
Tidak terasa hari pernikahan Gafi dan Dita telah tiba. Hari ini keduanya akan mengikat janji sebagai suami istri. Semua keluarga telah berkumpul di dalam satu ruangan.
Axel memilih duduk di sudut ruangan. Walau dia telah berusaha mengikhlaskan Dita, tapi rasa sedih itu tetap ada. Berbeda dengan Axel, Lisa tampak. sangat berbahagia atas pernikahan Gafi dan Dita. Baginya peluang untuk merebut hati Axel makin besar karena saingannya Dita telah menikah. Walau sudah berulang kali Axel mengatakan putus, tapi dia tetap datang.
Di tengah sebuah gedung telah duduk berhadapan seorang pria tampan bernama Gafi dan pria paruh baya bernama Reno. Didampingi keluarga inti.
Pembawa acara telah memulainya dengan meminta seseorang melantunkan ayat suci Al-quran. Setelah itu acara dilanjutkan dengan kata sambutan atau sepatah kata dari Reno sebagai orang tua.
Reno memegang mic dengan gemetar. Sebenarnya dia tak sanggup bicara karena rasa harunya melepaskan putri kesayangan. Dia menarik napasnya sebelum bicara. Pria itu memandangi setiap sudut ruangan. Penuh dengan tamu undangan. Saat ini tidak bisa dia menggambarkan perasaannya. Bahagia dan terharu karena putri kesayangannya akan menikah. Sedih karena, setelah ini mungkin dia akan jarang bertemu putrinya karena akan tinggal bersama suaminya.
"Gafi, saya mungkin memang bukan ayah terbaik, tapi saya selalu berusaha menjadi yang terbaik buat putriku. Untuk itu saya ingin kamu mendengar sedikit curahan hati saya," ucap Reno. Dia menarik napas sebelum melanjutkan ucapannya.
"Gafi ketahuilah, saya pria pertama yang memeluk putri saya Dita, bukan kamu. Saya adalah orang pertama yang menciumnya, bukan kamu. Saya orang pertama yang mencintainya, bukan kamu," ucapnya sambil terlihat menyeka air mata.
"Tapi saya harap kamu adalah orang yang bisa bersama Dita selamanya. Jika suatu hari kamu tidak mencintainya lagi, jangan katakan itu kepadanya. Sebagai gantinya, katakan kepada saya. Saya akan datang dan membawanya pulang," ucap Reno melanjutkan lagi ucapannya dengan menyeka air mata.
"Jika suatu saat dia berbuat salah beritahu saya, biar saya yang nasehatin. Sampai detik ini saya tak pernah sekalipun memarahinya. Saya tak rela jika ada pria yang memarahi putri kesayangan saya ini." Lagi-lagi Reno menghentikan ucapannya dan kembali menyeka air matanya.
"Akhirnya saat yang dinanti tiba juga, tapi ditakuti oleh seorang ayah dan ibu. Perasaan bercampur baur antara senang dan sedih. Bimbang dan kasihan saat melepaskan genggaman pada anak perempuan yang digendong sejak kecil lalu diserahkan pada seorang pria yang sebentar lagi dipanggil suami." Suara Reno makin hilang karena tangisannya.
"Saya selalu mengharapkan putri kami dijaga dengan baik sama seperti kami menjaga dia. Melindungi martabat, aurat dan akidahnya. Saya titipkan putriku padamu. Tolong jaga putriku, bahagiakan dirinya. Doaku, semoga keluarga yang akan kamu bina dengan putriku kekal dan bahagia selamanya."
__ADS_1
Setelah mengucapkan itu Reno duduk. Tampak air mata jatuh membasahi pipinya. Bukan saja Reno, tapi hampir semua yang hadir larut dalam kesedihan.
Suasana haru tampak mewarnai suasana di ruangan itu. Semua yang hadir merasa ikut larut dengan ucapan Reno.
Pembawa acara mengatakan jika Dita akan meminta restu pada kedua orang tuanya. Dari dalam kamar tempat gadis itu berada terdengar suara pembawa acara.
Dari layar televisi yang tersedia tampak Dita sedang berada di salah satu ruangan, tempat dirinya berhias. Mik telah berada di tangan gadis itu.
"Selamat Pagi, Ayah, dan Ibu. Hari ini izinkan anakmu menyampaikan sedikit kata sebelum pernikahan dimulai," ucap Dita. Dia berhenti sejenak untuk mengatur napas.
"Ayah dan Ibu, ananda mengucapkan terima kasih karena telah membesarkan ananda dengan penuh kasih sayang."
Kembali Aqila menjeda ucapannya. Tampak air mata mulai jatuh dari sudut matanya.
