
Axel dan Lisa duduk bersama di tepi danau. Suasana malam begitu tenang, hanya suara riak air dan suara angin yang berbisik-bisik di antara pepohonan yang mengiringi mereka. Lisa merasa jantungnya berdebar-debar ketika Axel tiba-tiba berbicara dengan lembut.
"Lisa," kata Axel, matanya yang hangat terfokus pada wanita yang duduk di sebelahnya. "Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu."
Lisa menelan ludahnya, rasa gugup yang tak terhindarkan mulai merasuki dirinya. "Apa itu, Axel?"
Axel tersenyum, mencoba untuk mengurangi ketegangan yang dirasakan Lisa. "Kamu tahu bahwa aku sangat mencintaimu'kan?"
Lisa mengangguk. "Aku juga mencintaimu, Axel."
Axel menjawab dengan tulus. "Baiklah, kurasa aku tidak perlu lagi berbasa-basi, aku ingin kamu bertemu dengan keluargaku. Aku ingin memperkenalkanmu sebagai pacarku kepada mereka."
Lisa merasa hatinya berdetak lebih kencang. Ide untuk bertemu dengan keluarga Axel adalah sesuatu yang telah lama dia pikirkan, tetapi kenyataannya membuatnya merasa gugup. "Apa kamu yakin, Axel? Bagaimana jika mereka tidak suka padaku?"
Axel mengusap lembut punggung tangan Lisa. "Kamu tidak perlu khawatir. Aku yakin mereka akan menyukaimu sebesar yang aku lakukan. Kedua orang tuaku tidak pernah memaksa kehendak pada anaknya."
Lisa tersenyum, merasa sedikit lebih tenang. Axel selalu tahu bagaimana cara membuatnya merasa nyaman.
Pada malam itu setelah mereka berbicara, akhirnya Axel pulang ke rumah dan memberitahukan hal itu kepada mamanya tanpa memikirkan apa pun, tanpa mengingat sama sekali bahwa sebenarnya Rachel masih belum bisa melupakan Dita dan tidak bisa menerima orang baru dalam hidup Axel.
"Mama, aku punya sesuatu yang ingin aku katakan," kata Axel, suaranya bergetar sedikit.
Rachel menatap anaknya dengan penuh perhatian. "Apa itu, Axel?"
Axel menelan ludahnya sejenak sebelum dia berkata, "Aku akan membawa Lisa ke rumah ini. Aku ingin kalian bertemu dengannya. Aku ingin mama bisa menyukainya seperti Mama sukai Dita."
__ADS_1
Rachel tampak terkejut, dan ekspresinya seketika berubah. Namun, dia tetap tenang dan berbicara dengan lembut. "Aku senang kamu merasa nyaman untuk memperkenalkannya. Tapi posisi Dita tidak mungkin bisa digantikan."
Axel merasa lega mendengar respons positif mamanya, dia tidak menyadari bahwa itu hanyalah pura-pura dan tidak tahu bahwa ada rasa kecewa dalam benak wanita yang telah melahirkannya saat ini. "Terima kasih, Mama. Aku benar-benar ingin kalian dan Lisa bisa saling mengenal. Aku yakin kalian akan suka padanya."
Rachel tersenyum. "Aku akan bersikap ramah, seperti yang seharusnya. Kita semua ingin yang terbaik untukmu, Axel."
Pagi itu, matahari terbit dengan kehangatan yang menyapu lembut kota kecil itu. Axel tampak mempesona, merasa gugup namun penuh antusiasme. Hari ini adalah hari penting, saat dia akan membawa Lisa untuk diperkenalkan kepada keluarganya. Axel ingin semuanya berjalan dengan sempurna.
Dia telah merencanakan segalanya dengan hati-hati. Axel mengenakan setelan jas gelap yang sangat rapi, cocok dengan dasi merah marun yang menambahkan sentuhan elegan. Dalam perjalanan menuju rumah Lisa, Axel merasa percaya diri dengan penampilannya yang penuh gaya.
Sementara itu, di rumah Lisa, suasana begitu feminim. Ruangan tidurnya diisi dengan aroma wangi parfum bunga yang segar. Lisa duduk di depan meja rias dengan gaun berwarna pastel yang lembut, yang memancarkan pesonanya pagi ini. Gaun itu memiliki potongan yang indah dan menyempurnakan sosoknya yang elegan. Rambutnya yang panjang diatur dengan rapi, dengan beberapa helai yang meluncur lembut di sekitar wajahnya.
Lisa memilih makeup yang natural namun memikat. Mata diolesi dengan sedikit eyeliner dan maskara, memberikan sedikit kilauan. Bibirnya dipoles dengan lipstik merah muda yang lembut, memberikan sentuhan feminin yang memikat.
