TAK SEINDAH SURGA S1/S2

TAK SEINDAH SURGA S1/S2
Bab 51. Bicara Dari Hati


__ADS_3

Axel keluar dari mobilnya dan berjalan pelan masuk ke dalam rumah Mama Alya. Ibunya meminta menyerahkan baju seragam untuk pernikahan. Rachel yang membelinya di sebuah butik.


"Axel, duduklah," ucap Alya begitu melihat ponakannya itu.


"Ma, ini ada titipan dari Mamaku." Axel lalu menyerahkan titipan dari sang ibu.


Alya langsung membukanya dan tampak senang. Sepertinya wanita itu menyukai model baju yang dipilihkan dan di beli Rachel untuk acara akad nikah Gafi minggu depan. Rachel memilihkan gamis putih yang sederhana tapi mewah.


"Kak Gafi mana, Ma?" tanya Axel.


"Ada dikamaenya. Kamu sudah lama tak main ke kamar dia lagi. Axel, apa kamu kecewa karena Dita lebih memilih Gafi?" tanya Alya pelan.


Axel tersenyum simpul menanggapi pertanyaan Mama Alya. Kecewa, apa dia berhak kecewa? Tidak! Karena semua salahnya. Dia yang membuat Dita menjauh darinya. Kecewa tidak, tapi ada rasa bersalah pada dirinya. Seandainya waktu bisa diputar kembali, dia pasti akan melewati saat marah dan membentak Dita. Ini kenangan terburuk dalam hidupnya.


Merelakan orang yang kita sayang bersama orang lain tentunya tidaklah mudah. Sebab, diperlukan kesabaran dan keteguhan hati melihat dia tak lagi ada di dekat kita. Inilah yang menjadikan segala bentuk perpisahan selalu menyedihkan serta menyayat hati.


Ada beragam faktor penyebab seseorang harus pergi menjauh dari kehidupan kita. Apalagi jika orang tersebut adalah sosok spesial yang kita sayang seperti sahabat kita misalnya, tentu terasa berat melepasnya. Namun apalah daya, keadaan membuat kita harus benar-benar menerima keputusan tersebut dengan ikhlas. Dalam hal ini, demi kebaikan bersama menjadi salah satu alasan mengapa kita harus benar-benar merelakan orang yang kita sayang bersama orang lain.


"Ma, kenapa aku harus kecewa? Aku bahagia. Bahagia karena sahabatku bisa menikah dengan Kakakku. Aku tahu jika Kak Gafi sangat menyayangi Dita. Dari pada dia jatuh ke tangan pria yang tidak aku kenal!" ucap Axel sambil berusaha tersenyum, walau sebenarnya ada rasa sedih.


Sedih yang Axel rasakan, karena persahabatannya dengan Dita berakhir tidak semestinya. Dia yang mengatakan dirinya seorang sahabat, tapi menyakitkan bagi Dita. Seharusnya sahabat itu memberikan senyuman bukan tangisan. Axel merasa sangat gagal sebagai seorang sahabat.

__ADS_1


Alya memeluk ponakan laki-lakinya itu. Dia sempat takut jika Axel tidak rela atas pernikahan Gafi dan Dita.


"Terima kasih atas semua pengertianmu. Mama doakan kamu dapat yang terbaik, seperti Dita juga."


"Aamiin. Ma, aku boleh bertemu Kak Gafi?" tanya Axel.


"Tentu saja, Nak. Naiklah ke atas. Gafi hanya berbaring saja. Tidak ada kerjaan," jawab Mama Alya.


Axel pamit dan langsung berjalan menuju kamar Gafi. Rasanya sudah lama dia tidak masuk ke kamar kakaknya itu. Dengan pelan dia ketuk pintu kamar itu. Setelah beberapa kali ketuk terdengar suara langkah kaki.


Gafi membuka pintu kamarnya. Terkejut melihat Axel yang mengetuk pintunya. Ternyata pria itu sedang video call dengan calon istrinya.


"Sayang, sudah dulu ya. Ada Axel. Nanti malam aku hubungi lagi. Jangan lupa makan, dan istirahat. Ingat seminggu lagi tenaga kamu akan dikuras," ucap Gafi sambil tersenyum.


"Apa aku mengganggu, Kak?" tanya Axel. Merasa tidak enak karena melihat Gafi yang sedang asyik menelepon, tapi harus diakhiri karena kehadirannya.


"Tentu saja tidak, Xel. Aku justru senang ada yang menemani. Suntuk juga harus di kamar terus hingga hari pernikahan," jawab Gafi.


Gafi berjalan mendekati Axel yang telah terlebih dahulu duduk. Dia langsung duduk di sebelah sepupunya itu.


"Apa gerangan yang membawa kamu ke sini?" tanya Gafi.

__ADS_1


"Aku hanya ingin mengucapkan selamat, Kak. Aku doakan semua berjalan lancar hingga hari pernikahan," ucap Axel.


Gafi tersenyum mendengar ucapan dari sepupunya itu. Dia menepuk lengan Axel dengan pelan.


"Maaf, aku mengambil wanitamu!" ucap Gafi.


"Kak Gafi tidak perlu meminta maaf. Lagi pula aku dan Dita hanya sahabat. Kami tidak ada hubungan apa pun!" jawab Axel.


"Kamu yakin tidak memiliki perasaan apa pun dengan Dita?" tanya Gafi.


"Aku tak tahu," jawab Axel.


Dia memang tidak memiliki perasaan apa pun pada Dita awalnya, hingga mereka kembali bertemu kemarin. Ada rasa berbeda saat wanita itu berkata mesra dengan pria lain, apa lagi saat melihatnya berada dipelukan pria lain.


"Apa pun rasa yang kamu miliki untuk Dita, sebagai calon suaminya, aku mohon hilangkan itu. Ikhlaskan dia denganku. Aku pastikan dia akan bahagia. Aku mencintainya dengan seluruh jiwaku," ucap Gafi.


"Aku tahu, Kak. Aku yakin Kak Gafi bisa memberikan kebahagiaan untuk Dita. Aku senang Dita jatuh ke dalam pelukan pria yang tepat. Doaku, semoga Kak Gafi dan Dita bahagia selamanya, hanya maut yang memisahkan," ucap Axel tulus.


Gafi dan Axel lalu berpelukan. Dia telah benar-benar ikhlas melepaskan Dita untuk sang Kakak. Axel yakin jika Gafi bisa membahagiakan sang sahabat.


"Kadang, kamu harus kehilangan seseorang sebelum akhirnya menyadari betapa berartinya dia dalam hidupmu. Terkadang, hal terbaik yang bisa kamu lakukan untuk seseorang yang kamu cintai adalah melepaskannya. Bebaskan ia. Doakan kebahagiaan untuknya dan bebaskan ia. Bebaskan dirimu.Ada saatnya kamu merelakan seseorang yang kamu sayang saat kamu tahu kalau dia lebih bahagia dengan orang lain."

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2