Kak, Kamu datang dalam keadaan aku tidak mempercayai pria mana pun. Namun, perlahan kamu membuat aku nyaman dan kembali. Jika bisa jangan kembalikan keadaanku seperti sebelum bersamamu. Aku ingin tetap merasa nyaman seperti ini. Aku ingin mendampingi kamu, Kak," jawab Dita pelan.


Gafi tidak percaya dengan pendengarannya. Dia merasa bahagia sekali mendengar jawaban dari Dita. Padahal Gafi telah mempersiapkan hatinya jika gadis itu menolaknya.


"Yang perlu kamu tahu, aku mengenalmu dengan hati, bukan dengan mata. Aku menyayangi kamu dengan jiwa bukan dengan kata. Dan aku menyayangimu juga dengan rasa, bukan dengan logika. Aku memilihmu bukan dengan suka, tapi caramu memperlakukanku yang membuatku begitu mencintamu. I Love You, Dita." Gafi mengecup dahi wanita itu.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2