
Gafi duduk di teras kos Dita, gelisah menunggu kedatangan Dita. Hari ini Gafi ingin bicara dengan Dita, karena ia akan diwisuda sebagai sarjana. Namun, ada satu hal yang membuatnya tidak tenang, yaitu Dita belum memberikan kepastian apakah akan hadir di acara wisudanya atau tidak.
Saat Gafi sedang berpikir, tiba-tiba terdengar suara motor. Dia melihat Dita turun dari ojek online. Gafi tidak sempat menjemput karena tadi ada keperluan.
"Hey Kak, sudah lama menunggu?" sapa Dita dengan senyum di wajahnya.
"Baru setengah jam," jawab Gafi.
"Maaf, karena membuat Kak Gafi menunggu. Padahal Kakak bisa datang sore, kenapa harus jam segini?" tanya Dita lagi.
"Aku datang ingin mendengar jawaban darimu," ucap Gafi.
"Jawaban apa, Kak?" tanya Dita dengan dahi berkerut.
"Kamu sampai detik ini belum mengatakan jawaban, apakah bisa hadir di wisuda aku nantinya," jawab Gafi.
"Eh, tenanglah. Aku kan baru datang, belum sempat memberi tahu. Aku akan datang kok." kata Dita sambil meraih tangan Gafi.
Gafi merasa lega mendengar jawaban dari Dita."Kamu serius dengan jawabanmu?" tanya Gafi hampir tak percaya.
Dita menjawab dengan anggukan kepalanya. Hal itu sudah mampu membuat Gafi senang.
"Baiklah, terima kasih atas kehadiranmu. Aku sangat senang kamu mau datang di acara wisudaku." kata Gafi.
"Tidak usah berterima kasihlah, Kak. Aku juga senang bisa hadir di acara pentingnya Kakak." kata Dita.
"Kamu tahu nggak, sejak awal aku masuk di kampus, aku gak pernah sekalipun absen ikut perkuliahan, dan akhirnya, setelah bertahun-tahun, aku berhasil meraih gelar sarjana. Aku merasa sangat bersyukur dan senang bisa menyelesaikan pendidikanku." ujar Gafi.
"Wow, itulah yang membuat Kakak sangat istimewa. Aku juga tahu kalau Kak Gafi berjuang sangat keras selama kuliah. Kakak memang layak mendapat penghargaan atas keberhasilan ini," jawab Dita.
__ADS_1
Gafi mengambil segelas air di meja, lalu ia mengarahkan pandangannya ke Dita.
"Maukah kamu menjadi pasangan perdanaku saat nanti aku menerima ijazah? Aku ingin kamu menjadi orang pertama yang berbicara denganku setelah acara selesai." tanya Gafi dengan senyum di wajahnya.
Dita memandang Gafi, terlihat dia sedang memikirkan jawaban yang sebaiknya diberikan. Setelah beberapa saat, Dita memberikan jawaban dengan nada ragu.
"Kak, aku mau saja menjadi pendamping Kakak. Aku senang bisa hadir di wisuda Kakak. Tapi aku masih ragu, apa aku boleh bertanya?"
"Tentu saja, apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Apa nanti mama Rachel, dan Axel juga hadir?" tanya Dita. Gafi menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
"Kak, maaf ... apa aku boleh berpikir lagi tentang kehadiranku? Aku belum bisa memastikan akan hadir," ucap Dita lagi. Dia baru ingat akan kehadiran Axel, sehingga berpikir ulang atas jawaban yang tadi telah terlanjur dia berikan.
Gafi merasa sedih mendengar jawaban dari Dita. "Kenapa? Apa kamu masih belum bisa melupakan, Axel?" tanya Gafi.
Gafi merasa sedih mendengar alasan tersebut, karena ia merasa acaranya tidak lengkap tanpa kehadiran Dita.
"Apakah kali ini saja kamu tidak bisa menguatkan diri untuk bertemu Axel. Aku sangat berharap kamu bisa hadir di acara itu. Aku akan sangat senang jika kamu bisa datang." lanjut Gafi.
"Dari awal aku memang berencana untuk hadir, tapi aku baru teringat akan kehadiran Axel. Aku minta maaf, tapi aku tidak bisa memaksakan diri untuk datang di acara wisuda, Kakak," jelas Dita.
Gafi tahu bahwa Dita tidak akan mudah untuk dibujuk. Namun, dia tidak ingin menyerah begitu saja. Oleh karena itu, ia mulai merayu Dita.
"Dita, aku berharap kamu bisa merubah keputusanmu. Aku tahu betapa sulitnya ini bagimu, tapi ada sejuta alasan mengapa kamu harus hadir di acara wisudaku." ujar Gafi dengan tatapan penuh harap.
"Alasan apa?" tanya Dita heran.
"Kau adalah orang terdekat selain keluargaku. Bagiku kamu lebih dari sekedar sahabat. Kehadiran kamu sama pentingnya dengan kehadiran kedua orang tuaku," jawab Gafi.
__ADS_1
Dita merasa terharu mendengar ucapan dari Gafi. Dia tahu betapa pentingnya acara wisuda buat Gafi, dan ia akan merasa bersalah jika tidak bisa hadir.
"Aku mengerti kalau acara wisuda itu penting buat Kak Gafi," jawab Dita.
Gafi merasa sedih mendengar jawaban dari Dita. Ia tahu bahwa Dita sudah memutuskan untuk tidak bisa hadir di acara wisudanya. Namun, ia tidak ingin putus asa begitu saja.
"Dita, aku memang mengerti kalau kamu masih belum bisa bertemu dengan Axel. Mungkin kamu takut jika luka itu kembali. Tapi, untuk satu kali ini, bisakah kamu mengorbankan dulu semua itu untuk kepentinganku? Aku tidak akan membiarkan Axel melukai kamu lagi," ujar Gafi.
Mendengar ucapan dari Gafi, Dita terdiam sejenak. Dia tahu betapa hubungannya dengan Gafi dua tahun belakangan ini begitu dekat, dan dia juga tidak ingin mengecewakan Gafi.
"Padahal aku telah mengatakan pada seluruh temanku jika kamu akan hadir sebagai pendamping, karena setelah wisuda kita akan langsung merayakan ke kafe," ucap Gafi.
Dita terdiam sejenak, merenungkan jawaban dari Gafi. Dia dapat melihat jika pria itu sangat mengharapkan kehadirannya.
"Aku akan datang." kata Dita tiba-tiba.
Gafi merasa senang mendengar jawaban dari Dita. Dia tahu bahwa Dita mau mengalah demi kepentingannya.
"Terima kasih, Dita. Aku sangat berterima kasih atas keputusanmu." kata Gafi dengan senyum di wajahnya.
"Kamu benar-benar membuatku merasa bersalah, Kak," ujar Dita.
"Ahh, kamu'kan teman spesialku. Kamu tidak boleh merasa bersalah kepadaku." jawab Gafi.
Dita merasakan kehangatan dari persahabatan mereka. Dia tahu betapa pentingnya teman dalam hidupnya, dan dia bersyukur bisa memiliki teman sebaik Gafi.
Lagi pula, dia tidak mungkin akan bersembunyi terus dari Axel. Dia harus bisa buktikan jika selama ini dia bisa mandiri dan bisa melakukan semua walau tanpa kehadiran Axel di sampingnya.
...----------------...
__ADS_1