Setelah Lisa selesai bersiap, dia melihat dirinya dalam cermin dan tersenyum puas. Dia ingin memberikan kesan terbaik kepada keluarga Axel, sama seperti perasaannya pada pria itu.
"Kamu terlihat sangat cantik," kata Axel dengan penuh kagum, membuat hati Lisa berdebar.
Mereka pun bersiap-siap untuk memulai perjalanan menuju rumah keluarga Axel, berharap bahwa pagi ini akan menjadi awal dari babak baru dalam hubungan mereka.
Kedatangan Axel dan Lisa di rumah keluarga Axel menghadirkan suasana yang tegang. Rumah itu adalah sebuah vila yang indah dengan taman yang hijau, mengundang kedamaian, tetapi di dalam hati Lisa, ada kegelisahan yang mendalam.
Keluarga Axel sudah menanti mereka di ruang tamu. Axel memperkenalkan Lisa kepada ayahnya. Mereka menyambut Lisa dengan senyuman hangat dan ramah. Namun, rasa gugup Lisa mencapai puncaknya ketika dia harus bertemu dengan ibu Axel, Rachel.
Dia bisa merasakan kalau Rachel hanya tersenyum palsu kepada dirinya, bahkan sesekali bisa mendapati wanita itu malah terpekur sambil menatap wajahnya.
__ADS_1
Mereka duduk di ruang tamu yang mewah, suasana menjadi semakin tegang ketika Lisa mencoba untuk berbicara dengan Rachel. Namun, terlepas dari upaya Lisa untuk tampil sopan dan mengesankan, Rachel tetap terlihat dingin dan menjaga jarak.
Axel dapat merasakan ketidaknyamanan yang dirasakan Lisa dan berusaha menenangkannya dengan memegang tangannya dengan lembut di bawah meja. Itu memberinya sedikit kekuatan.
Lisa berharap bahwa seiring berjalannya waktu, Rachel akan membuka hatinya dan menerima Lisa sebagai bagian dari keluarganya.
Pada akhirnya Rachel memang merasa tidak tahan kalau harus terus berada di ruang tamu bersama Lisa. Dia memilih untuk kembali ke kamarnya dengan alasan bahwa ada sesuatu yang harus dilakukan.
Di balik pintu kamar tidur yang tertutup rapat, Rachel duduk di ujung tempat tidur mereka, pandangan matanya lekat pada jendela yang memperlihatkan langit yang cerah. Suara tawa lembut dari ruang tamu menembus dinding dan masuk ke dalam telinganya. Hati Rachel berdesir, dan dia tahu saatnya untuk berbicara.
"Mas Farhan," panggilnya lembut, memanggil suaminya yang tengah sibuk di ruang kerja mereka.
Farhan melongokkan kepala dari balik pintu kamar tidur. "Iya? Ada apa, Sayang?"
Rachel menarik napas dalam-dalam sebelum mengungkapkan apa yang ada di hatinya. "Aku harus curhat tentang sesuatu, Mas. Ini tentang Axel dan Lisa."
Farhan mengangguk, langkahnya menghampiri istrinya, dan dia duduk di sebelahnya. "Apa yang terjadi?"
Rachel menatap suaminya. "Mas Farhan, aku tidak suka Lisa sebagai pacar Axel. Aku tahu kita harus mendukung keputusan Axel, tapi hatiku tidak bisa merasakannya. Aku masih sangat berharap bahwa Axel bisa kembali kepada Dita, aku sudah sangat menyayangi anak itu."
Farhan meraih tangan istrinya dengan lembut. "Rachel, aku mengerti perasaanmu. Tapi kita harus ingat bahwa Axel sudah dewasa sekarang, dan dia punya hak untuk membuat pilihan dalam hidupnya. Kita harus mendukungnya."
Rachel menggelengkan kepala. "Aku tahu, Mas, tapi aku hanya ingin yang terbaik untuk Axel. Dita dan Axel begitu cocok, mereka sudah menghabiskan begitu banyak waktu bersama. Lisa, aku merasa tidak tahu banyak tentangnya."
Farhan mencoba memberikan dukungan pada istrinya. "Mungkin kita bisa mencoba lebih mengenal Lisa, Rachel. Siapa tahu, mungkin dia adalah orang yang baik untuk Axel."
__ADS_1
Sementara itu, di ruang tamu, Axel dan Lisa masih di sana, menonton televisi. Mereka sepertinya sedang menikmati waktu bersama-sama. Rachel masih merasa cemas, tetapi dia tahu bahwa saatnya untuk memberikan kesempatan pada Axel untuk mengejar kebahagiaannya sendiri. Mereka semua berharap yang terbaik untuknya.
...----------------...