
Dita memandangi cincin yang tersemat di jari manisnya itu. Dia tersenyum bahagia. "Bagus sekali cincinnya, Kak. Aku suka," ucap Dita dengan suara riang.
"Aku bahagia mendengarnya," kata Gafi dengan senyum mempesona. "Dan, aku ingin kamu tahu bahwa aku ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu, Dita."
"Dita, sekali lagi dengarkan ini, aku ingin kau menjadi istriku, dan kita bisa bersama selamanya."
Dita tidak bisa menahan tangis bahagia. "Ya, Kak. Ya! Tentu saja aku mau menjadi istrimu."
"Aku bahagia sekali!" kata Gafi dengan senyum ceria di wajahnya. Dia menggenggam tangan Dita wanita yang dicintainya.
"Aku juga bahagia, Kak," jawab Dita.
"Kamu tidak masalah jika kita menikah secepatnya. Kuliahmu nanti pindah saja ke Jakarta atau ambil universitas terbuka saja," ucap Gafi.
Dita hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Dia telah yakin untuk menghabiskan waktu dengan pria itu. Karena Dita yakin jika Gafi adalah pria yang tepat. Lelaki itu sangat perhatian. Dengan menikah, mereka akan bisa tinggal bersama. Itu juga akan mengurangi fitnah karena mereka sering berdua. Bukankah niat baik itu seharusnya di segerakan.
Setelah makan malam romanti, Gafi mengantar Dita pulang. Sebenarnya pria itu telah mengatakan niatnya untuk menikahi Dita pada kedua orang tuanya. Mereka setuju dan bahagia mendengarnya. Mama Alya mengatakan, pacaran setelah halal itu jauh lebih nikmat. Dari pada di tunda, nanti bisa banyak godaan. Alya dan suaminya yakin Dita bisa menjadi ibu yang baik buat cucunya kelak.
Sampai di halaman kos Dita, pria itu menghentikan mesin mobilnya. Dia meraih tangan gadis itu.
"Sayang, aku rasanya ingin memutar waktu agar kamu dan aku segera menikah. Aku sudah tidak sabar menanti hari dmana saat membuka mata, wajahmu yang pertama aku lihat," ucap Gafi.
__ADS_1
"Kak Gafi ngomong apa? Kok mikirnya sudah sampai ke situ," ucap Dita malu. Wajahnya memerah seperti tomat.
"Aku ingin setiap malam tidur sambil memeluk dirimu," ucap Gafi dengan mencubit pelan hidung gadis itu.
"Kakak ... kenapa itu saja pikirannya," jawab Dita.
"Tujuan kita menikah, bukankah agar bisa hidup bersama. Aku mau kita menikah secepatnya karena dua bulan lagi aku harus keluar negeri, aku ingin saat itu kita telah menikah. Kita bisa sekalian bulan madu," ucap Gafi.
"Apa itu tidak terlalu cepat, Kak?"
"Niat baik itu harus disegerakan!" ucap Gafi.
Dia lalu mengecup dahi gadis itu. Gafi belum berani berbuat jauh. Hanya menyentuh dahi itu saja yang dia lakukan.
Dita kembali hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Dia turun dari mobil. Setelah Dita masuk ke kamar, barulah Gafi meninggalkan halaman itu.
***
Dita menyimpan ponselnya dengan senyum bahagia di wajahnya. Dia tidak bisa merasa lebih bahagia dari saat ini. Tidak ada yang bisa mengalahkan perasaan cinta dan kebahagiaan yang dia rasakan setelah dilamar oleh Gafi.
Dia melihat sekeliling kamarnya yang sempit dan dilihatnya selembar kertas kecil yang tertulis sebuah kalimat "I will always love you", yang merupakan sebuah kado dari Gafi untuk dirinya. Itu membuat Dita semakin bahagia.
__ADS_1
Dia segera pergi ke meja dan mengambil ponselnya, Dita langsung mencari nomor ibunya dan menelponnya.
"Ibu, apa Ibu mau dengar kabar terbaru dari aku dan Gafi?" tanya Dita.
"Kabar apa, Sayang? Sepertinya kamu bahagia banget," jawab Yuni dari seberang sana.
"Ibu, Gafi melamarku kemarin," kata Dita dan terlihat senyum bahagia di wajahnya.
Yuni yang kebingungan terdiam sejenak, "Maksudmu, dia melamarmu? Oh, Sayang. Ibu sangat senang. Kamu harus segera datang ke rumah dan memberikan kabar baik ini kepada Ayahmu."
Dita merasa senang mendengar reaksi positif ibunya, "Memangnya Ayah pulang?"
"Tidak sekarang, Dia masih ada di luar kota. Apakah kamu telah siap menikah muda, Sayang?" tanya Yuni.
"Aku siap, Bu. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku dengan Kak Gafi. Seperti yang sering aku katakan, Kak Gafi sangat menyayangiku," ucap Dita bahagia.
Yuni ikut bahagia mendengar putrinya bahagia. Dari setiap cerita tentang Gafi, Yuni yakin pria itu bisa membahagiakan putrinya.
Dita mengangguk setuju, "Aku akan segera berangkat ke Jakarta, Ibu. Sampai ketemu, Ibu sayangku."
"Sampai jumpa, Nak," jawab Yuni dan menutup panggilan tersebut.
__ADS_1
Dita merasa gugup dan penuh harapan untuk bertemu keluarga Gafi dan memberitahu kabar baik ini kepada mereka. Tidak sabar untuk menemukan restu dan persetujuan dari keluarganya dan keluarga Gafi.
...----------------...