
Tanpa mereka sadari Rachel telah berdiri di sana. Dia membawa dua gelas jus jeruk dan sepiring kue.
"Maaf Mbak Yuni, aku tidak bermaksud menguping, aku kebetulan datang hanya untuk membawa ini." Rachel lalu meletakan semua yang dia bawa ke meja.
"Tidak apa, Chel. Apa kamu telah selesai masaknya?" tanya Yuni.
"Bibi yang lanjutkan. Aku sudah memberi bumbu, tinggal goreng saja ayam dan ikannya."
"Kalau begitu gabung sini. Kita ngobrol bareng."
Rachel duduk di samping Yuni. Axel masih lelap tidurnya dalam ayunan.
"Menurut kamu cara Move on terbaik itu, bagaimana?" tanya Yuni.
Rachel memandangi wajah Yuni dengan tersenyum. Dia tidak percaya jika wanita itu justru bertanya dengannya. Yuni yang dipandangi dapat memahami jika Rachel segan untuk memberikan pendapat.
__ADS_1
"Jangan sungkan, Chel. Aku ingin tahu pendapat kamu," ucap Yuni.
"Aku takut salah ucap, Mbak. Lagi pula usia aku jauh di bawah Mbak Yuni dan Kak Reno."
Reno mengubah cara duduknya. Kali ini pria itu duduk menghadap Rachel dan Yuni.
"Menurutku tidak ada hubungan usia untuk memberikan pendapat. Terkadang usia yang muda itu lebih banyak pengalaman hidupnya sehingga dia lebih bijaksana dalam menyingkapi hidup ini," ujar Reno.
Rachel menarik napas. Kembali memandangi Reno dan Yuni bergantian. Dia bukan Tuhan yang bisa menentukan jodoh seseorang, tapi jika dia boleh meminta, dia ingin kedua orang ini berjodoh. Rachel tahu betapa baiknya Reno. Begitu juga Yuni. Jika dulu dia pernah menyakiti dirinya, itu semua karena dia terlalu setia dalam bersahabat sehingga tidak bisa lagi membedakan salah dan benar.
"Maaf Mbak Yuni, bukannya aku ingin menggurui tapi ini menurut pendapat aku saja. Cara move on paling baik adalah nikmatin dulu rasa sakitnya. Sebulan, dua bulan, tiga bulan, atau berapa pun waktu yang kamu perlukan. Namun, kamu harus ingat, jangan membuat diri sendiri sakit. Nanti kamu sendiri yang akan mati rasa dengan orang yang pernah menyakiti hatimu," ujar Rachel.
Yuni menganggukan kepalanya tanda setuju dengan apa yang Rachel ucapkan. Dia tersenyum pada wanita itu sebagai ucapan terima kasih karena telah memberikan pendapat.
"Seperti yang aku katakan tadi, Reno Untuk saat ini aku belum bisa membuka lembaran baru, beri aku waktu." Yuni mengucapkan dengan penuh penekanan.
__ADS_1
"Tapi sampai kapan waktu itu. Jika kamu tidak mencoba membuka hati, bagaimana orang lain akan masuk. Seharusnya kamu memberikan kesempatan orang masuk, biar tahu apakah orang itu masuk untuk mengobati hatimu atau orang itu datang hanya untuk menambah luka lagi." Reno masih terus meyakinkan Yuni, jika dia seharusnya membuka hati untuk orang baru.
"Bukankah hidup ini harus tetap berjalan, kenapa kamu berhenti hanya karena takut dengan masa depan yang belum pasti." Kembali Reno memberi pendapat.
"Kak Reno, memurutku seseorang yang punya trauma di masa lalu itu tulusnya bukan main, tapi penyakitnya cuma satu, dia susah percaya kalau dia benar sedang disayang dan dicintai, bukan hanya sedang dimanfaatin. Intinya seseorang yang punya trauma di masa lalu cuma perlu terus menerus diyakinkan jika kamu datang dengan hati ikhlas bukan hanya untuk memanfaatkan keadaan. Jadi Kak Reno harus bisa terus meyakinkan Mbak Yuni. Jangan langsung menyerah."
Ucapan Rachel membuat Yuni malu. Dia mencubit pelan lengan wanita itu. Yuni menyesal dulu pernah membenci dan mengecewakan Rachel. Ternyata dia begitu baik, sekarang baru dia mengerti kenapa Farhan akhirnya menjatuhkan pilihan pada wanita itu.
Rachel selalu membawa pengaruh positif bagi orang yang dekat dengannya. Yuni saja ingin selalu dekat dan mengobrol dengannya. Jika tidak malu, ingin setiap hari datang dan bicara dengan Rachel.
"Jika memang menurut kamu, aku harus terus meyakinkan Yuni, akan aku lakukan. Sampai dia bosan dan akhirnya menerima," ucap Reno dengan tersenyum.
"Menurutku begini Mbak Yuni, bagaimana mau bertemu dengan orang yang baik jika kita belum melepaskan orang yang salah. Semakin kita ikhlas dan semakin kita memaafkan, dan menerima orang-orang yang mengecewakan kita maka orang-orang baik akan berdatangan. Kuncinya adalah menerima, menerima rasa sakit itu. Terima kalau dia sudah mengecewakan kamu. Terima kalau dia lebih memilih orang lain. Terima kalau dia saat bersamamu tidak sebaik dia bersama pilihannya sekarang. Memang tidak mudah, tapi belajarlah untuk menerima dan membuka lembaran baru. Tidak perlu buru-buru, berdamailah dengan lukamu, yang penting saat kamu membuka lembaran baru, luka itu sudah tidak membiru lagi."
Yuni memeluk Rachel mendengar ucapannya yang sangat bijak, padahal usianya jauh lebih muda, tapi pemikirannya begitu dewasa.
__ADS_1
...----------------...