
Setelah jam sepuluh malam, ketiga sahabatnya pamit. Dita masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Dia langsung membaringkan tubuhnya.
Walau temannya memberikan kejutan di hari ulang tahunnya, Dita masih merasa ada yang kurang. Selain kedua orang tuanya, Dita sering mendapatkan kejutan dari Mama Rachel. Semuanya tiada di tahun ini.
Dita menghapus air mata yang jatuh membasahi pipi. Dia tidak boleh cengeng. Bukankah semua ini keinginan dirinya yang ingin kuliah di luar kota.
Dita teringat ucapan ayahnya sebelum dia berangkat. Malam itu Reno dan Yuni tidur bertiga dengan sang putri.
"Ayah sulit memahami seorang wanita, tapi ayah berjanji akan selalu belajar untuk memahami mu, Nak. Ayah akan selalu berjalan di sampingmu, menggenggam erat tanganmu, menghapus kesedihanmu, dan siap menjadi tempat kau melampiaskan kemarahanmu. Ayah sangat mencintaimu. Berjuanglah dengan sungguh-sungguh, kelak kamu pasti mendapatkan apapun yang kamu inginkan. Bagi setiap orang, ayah adalah cinta pertama anak perempuan. Tapi bagi ayah sendiri, kamu adalah cinta kedua setelah ibumu. Ayah memang tak memiliki banyak waktu bermain dengan mu. Dengan kedua tangan ini ayah ingin kau mengejar mimpimu setinggi mungkin. Kebahagiaan terbesar bagi ayah adalah kebahagiaanmu, putri ayah tercinta."
Ayah merupakan sosok yang berharga bagi setiap anak-anaknya, bahkan anak perempuan kerap menyebut ayahnya sebagai cinta pertamanya. Bagi anak perempuan ayahnya adalah sosok super hero dalam hidupnya, sosok yang sering kali lebih mengerti perasaannya dibanding orang-orang di sekelilingnya. Setiap kata-kata bijak yang keluar darinya merupakan petuah berharga bagi kehidupan sang anak.
Setelah puas menangis akhirnya Dita tertidur. Mungkin karena lelah sehingga tidurnya sangat nyenyak.
Jam dua dini hari, Dita terbangun karena rasa dahaga di tenggorokan. Membuka matanya perlahan, Dita terkejut saat merasakan pelukan seorang pria. Dia menghidupkan lampu yang berada di samping tempat tidur.
Dita melihat ayahnya Reno yang memeluk tubuhnya. Dia mencubit tangannya memastikan apakah ini mimpi. Dita merasakan sakit. Gadis itu juga melihat ibunya yang tidur di sofa. Air matanya jatuh membasahi pipi. Ternyata kedua orang tuanya datang juga merayakan ulang tahunnya.
__ADS_1
"Ayah, jahat banget," ucap Dita dengan mengguncang tubuh Reno. Kedua orang tuanya memang memiliki satu kunci kamar Dita.
Reno membuka matanya dan tersenyum. Dia lalu duduk. Ibunya juga terbangun dan mendekati Dita. Anak gadisnya itu memang sangat manja dengan Reno.
"Bertahun-tahun lalu, hidup Ayah menjadi lengkap karena kelahiranmu. Selamat ulang tahun, putriku. Semoga tahun ini Tuhan menyempurnakan kebahagiaanmu. Dulu hanya ada dua wanita yang Ayah cintai. Nenekmu dan ibumu. Tapi, ketika kau lahir, bertambah lagi satu perempuan kecintaan Ayah," ucap Reno. Dia memeluk dan mengecup dahi sang putri.
"Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin Ayah menimangmu dalam pelukan. Lihat, kini kau sudah besar. Mungkin kini kamu merasa sudah besar.
Sebesar apapun kamu nanti, Ayah akan tetap menganggapmu sebagai putri kecil Ayah. Ijinkan Ayah untuk selalu menganggapmu sebagai putri kecil untuk Ayah. Selamat ulang tahun, putri kesayangan Ayah. Semoga umurmu panjang. Semoga Ayah selalu bisa mendampingi di usia panjangmu."
"Ayah, aku sangat mencintaimu," jawab Dita dan membalas pelukan ayahnya.
"Kenapa Ibu berbohong? Katanya di luar negeri," ujar Dita terbata karena menahan isak tangisnya.
"Ayah dan Ibu memang sedang di luar negeri saat kemarin kamu telepon. Kami langsung terbang ke sini. Bagaimana bisa ayah kamu melewatkan hari istimewa putrinya," ucap Yuni.
Memang semua ini keinginan Reno. Yuni sudah menyarankan untuk datang dua hari lagi. Biar istirahat satu hari di rumah, tapi Reno tidak setuju. Baginya hari ulang tahun putrinya tidak boleh terlewati.
__ADS_1
"Selamat ulang tahun putriku tersayang. Kamu sangat berharga, dan kamu harus tahu bahwa kamu adalah segalanya dalam hidup Ibu. Semoga hari ulang tahunmu ini dipenuhi dengan cinta.Kamu adalah putri Ibu yang hebat, menawan, dan sangat menggemaskan. Ibu bangga bisa menjadi ibumu, karena tak ada yang lain yang seindah kamu. Selamat ulang tahun gadis kecil Ibu," ucap Yuni dengan mengecup kedua pipi putrinya.
"Aku juga bangga menjadi putri, Ibu. Aku sayang, Ibu," jawab Dita.
Malam itu mereka tidur bertiga di ranjang kecil Dita. Saling berpelukan.
***
Yuni sedang memasak saat terdengar suara pintu kamar anak gadisnya di ketuk. Reno masih terlelap di alam mimpinya. Sedangkan Dita sedang berada di kamar mandi. Jadi Yunilah yang harus membukakan pintu. Wanita itu berjalan menuju pintu kamar kos putrinya. Membukanya secara perlahan.
Saat pintu telah terbuka, Yuni terkejut melihat siapa yang berada di balik pintu. Begitu juga dengan orang itu, dia tidak kalah terkejut saat melihat Yuni.
"Selamat Pagi, Tante. Dita-nya ada?" tanya Gafi dengan gugup.
"Gafi ... kamu kuliah di sini juga?" tanya Yuni.
Selama ini Dita tidak pernah mengatakan jika dia dan Gafi kuliah di tempat yang sama. Dia juga tidak pernah mengatakan tentang kedekatannya dengan pria itu.
__ADS_1
...----------------...