
Setelah Axel pergi, dan menghilang dari pandangannya, Dita kembali terduduk di pasir. Tangisnya terdengar menyayat hati. Syifa berjongkok dihadapan sahabatnya. Memeluk tubuh gadis itu.
"Menangislah, Dita. Lepaskan semua beban dihatimu. Mungkin dengan begitu semua sakit hatimu juga ikut keluar, dan pergi!" ucap Syifa.
Dita terisak dalam pelukan Syifa. Gadis itu mengajak Dita berdiri dan pindah duduk di taman.
"Kalau kamu sudah tidak dihargai, jangan sedih apa lagi marah, itu berarti kamu salah tempat. Pergilah! Pergi menjauh darinya. Jangan buang-buang waktumu berurusan dengan orang yang tidak menghargai kamu," ucap Syifa sambil mengusap air mata sahabatnya itu.
Dita menganggukan kepalanya menyetujui ucapan Syifa. Dia berusaha tersenyum di sela tangis.
"Bagaimana jika kita cabut dari sekolah. Kita ngemal," ucap Syifa.
"Tapi tas aku masih dalam kelas," ujar Dita.
"Biar saja, besok bisa di ambil. Yang penting kita hari ini mau bersenang. Kita pergi nonton!" ucap Syifa dengan riang.
"Nanti saat keluar dari gerbang, apa alasan kita dengan satpam?" tanya Dita.
"Kamu katakan saja jika aku pingsan dan mau di bawa ke rumah sakit. Aku akan pura-pura pingsan nanti," ucap Syifa memberikan solusi.
__ADS_1
Setelah cukup berpikir, Dita akhirnya setuju dengan usul Syifa. Saat dia ke parkir mau mengambil mobilnya, Axel yang izin keluar kelas melihat. Dia mengintip apa yang gadis itu lakukan.
"Mau kemana, Dita? Apa dia cabut dari sekolah," gumam Axel dalam hatinya.
Axel sengaja minta izin setelah dua jam pelajaran pertama Dita tidak masuk juga. Dia menjadi kuatir. Pria itu melihat mobil Dita keluar dari gerbang sekolah. Setelah mobil menghilang, Axel kembali ke kelas.
Dita dan Syifa menghabiskan waktu seharian di mal. Mereka pergi ke kafe, menonton dan bermain. Hingga jam lima sore baru keduanya pulang ke rumah. Dita mengantar Syifa hingga ke rumah.
"Ingat, lupakan pria itu. Dia tidak pantas kamu tangisi. Kamu harus buktikan jika tanpa dirinya kamu masih bisa menjalani hidup ini jauh lebih baik. Hargai diri kamu, cukup sudah kamu merendahkan diri dihadapannya. Kamu cantik bagi yang menghargai," ucap Syifa sebelum keluar dari mobil.
Dita memeluk sahabatnya itu. Walau mereka selama ini tidak begitu dekat, tapi ternyata dia begitu perhatian dengannya. Dita merasa sangat terharu.
Reno sudah mendengar dari Yuni tentang perasaan Dita pada Axel. Dia juga tidak bisa menyalahkannya, antara mereka belum ada ikatan.
"Menangislah, Sayang. Bahu ayah masih kuat sebagai penopang bagimu,"ucap Reno.
Dita menangis terisak, apa lagi saat ayahmya mengecup pipi dan mengusap rambutnya.
"Sekuat atau sekekar apapun tubuh ayah, ia akan merasa lemah saat melihat buah hatinya sakit. Ayah jugalah orang yang akan maju pertama kali ketika kamu dilukai orang lain. Dia tak akan mampu melihat air matamu itu menetes. Meski matanya tak pernah menangis, tapi hatinya akan hancur jika kamu terluka. Tapi kali ini maafkan ayah, karena tidak bisa memberikan kamu perlindungan dari pria yang menyakiti kamu itu, Nak," gumam Ayah Reno dalam hatinya.
__ADS_1
Setelah puas menangis, Dita memandangi kedua orang tuanya. Ibunya Yuni juga tampak terisak melihat putrinya serapuh itu. Dia juga pernah merasakan sakit saat mengetahui kekasihnya berselingkuh.
"Ayah, Ibu aku ingin pindah sekolah," ucap Dita dengan suara pelan, tapi masih dapat di dengar kedua orang tuanya.
"Sayang sekali jika kamu harus pindah sekarang. Enam bulan lagi kamu telah tamat dari sekolah itu," ucap Yuni.
"Baiklah, Bu. Tapi aku ingin kuliah keluar kota atau luar negeri setelah tamat," ucap Dita lagi.
"Terserah kamu mau melanjutkan kemana, tapi saat ini ibu ingin kamu bertahan dulu," ucap Yuni.
"Baiklah, Bu. Ayah, Ibu, aku capek. Aku mau istirahat dulu," ujar Dita.
Kedua orang tuanya langsung menganggukan kepala tanda setuju. Lalu Dita menyalami kedua orang tuanya dan mengecup pipinya.
Tanpa. mengganti baju sekolah dan juga membasuh muka, Dita langsung membaringkan tubuhnya. Menatap langit kamar, dan kembali air matanya jatuh membasahi pipi mengingat kejadian di sekolah tadi.
"Jika suatu hari aku pergi, pamit mundur dari hidupmu, karena aku tahu kepergianku tidak akan membuatmu merasa kehilangan. Jika kamu takut kehilangan, kamu pasti tidak akan mengusirku dan memintaku menjauh. Kepergianku tidak akan membutmu berpikir bahwa kamu telah menyia-nyiakan aku, dan tidak akan membuatmu sadar bahwa akulah seseorang yang selalu ingin membuatmu bahagia. Meskipun perjuanganku tak pernah kamu hiraukan, bahkan dengan sengaja kau patahkan dan sekarang berbahagialah, setidaknya aku yang kau anggap tidak baik ini akan pergi dari hidupmu. Satu hal, orang yang kamu paksa menjauh kini sadar dan tahu caranya berjalan mundur," gumam Dita dalam hatinya sebelum memejamkan mata.
...----------------...
__ADS_1