
Setelah satu minggu di rumah sakit akhirnya Rachel diizinkan kembali ke rumah. Semenjak dia meminta berpisah, suaminya itu tidak banyak bicara. Hanya seperlunya saja.
Dalam perjalanan menuju ke apartemen, Rachel akhirnya membuka suara kembali. Mereka harus bicara, pikir wanita itu.
"Mas, apa tidak sebaiknya aku mencari kontrakan. Nggak usah kembali ke apartemen lagi," ucap Rachel.
Ucapannya itu membuat Farhan terkejut, hingga menginjak rem. Beruntung tidak ada lawan dan mobil tadi sedang berjalan pelan.
"Apa maksud kamu, Chel?" tanya Farhan.
"Bukankah kita akan berpisah, lebih baik kita tidak tinggal satu atap lagi," ucap Rachel, dan itu makin membuat Farhan kaget.
"Siapa yang akan pisah. Apa aku pernah mengucapkan talak? Tidak pernah bukan?" tanya Farhan lagi.
"Tapi aku ingin kita pisah," ucap Rachel dengan lirih.
"Jangan memulai pertengkaran lagi, Chel. Tidak ada yang harus berpisah," ucap Farhan.
Dia kembali menjalankan mobilnya menuju apartemen. Sesampainya di parkir, Farhan membukakan pintu untuk istrinya itu. Membawa semua barang bawaan.
__ADS_1
Rachel berjalan dengan lesu. Dia enggan melangkah ke apartemen, karena terlalu banyak kenangan pahit di sana. Dadanya sesak jika mengingat hari itu.
Rachel langsung masuk ke kamar. Ingin rasanya dia berteriak melepaskan semua beban di hati. Farhan meletakan tas di kamar. Mendekati istrinya yang duduk di dekat jendela.
"Istirahatlah. Biar aku yang masak makan malam untuk kita." Pria itu lalu mengecup dahi istrinya sebelum melangkah keluar kamar. Sikapnya tetap manis dan lembut. Tapi bagi Rachel semua tidak ada artinya lagi.
Setengah jam berlalu, Rachel mendengar suara bel berbunyi. Dia ingin membukakan pintu, tapi sepertinya Farhan telah lebih dahulu melakukan itu.
Rachel mengintip dari balik pintu kamar, ingin tahu siapa yang bertamu. Semenjak mereka menikah, belum ada yang datang berkunjung.
Melihat suara berisik, Rachel makin penasaran. Sehingga keluar dari kamar. Betapa terkejutnya wanita itu melihat tamu yang datang ternyata semua teman Farhan termasuk Andin. Rachel hanya memberi senyuman pada Reno.
"Maaf, mungkin kedatangan kami sangat mengganggu. Aku terpaksa ikut karena tidak ingin kejadian di villa saat bulan madu terjadi. Di mana mereka mengacuhkan kehadiran kamu. Apa lagi saat ini ada Andin. Aku tahu kamu pasti sangat tidak nyaman dengan kedatangan kami." Itu pesan yang Rachel terima. Setelah membacanya Rachel hanya memberikan senyuman walau mungkin tidak terlihat karena dia memakai cadar.
Reno dan Rachel sebelumnya telah pernah chat, hanya untuk saling bertukar nomor ponsel. Sehingga mereka telah saling simpan nomor masing-masing.
Setelah Farhan mempersilakan semuanya duduk, Rachel ikut duduk di antara mereka. Suaminya masih tetap berdiri.
"Kalian duduk dulu. Aku buatkan air minum. Mau minum apa?" tanya Farhan.
__ADS_1
Yuni, Mia dan Andin saling pandang. Andin yang sedang menggendong anaknya lalu berdiri.
"Mia, tolong gendong anakku. Kamu duduk aja. Biar aku yang buat air minumnya. Masa di sini ada cewek, tapi cowok yang ke dapur," ucapnya sambil memandang ke arah Rachel.
"Jangan bicara begitu, Andin. Jangan samakan suami kamu dengan Farhan. Dia mungkin selalu meratukan istrinya. Semua di kerjakan sendiri karena tak ingin istrinya capek. Betul begitu, Rachel?" tanya Mia.
"Beruntung banget Rachel dapat suami seperti Farhan. Tapi Rachel pasti masih ingatkan kodrat sebagai seorang istri?" tanya Yuni dengan bibir mencibir.
Reno tahu pasti saat ini, Rachel mulai tidak nyaman dengan mulut sahabatnya. Dia sengaja ikut saat Dodi mengajak karena tahu bagaimana lancangnya uacapan teman-temannya, apa lagi saat ini ada Andin. Di mobil tadi Andin juga telah cerita jika dia dan Rachel telah bertemu dan mengatakan jika wanita itu sangat sombong dan cemburu dengan dirinya.
"Maaf Mbak Andin, Mbak Yuni dan Mbak Mia, aku harap jangan mengambil kesimpulan dari apa yang kalian lihat saat ini. Apa kalian pikir Mas Farhan sesempurna itu? Aku akui beruntung memiliki suami sebaik Mas Farhan, tapi setiap manusia itu memiliki kekurangan dan kelebihan. Mas Farhan, baru kali ini ke dapur. Sebagai seorang istri aku juga tahu kewajibanku. Dia juga mau ke dapur karena aku baru pulang dari rumah sakit satu jam yang lalu," ucap Rachel dengan penuh penekanan.
Wanita itu berdiri dari duduknya. Wajah ketiga teman wanita Farhan tampak memerah karena malu.
"Mbak Andin silakan duduk saja. Biar aku yang buatkan air. Jangan nanti jadi bahan ejekan jika nanti Mbak sebagai tamu yang membuat air minum sendiri," ucap Rachel. Wanita itu berjalan menuju dapur tanpa pedulikan apa tanggapan dari teman-teman suaminya itu.
Dia tidak peduli walau Farhan marah, karena dia juga akan tetap mengajukan surat cerai dan pergi dari aparteman. Rachel tahu pada siapa dia akan meminta bantuan, Kak Nando. Itu yang ada dalam pikirannya.
"Maaf ya jangan tersinggung atas ucapan Rachel. Dia memang baru saja pulang dari rumah sakit. Kalian duduk dulu, aku bantu Rachel buat air dulu," ucap Farhan. Pria itu lalu menuju dapur menyusul Rachel.
__ADS_1
...----------------...