TAK SEINDAH SURGA S1/S2

TAK SEINDAH SURGA S1/S2
Bab 71 S2. Bangunlah, Sayang!


__ADS_3

Semua keluarga tidak ada satu pun yang mengatakan kemungkinan yang akan dialami Gafi. Mereka sepakat menutupi semuanya. Biarlah waktu yang akan menjawabnya nanti.


Dita masuk ditemani Axel. Mama Alya yang meminta. Dia tidak sanggup jika harus melihat menantunya menangis ketika melihat Gafi yang terbaring lemah.


Saat melihat suaminya yang terbaring dengan bantuan berbagai macam alat medis dan selang di seluruh tubuh, Dita tidak bisa lagi menahan tangisnya. Tangannya gemetar, dia lalu menggenggam tangan Axel yang mendorong kursi rodanya.


"Axel, Kak Gafi pasti sembuhkan. Dia tidak akan meninggalkan aku'kan?" tanya Dita demgan suara gemetar.


"Berdoalah untuk kesembuhan Kak Gafi. Aku yakin cintamu akan membuat dia kembali pulih," ucap Axel.


Dita di dorong hingga ke samping tempat tidur Gafi. Pria itu terbaring tanpa gerak. Walau telah dilewati masa kritis, tetap saja semua organ vitalnya belum berfungsi normal.

__ADS_1


Dita melihat banyak luka di wajah dan tubuh suaminya. Dia kembali teringat kejadian kecelakaan itu. Gafi langsung memeluk tubuhnya melindungi dari pecahan kaca mobil yang ditabrak dari depan. Dia rela mengorbankan nyawanya demi sang istri.


"Axel, Kak Gafi begini karena melindungi aku dari luka parah, tapi dia sendiri harus terluka begini. Kenapa dia melakukan itu? Seharusnya Kak Gafi selamatkan saja dirinya. Aku pasti juga bisa menjaga diri. Kenapa harus begini?" ucap Dita dengan suara serak karena menangis.


Axel mengusap kepala Dita, mencoba menghibur wanita itu. Dia juga merasa sedih melihat keadaan Gafi.


"Semua suami pasti akan melakukan hal yang sama. Melindungi istrinya. Jadi kamu jangan merasa bersalah," ucap Axel.


Dita meraih tangan suaminya. Mengelus dengan lembut. Dia melihat tangan yang sering menyuapi dia itu kita kaku dan dingin. Kembali air mata mengalir membasahi pipi Dita.


Axel mendekati Dita dan memeluknya. Tangis Dita makin pecah dalam pelukan pria itu. Cukup lama dia menangis, hingga Axel mengingatkan jika waktunya telah habis.

__ADS_1


Dita meraih tangan sang suami dan menggenggamnya erat. Dia mengecupnya lama sekali.


"Sayang, bangunlah. Jangan terlalu lama tidurnya. Jangan terlena dalam lelapmu. Apa kamu lupa dengan janjimu? Katanya kamu akan selalu menemani aku. Katanya kamu akan selalu di sampingku. Aku ingin tidur dalam pelukan kamu, Kak. Bangunlah! Bangunlah, Kak! Jangan hukum aku, Kak. Jika aku tahu keadaan Kakak akan begini, aku tidak mau di peluk saat itu. Aku mohon, Kak, bangunlah!"


Dita berucap dengan air mata yang terus mengalir. Hatinya remuk melihat keadaan suaminya. Baru saja dia merasakan kebahagiaan sebagai pengantin baru, tapi harus menerima cobaan seberat ini.


"Dita, waktunya sudah habis. Besok lagi ya kamu datang untuk menemani Kak Gafi," ucap Axel.


"Kak, aku pamit. Ingat Kak, janji kamu akan menemani aku hingga kita sama-sama menua. Aku besok akan datang lagi. Cepat sembuh cintaku. Kaulah napasku," ucap Dita.


Sebelum keluar dari ruangan, Dita kembali mengecup tangan Gafi cukup lama. Setelah itu barulah dia keluar dari kamar. Baru saja tiba di luar ruang ICU tangisnya pecah.

__ADS_1


"Ya Allah, izinkan aku untuk menangis sebentar, bukan aku tidak ikhlas atas takdirmu. Tetapi biarkan aku lumpuhkan segala kelelahan yang aku rasakan sebentar saja. Terlihat kuat bukan berarti aku tidak pernah meneteskan air mataku. Dalam kondisi ini aku bersyukur atas ujian, karenanya aku menjadi lebih kuat. Semoga aku bisa bersabar ketika diberikan ujian lagi.Ya Allah sebenarnya aku tidak ingin bersedih. Sebenarnya aku ingin tetap terlihat kuat. Ingin sekali bercerita, tapi tidak tahu ingin cerita dengan siapa? Ya Allah kuatkan aku, jika aku rapuh peluklah aku, dan jika aku lemah berikanlah kekuatan pada hatiku."


...----------------...


__ADS_2