
Dua tahun kemudian.
Hubungan antara Gafi dan Dita semakin dekat, walau tidak ada ucapan cinta di antara keduanya. Mereka seperti pasangan kekasih.
Hari ini Gafi sedang merayu Dita agar mau berkumpul dengan temannya besok di sebuah kafe. Dia ingin mengenalkan gadis itu dengan sahabatnya yang lain. Mereka berkumpul karena sebentar lagi akan berpisah.
"Nanti juga ada Elfa dan Rio," ucap Gafi masih merayu Dita.
"Tapi aku malu, Kak. Aku cuma mengenal Elfa dan Kak Rio." Dita masih menolak.
"Ada aku juga. Jangan lupa itu," ucap Gafi.
"Iya, Kak. Tapi ...."
"Ayolah, Dit. Kali ini saja. Kami ingin berkumpul sebelum berpisah setelah wisuda bulan depan," ujar Gafi masih merayu.
Dita terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk. Dia pikir tidak ada salahnya jika dia menemani pria itu. Gafi tersenyum semringah melihat reaksi dari gadis itu.
***
Saat itu Gafi mengajak Dita untuk berkumpul dengan teman-teman kuliahnya. Dita awalnya sempat ragu untuk bergabung karena ia takut tidak dikenal oleh teman-teman Gafi yang lain. Tetapi setelah didorong oleh Gafi yang menyatakan bahwa teman-temannya sangat ramah, akhirnya Dita menyetujui ajakan itu.
Mereka sepakat untuk bertemu di sebuah kafe terkenal di pusat kota pada tengah hari. Gafi sudah menunggu di sana, senyumnya cerah menyambut kedatangan Dita. Ketika Dita memasuki kafe, Gafi berdiri dan berdiri menyambutnya, "Aku kira kamu membatalkan rencana ke sini," ucap Gafi
"Tadi ada tambahan mata kuliah, makanya agak telat," jawab Dita sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kamu tidak telat, kok. Ayo gabung dengan temanku yang lain," ajak Gafi.
Ketika mereka sedang berbicara, seorang laki-laki mendekat dan menyapa Gafi. "Hai, Gafi, kenapa masih di sini. Yang lain sudah berkumpul di dalam," ucap Adam.
Gafi mengenalkan laki-laki tersebut ke Dita, namanya Adam. Adam kemudian menjelaskan bahwa teman-temannya sudah ada di dalam kafe dan mereka segera masuk untuk bergabung.
Mereka menemukan meja besar di sudut kafe, dan di sana sudah duduk lima orang lainnya. Gafi memperkenalkan Dita ke teman-temannya, yaitu Mia, Rendy, dan Jaka. Elfa dan Rendi juga telah bergabung bersama.
Mia menyambut Dita dengan hangat, "Hai, Dita! Aku senang bisa bertemu denganmu. Gafi sering bercerita tentangmu."
"Aku senang bisa bertemu denganmu juga, Kak" jawab Dita tersenyum.
Ketika mereka sudah duduk dan memesan minuman, mereka mulai berbincang-bincang tentang segala hal. Gafi dan teman-temannya mengajak Dita dalam obrolan tentang film dan musik, dan Dita merasa sangat senang bergabung dengan mereka.
"Kamu cantik banget, tidak salah Gafi sering memuji kamu," ucap Mia.
"Kamu baru mengenalkan ke kami, pasti karena takut kami taksir dan rebut'kan?" tanya Rendi.
Elfa dan Rio juga ikut menggoda keduanya. Sehingga wajah Dita memerah karena malu.
Wajah Dita memerah mendengar ucapan Mia. Rendi juga mengatakan jika Gafi sering membicarakan dirinya. Gafi hanya bisa tertawa saat temannya menggoda dia dan Dita. Jika Elfa, sudah sering berkumpul dengan mereka, sehingga tidak asing bagi semuanya.
Saat mereka sedang asyik bercerita, Rendy berseru, "Bagaimana kalau kita memainkan permainan lucu? Aku punya kartu kartun yang bisa kita mainkan."
Mereka semua sepakat dan Rendy segera membawa kartu-kartu tersebut. Setiap orang di meja tersebut harus menggambar kartun yang telah ditentukan. Dita awalnya merasa kurang percaya diri karena ia menganggap tidak terlalu pandai menggambar. Namun, Gafi meyakinkannya bahwa tidak ada yang salah dengan hasil gambar seseorang dan mengajaknya untuk memantau permainan tersebut.
__ADS_1
Mia menjadi salah seorang yang dapat menciptakan gambar yang paling lucu, mengalihkan semua perhatian kepadanya. Tidak berapa lama kemudian, Mia memutuskan untuk pulang karena harus bertemu dengan teman-teman lainnya.
Setelah Mia pergi, obrolan di meja mulai melebar. Mereka membicarakan tentang kuliah dan rencana untuk masa depan. Jaka bercerita tentang rencananya untuk pergi ke luar negeri selama satu tahun pada musim panas tahun depan.
Gafi bertanya, "Apa alasanmu ingin pergi ke luar negeri, Jaka?"
"Dalam upaya untuk memperluas wawasan dan meningkatkan kemampuan berbahasa aku ingin belajar bahasa asing di negara lain. Selain itu, aku ingin melihat dan merasakan budaya baru," jawab Jaka.
"Aku kadang-kadang merenung tentang ini juga," ujar Dita. “Aku berharap bisa melakukan perjalanan ke berbagai bagian dunia dan merasakan budaya yang berbeda.”
"Kita berharap kamu bisa mewujudkannya, Dita," ujar Adam. "Mungkin kita bisa pergi dengan kamu suatu hari nanti."
Obrolan mereka terus berlanjut hingga meja mereka dipenuhi oleh gelas-gelas kosong dan rencana baru. Setelah berjam-jam mengobrol dan bermain game, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Gafi dan Dita pulang bersama-sama, mereka masih asyik bercerita tentang hari itu di kafe. Ketika mereka sudah sampai di depan kos Dita, Gafi berkata, "Aku sangat senang bisa mengajakmu bertemu dengan teman-temanku, Dita."
"Aku juga merasa begitu, Kak," ujar Dita. "Terima kasih banyak untuk mengajakku bergabung dengan teman-teman Kakak. Aku berharap kita segera bisa berkumpul lagi."
Gafi tersenyum dan menjawab, "Tentu saja! Kapan saja kamu ingin bergabung, Dita, jangan sungkan untuk menghubungi aku. Sampai jumpa lagi!"
Dita tersenyum dan berjalan masuk ke dalam kamarnya dengan senyum bahagia di wajahnya. Hari itu adalah suatu hari yang benar-benar menyenangkan bagi Dita dan ia berharap bisa mengulanginya lagi suatu saat nanti.
Gafi merasakan kebahagiaan yang tak terkira. Dua tahun kedekatan mereka, dia merasa sangat cocok dengan gadis itu.
Bulan depan saat wisudanya, Gafi ingin mengajak Dita hadir sebagai teman yang mendampingi. Cuma dia sedikit ragu jika gadis itu mau gabung karena akan ada Axel di antara keluarga besarnya yang datang.
__ADS_1
...----------------...