
Elfa dan Dita sedang menyantap makanannya di kantin saat sang kekasih menghampiri. Sejak kejadian di kos, sepertinya Elfa dan Rio masih perang dingin.
Dita yang merasa tidak enak berada di antara mereka berdua lalu pamit. Dia tidak mau kesalah pahaman keduanya makin menjadi karena ada dirinya.
"El, aku duluan ya ke kelas," pamit Dita.
"Aku juga mau ke kelas," ucap Elfa. Sepertinya dia masih enggan bicara dengan Rio. Namun, tangannya di tahan sang kekasih.
"Jangan membuat kita menjadi pusat perhatian. Aku ingin bicara," ucap Rio.
Tanpa menunggu jawaban Elfa, Dita pergi meninggalkan keduanya. Dia berjalan menuju taman kampus. Seminggu sudah semenjak pertemuannya dengan Gafi.
Elfa dan Rio masih bertengkar karena ternyata hari itu, kekasih sahabatnya itu memang berbohong. Bukan ban bocor yang menyebabkan dia lama pergi saat itu, tapi karena mengantar anak ibu kos ke rumah temannya. Tentu saja Elfa marah karena merasa dibohongi dan diselingkuhi.
Walau Rio mengaku tidak ada hubungan dengan anak ibu kos, tetap saja Elfa marah karena merasa dibohongi.
Dita mengambil buku dari dalam tas dan membacanya. Kuliah akan di mulai setengah jam lagi.
__ADS_1
Saat Dita sedang asyik membaca seseorang duduk di samping kanannya. Dia menoleh, ingin tahu siapa. Dita tersenyum saat tahu siapa yang datang.
"Kak Gafi ...," sapa Dita.
"Sendirian ...?" tanya Gafi.
"Iya, Elfa lagi bersama Rio," jawab Dita.
"Pasti mereka bertengkar lagi. Setiap saat bertengkar, dan setiap saat pula kembali mesra. Apa kamu tak ingin memiliki kekasih seperti Elfa, Dit?" tanya Gafi.
Dita jadi gugup mendengar pertanyaan Gafi. Dia belum berpikir mencari kekasih. Tidak mau nanti disakiti pria lagi. Dia pernah jatuh cinta, dan ternyata cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Berjuang sendiri dan akhirnya kecewa karena tidak di balas.
"Itu mungkin lebih baik, dari pada pikiran bercabang antara pelajaran dan kekasih," ucap Dita.
"Minggu depan aku akan pulang. Tante Rachel merayakan ulang tahun pernikahan yang kedua puluh. Apa kamu juga pulang?" tanya Gafi.
Dita langsung menggelengkan kepalanya. Dia tersenyum dan menundukkan kepala menyembunyikan kesedihannya. Tahun pertama dia absen di hari ulang tahun pernikahan Rachel. Biasanya Dita yang berada di samping Rachel saat wanita itu memotong kue. Setelah Om Farhan, dia yang akan disuapi kue. Rachel memang begitu menyayangi Dita seperti anaknya sendiri.
__ADS_1
"Aku mungkin hanya menitipkan kado buat Tante Rachel. Aku sudah minta Ibu membelikan," ucap Dita dengan suara pelan. Dia sedih membayangkan akan melewati hari ulang tahun pernikahan Rachel.
"Apa benar selama kamu di sini tidak pernah menghubungi Tante Rachel lagi?" tanya Gafi dengan suara pelan. Dia takut Dita salah paham.
Kemarin Mama Alya menghubungi Gafi, memintanya pulang untuk perayaan ulang tahun tantenya Rachel. Mama Gafi itu mengatakan jika awalnya Rachel tidak ingin dirayakan, karena Dita tidak bisa mendampingi. Rachel memang sangat terbuka dengan kakak iparnya itu.
"Aku mengganti nomor ponsel," jawab Dita pelan. Menghubungi Rachel, itu sama saja dia mengingat Axel. Bagaimana dia bisa melupakan pria itu jika masih terus berhubungan dengan orang-orang terdekat Axel.
Kemarin saja Dita sempat berpikir untuk menjauhi Gafi. Namun, rasanya tidak adil. Bukankah ini bukan kesalahan pria itu. Lagi pula, kenapa dia harus terus menghindar. Bukankah itu berarti dia masih mengharapkan Axel jika dia masih selalu menghindari orang-orang terdekat Axel. Dia harus berani menghadapi semuanya.
"Aku selalu ingat pesan ayah, Move on terbaik adalah pergi dan menghindari komunikasi. Setiap wanita terlihat cantik dengan proses sembuhnya sendiri. Mengalah untuk kebahagiaan perempuan lain itu hebat. Tidak perlu balas dendam, itu bukan tugasmu. Biar semesta yang mengaturnya untukmu. Ayah berpesan begitu sebelum aku memutuskan kuliah di sini," ucap Dita .
Gafi hanya menganggukkan kepala tanda setuju dengan ucapan ayahnya Dita. Dia mengerti dengan luka yang wanita itu rasakan.
"Sahabatku Syifa, juga berpesan sebelum aku berangkat, Jangan pernah menghubungi dia lagi. Sekangen-kangennya kamu sama dia, jangan pernah hubungi dia atau sekedar chat. Jangan membuat hati yang sedang kamu kuatin lemah kembali, karena itu akan membuat kamu berharap kembali sama dia. Dan juga jangan kepo dengan apa yang dia lakukan, karena itu akan membuat kamu mengingatnya kembali. Jangan pikirkan apa yang tidak seharusnya kamu pikirkan. Kamu harus fokus untuk memperbaiki diri. Belajar lebih fokus lagi. Tunjukin kalau kamu kuat berdiri di kaki sendiri. Semangat, kamu pasti bisa. Itu pesan sahabatku, Kak. Dia yang menyaksikan langsung saat Axel menghinaku," ucap Dita dengan suara pelan.
"Aku hanya bisa mendukung apa pun keputusanmu. Semoga itu memang yang teebaik untukmu," ujar Gafi.
__ADS_1
Tadinya dia berharap bisa membawa Dita sebagai hadiah ulang tahun bagi Tante Rachel. Namun, dia tidak mungkin memaksa. Luka Dita pasti belum sembuh.
...----------------...