TAK SEINDAH SURGA S1/S2

TAK SEINDAH SURGA S1/S2
Bab 34 S2. Jangan Ganggu Kekasihku!


__ADS_3

"Bukan urusanmu. Untuk apa kau ingin tahu kapan aku mulai dekat dengan Kak Gafi. Aku bukan teman apa lagi sahabatmu. Kita tidak sedekat itu," ucap Dita.


Axel menarik napas dalam. Terlihat sekali dari wajahnya jika dia tidak senang dengan ucapan gadis itu.


"Apa kau lupa jika dulu sering bersamaku? Kemana aku pergi kau selalu mengekor dan tidak mau jauh dariku," tanya Axel dengan suara penuh penekanan.


"Itu dulu, sebelum aku tahu ternyata dunia ini luas. Aku saja yang bodoh terlalu terpaku pada satu orang yang aku anggap duniaku, padahal orang itu tidak pernah menganggap aku ada," jawab Dita dengan sedikit ketus.


Jawaban Dita itu mampu membuat wajah Axel merah padam. Dia tidak menyangka jika gadis yang dulu pemalu dan selalu mengikuti apa maunya, sekarang bisa melawan dan menjawab semua ucapannya.


"Kamu sengaja dekati Gafi untuk membuat aku marah 'kan?" tanya Axel.


Dita menarik napas dalam. Tersinggung atas ucapan Axel. Beberapa tahun lalu mungkin Axel adalah segalanya bagi Dita, pria itu dunianya. Tempat dia melakukan segalanya, tapi tidak saat ini. Sejak dia menginjak harga dirinya.


"Jangan ge-er, Axel! Aku bukan gadis yang berpikiran picik. Untuk apa aku mendekati Kak Gafi jika hanya untuk membuat kamu marah. Buang-buang waktu. Aku dan Gafi saling mencintai, kami adalah sepasang kekasih. Sejak kapan? Kau tidak berhak tahu. Karena antara kita tidak ada hubungan apa pun!" ucap Dita.


Gafi yang ternyata dari tadi mendengar semua obrolan mereka akhirnya keluar dari persembunyian. Saat Axel ikutan pamit ke toilet, Gafi sudah memiliki firasat jika pria itu ingin mengekori Dita.


Dita yang melihat kemunculan Gafi, menjadi senang. Dia langsung berlari ke dalam pelukan pria itu.


"Lama banget ke toiletnya. Jadi aku menyusul. Takut ada apa-apanya dengan kamu," ucap Gafi.

__ADS_1


Matanya melirik ke arah Axel dengan tatapan tajam yang mematikan. Walau Axel sepupunya, tapi jika pria itu mengganggu hubungannya, dia tidak akan segan bertindak.


Dengan memeluk bahu Dita, Gafi mendekati Axel. Pria itu tampak tertunduk malu. Mungkin dia tidak menyangka jika Gafi akan menyusul dan mendapati dirinya yang mengekori Dita.


"Sedang apa kamu di sini, Xel?" tanya Gafi.


"Ngapain ke sini? Jelas mau buang air. Tadi bertemu Dita, jadi ku ajak mengobrol karena telah lama tidak bertemu," ucap Axel dengan gugup.


"Lain kali jika ingin bicara dengan kekasihku, kamu bisa mengajak aku juga. Aku pencemburu. Aku tidak suka ada orang yang mendekati kekasihku. Bukan aku posesif, tapi aku hanya ingin menjaga sesuatu yang telah menjadi milikku. Lagi pula tidak enak di lihat, jika kamu dan Dita bicara berdua. Aku takut Lisa jadi marah dengan Dita. Aku percaya dengan Dita, tapi tidak denganmu!" ucap Gafi dengan penuh penekanan.


Setelah mengucapkan itu, Gafi pergi dari hadapan Axel tanpa menunggu jawaban dari sepupunya itu. Dia tidak butuh jawaban apa pun dari Axel. Lagi pula, Gafi takut jadi tambah terbawa emosi.


Gafi mengacak rambut kekasihnya. Menarik napas dalam, untuk meredakan emosinya. Dia lalu mengecup pucuk kepala Dita.


"Kamu tidak salah," ucap Gafi.


Mereka berdua kembali duduk di tempat semula. Rachel menatap tanpa kedip keduanya.


"Sayang banget sama Dita, pergi ke toilet aja di susul," ucap Alya. Hal itu mampu membuat wajah Dita memerah karena menahan malu.


"Dita, main ke hotel Mama, yuk! Banyak yang ingin Mama obrolkan," ujar Rachel.

__ADS_1


Dita memandangi Gafi, meminta persetujuan pria itu. Axel yang baru datang, langsung duduk dengan menunduk.


"Malam aku antar, kamu pulang dulu. Istirahat sebentar lalu mandi," ucap Gafi. Dita hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban ucapan Gafi.


"Malam aku ke tempat Mama menginap," jawab Dita.


"Mama tunggu ya, Sayang. Jangan sampai lupa," ucap Rachel.


"Iya, Ma. Kak Gafi jangan lupa jemput. Nanti Mama Rachel marah kalau sampai tak jadi," ucap Dita bercanda. Dia mencoba mencairkan ketegangan antara dia, Gafi dan Axel agar tidak ada yang curiga dengan mereka.


Setelah selesai makan, Gafi mengantar Dita kembali ke kos. Dia tidak mampir agar gadis itu bisa istirahat.


"Jam tujuh aku jemput," ucap Gafi.


"Iya, Kak."


"Langsung istirahat, jangan main ponsel. Kamu pasti capek, aku juga mau istirahat sebentar," ujar Gafi.


Setelah Dita masuk ke kamar kosnya, barulah pria itu menjalankan mobilnya meninggalkan halaman kos kekasihnya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2