
Jam delapan malam, Gafi dan Dita sampai di rumah orang tuanya sang gadis. Yuni yang telah menunggu di ruang keluarga langsung menyambut kedatangan putrinya dan Gafi. Pria itu menjabat tangan Yuni.
"Bu, Kak Gafi tidak bisa lama-lama. Sudah capek mengendarai mobil sepuluh jam," ucap Dita.
"Tak apa. Kamu langsung pulang dan istirahat saja," jawab Yuni.
"Maaf, Tante. Aku tidak bisa duduk dan mengobrol dulu," ucap Gafi.
"Tak apa, ibu paham. Ayah Reno juga pasti langsung istirahat jika habis dari perjalanan."
Gafi kembali menyalami tangan Yuni sebelum pamit. Dita mengantar hingga pria itu masuk mobil. Dia kembali masuk ke rumah setelah mobil kekasihnya hilang dari pandangan.
Yuni duduk menunggu putrinya. Dia ingin mengobrol sedikit dengan Dita, sebelum putrinya beristirahat.
Dita masuk dan mengecup pipi ibunya. Duduk di samping wanita itu dengan kepala bersandar di bahu Yuni.
"Apa kamu yakin akan menikah?" tanya Yuni membuka obrolan.
__ADS_1
"Iya, Bu." Hanya jawaban singkat itu yang Dita berikan.
Yuni mengusap rambut putrinya. Dia lalu mengecupnya. Sebenarnya ada rasa keberatan dalam diri sang ibu untuk melepaskan sang putri berumah tangga secepat ini. Baru kemarin rasanya dia melahirkan buah hatinya itu.
"Menikah itu pelajaran seumur hidup, bukan hal yang mudah, Nak. Pernikahan adalah komitmen, dan butuh waktu serta kesabaran untuk menumbuhkan pernikahan yang baik. Jika kamu ingin pernikahanmu langgeng, itu tidak hanya membutuhkan komitmen tetapi juga cinta dan pengetahuan."
"Aku tahu, Bu. Aku yakin bisa melewati semua karena selama dua tahun bersama Kak Gafi dia selalu saja membuat aku bahagia," jawab Dita.
"Menikah bukan mencari bahagia, tapi untuk beribadah. Bahagia hanyalah makmum dari ibadah dan berkah dalam sebuah pernikahan," ucap Reno.
Yuni dan Dita langsung menoleh ke asal suara. Pria itu langsung pulang mendengar kabar dari Yuni jika sang putri akan di lamar. Melihat ayahnya, Dita berdiri dan memeluk pria yang menjadi cinta pertamanya. Reno membalas pelukan sang putri dan mengecup kedua pipinya.
"Ayah sudah tidak sabar ingin melihat wajah calon pengantin," ucap Reno untuk menggoda sang putri.
"Ayah, kok jawabnya gitu."
"Lah, emang begitu 'kan? Katanya putri ayah sudah tak sabar ingin menikah?" tanya Reno dengan suara lembut.
__ADS_1
Sebagai seorang ayah, Reno sangat menyayangi dan memanjakan sang putri. Tidak pernah sekali pun dia membentak atau bersuara keras saat bicara. Dita sangat menyayangi sang ayah karena sikapnya itu.
"Apa ayah setuju? Tidak marah kalau aku menikah cepat?" Dita balik bertanya.
"Kenapa ayah harus marah? Setiap orang tua harus siap menghadapi situasi ini. Cuma ayah ingin tahu, apakah kamu yakin akan menikah dengan Gafi?" tanya Reno dengan serius.
"Aku yakin, Yah. Dua tahun aku dekat dengan Kak Gafi, tidak pernah dia marah atau bersuara keras saat marah. Kak Gafi juga sangat sabar menghadapi aku yang suka ngambek. Sikap dan sifatnya sama seperti ayah," ucap Dita.
Reno menarik napas dalam. Sebenarnya dia telah melihat sendiri jika Gafi sangat penyayang pada putrinya setiap mereka berkunjung ke kos Dita. Yang menjadi keberatan bagi Reno hanyalah keluarga Gafi. Jika Dita menikah dengan pria itu, otomatis dia juga berhubungan dengan Axel. Dan dia takut jika luka putrinya kembali berdarah jika sering bertemu. Atau justru sang putri nanti jadi berharap lagi dengan Axel.
"Dita, Pernikahan itu sekali seumur hidup. Pasangan yang kamu pilih adalah pasanganmu sampai mati. Salah atau benar, itulah pasanganmu. Jangan pernah berpaling, jika nanti setelah menikah kamu menemukan kekurangannya. Menikah itu harus saling melengkapi," ucap Reno.
Dita hanya menganggukan kepalanya tanda setuju dengan ucapan sang ayah. Dia telah memikirkan ini.
"Sebagian remaja mengira pernikahan seperti memasuki restoran di mana orang-orang hanya menemukan yang enak-enak saja.Pernikahan yang diharapkan itu karena cinta. Bukan hanya komitmen atau rasa tanggung jawab saja! Bukan karena rasa bersalah karena perbuatan masa lalu," ucap Reno lagi.
Dita hanya diam, tidak menjawab apa yang ayahnya katakan. Dia merasa Reno tidak setuju dengan pernikahan ini.
__ADS_1
"Apa ayah tidak setuju jika aku menikah muda, atau ayah tidak setuju karena aku menikah dengan Kak Gafi?" tanya Dita dengan suara pelan.
...----------------...