Dita menghapus air mata dipipinya. Di sampingnya duduk Syifa. Sahabat Dita itu menyodorkan tisu untuk menghapus air matanya. Setelah dapat mengatur napasnya, dia kembali melanjutkan ucapan.
"Ibu, aku masih ingat dulu waktu aku kecil, saat aku jatuh, Ibu juga merasakan sakitnya. Saat terluka dan patah hati, Ibu juga ikut merasakan. Kalau aku kenapa-napa, Ibu yang panik setengah mati, kalau ku butuh apa-apa Ibu selalu sediakan. Aku menyayangi Ibu sepenuh hati," ucap Dita dengan terisak.
"Dan untukmu Ayah. Cinta pertamaku, aku tau jika ayah sangat mencintaiku. Ayah selalu menyempatkan waktu di sela kesibukan untuk menghubungiku. Ayah selalu bertanya kabarku. Aku tau cintamu tak kalah besarnya dengan Ibu. Aku juga sangat mencintaimu, Ayah."
Tangisan Dita akhirnya pecah. Tidak peduli itu akan merusak riasan diwajahnya. Di luar ruangan, tepatnya di tempat para tamu hadir, ayah dan ibunya Dita juga terisak menahan tangis. Setelah kembali bisa menahan tangisnya, gadis itu melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Ayah dan Ibu, izinkan aku menikah dengan pria pilihanku. Aku yakin dengan restu kalian, aku akan dapat mengarungi semuanya. Doakan putrimu ini dapat menjalankan rumah tangga dengan baik, dan dapat menjadi istri yang dibanggakan. Sekali lagi izinkan aku untuk menikahi pria pilihan hatiku. Terima kasih untuk cinta kasih yang Ayah dan Ibu berikan selama ini. Aku mencintai dan menyayangi kalian berdua," ucap Dita mengakhiri kata mohon restunya.
Pembawa acara meninggalkan kamar tempat Dita di rias. Di dalam kamar itu tangisan gadis itu pecah dalam pelukan Syifa. Gadis itu meminta agar dia sedikit menahan tangisnya. Penata riasnya, kembali memperbaiki bedak Dita yang sedikit luntur karena tangisannya.
Pembawa acara kembali memberikan mik pada Ayah Reno yang akan memberikan restu mewakili Ibu Yuni. Wanita itu sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi karena menangis.
"Dita putriku, mungkin esok, ayah tidak bisa lagi menengok di jendela dan menunggu depan pintu kapan kamu pulang setelah seharian lelah di luar sana. Tidak sering lagi kirim pesan Whatsapp menanyakan dimana posisi dan sekadar mengingatkan makan. Ayah juga tidak lagi masuk kamarmu, mencium dahi sebelum kamu tidur."
Ayah Reno menghentikan ucapannya. Tampak pria itu menarik napas, menahan agar tidak menangis.
"Ayah pasti akan rindu melakukan semua itu lagi. Tapi Ayah harus terima kenyataan kamu kini sudah menjadi calon istri. Rasanya, tak percaya saat melihat foto-foto lama beberapa waktu lalu, putri kecil Ayah kini telah dewasa."
Ayah Reno lagi-lagi menghentikan ucapannya. Tampak Ibu Yuni berdiri, meminta mik. Mungkin wanita itu juga ingin mengatakan sesuatu.
"Untukmu putriku Dita, dan juga calon menantuku Gafi, hari ini akan menjadi satu di antara hari-hari yang paling bersejarah dalam kehidupan kalian berdua. Hari ini adalah awal mulanya kalian meniti kehidupan baru bersama, menyemai cinta hingga usia senja, menikmati hari-hari bersama, saling melengkapi dan berbagi, menggapai visi yang sama, meraih ridha dan SurgaNya. Semoga cinta kalian abadi selamanya. Selamat menempuh hidup baru putri ibu tercinta. Anakku Sayang, ayah dan ibu dengan rida dan ikhlas telah memaafkan semua kesalahanmu dan merestui pernikahanmu."
Yuni lalu menyerahkan mik dan kembali duduk. Tampaknya masih ada yang ingin Reno sampaikan. Pria itu kembali berdiri.
"Sesuai dengan permintaanmu, sebentar lagi ayah akan menikahkan kamu dengan kekasih pilihan hatimu, Gafi. Pesan ayah, apa yang telah kami berikan kepadamu, jadikanlah sebagai bekal hidupmu dalam berumah tangga. Semoga akad nanti berjalan lancar."
Reno lalu duduk kembali. Semua makin larut dalam suasana haru. Pembawa acara mengatakan jika tibalah giliran pengantin pria, Gafi, yang akan memohon restu.
__ADS_1
...----------------...