
Axel menarik napasnya. Dia mengingat kembali saat dirinya meminta Dita pergi dan menjauh. Pria itu mengakui jika kata-katanya saat itu memang sangat keterlaluan. Sebenarnya saat itu dia ingin meminta maaf, tapi ego nya melarang apa lagi di sana ada Lisa.
Saat itu Lisa baru bertanya hubungan Axel dan Dita. Dia tidak percaya jika mereka hanya bersahabat. Jadi sebagai bukti pria itu mengatakan semuanya di depan Lisa.
Axel menarik rambutnya frustrasi. Tidak menyangka jika luka yang dia torehkan begitu besar dan dalam. Saat Axel mau masuk menghampiri Mamanya dan Dita, seseorang menyentuh bahunya.
"Kenapa hanya berdiri di sini?" tanya Gafi. Ya, pria itu ternyata Gafi. Dia ingin menjemput kekasihnya. Melihat ada Axel yang mengintip dari balik pintu, dia menyapanya.
"Aku takut mengganggu Mama dan Dita," jawab Axel pelan dan sambil menunduk.
"Kenapa juga kamu hanya mengintip? Kamu menguning pembicaraan Mamamu dan Dita?" tanya Gafi lagi.
Axel menarik napas dalam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Tenggorokannya terasa tersekat. Dia hanya diam membisu. Melihat sepupunya tidak bisa menjawab pertanyaannya, Gafi lalu masuk dan menghiraukan pria itu.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Tante. Selamat Malam, Cantik," ucap Gafi. Hal itu membuat Dita tersipu malu. Pria itu selalu mampu membuat wajah gadisnya memerah.
Gafi menyalami Rachel dan berlutut di depan Dita. Menatap wajah sang gadis tanpa kedip. Gafi memang tidak pernah bosan melihat senyum di wajah kekasihnya. Rasanya ingin setiap saat dapat menatap wajah itu.
"Sudah ngobrolnya? Sekarang sudah jam sepuluh," ucap Gafi masih dengan mata yang tetap memandangi sang gadis.
"Sudah, Kak."
Dita kembali meraih tangan Rachel. Wanita kedua yang dia sayangi setelah ibu kandungnya. Dia juga merasa sedih karena mengetahui kekecewaan wanita itu padanya, yang sengaja bersembunyi dan tidak memberi kabar.
Rachel membalas genggaman tangan Dita. Dia merasa sangat bersalah, karena Axel lah yang menjadi alasan gadis itu menjauh. Dia tidak menyangka jika putranya telah memberikan luka yang begitu besar pada Dita. Sebelumnya Rachel masih berharap keduanya bersatu. Namun, setelah mendengar cerita dari sang gadis, dia sangat bersyukur jika Dita bersama Gafi. Karena Gafi telah bisa mengobati lukanya.
"Mama yang seharusnya minta maaf. Semua ini karena anak Mama, Axel. Mama harap kamu bisa memaafkannya, dan tidak ada dendam lagi. Mama masih berharap keakraban yang dulu terjalin kembali lagi. Tidak sebagai kekasih, tapi sahabat," ucap Rachel.
__ADS_1
"Mama tidak perlu meminta maaf. Aku telah melupakan segalanya. Jika aku masih sakit hati, tidak mungkin aku bisa berada di sini. Pasti aku masih bersembunyi. Lelaki hebat ini yang telah menyembuhkan semuanya," ucap Dita menatap ke arah Gafi.
Gafi tersenyum mendengar ucapan gadis itu. Dia tidak pernah berpikir jika cintanya akan di balas sebesar ini. Awalnya dia mengira pastilah Dita menerima kehadirannya hanya karena rasa kasihan. Namun, semua dipatahkan dengan sikapnya. Dita membuktikan jika cintanya tidak kalah besar dari cinta Gafi padanya.
"Terima kasih karena telah menyembuhkan Dita. Kalian berdua berhak bahagia. Mama doakan kamu dan Gafi bahagia terus dan hubungan kalian bisa ke tahap yang lebih serius." Doa Rachel dengan sepenuh hati.
Setelah melihat cinta Gafi dan juga cintanya Dita begitu besar, Rachel sangat terharu. Dia tidak boleh egois, dengan berharap Dita menerima putranya. Bukankah semua yang terjadi di muka bumi ini atas kehendak dan persetujuan dari Allah.
Axel berjalan menjauhi pintu kamar mamanya. Dia tidak mau Dita tahu keberadaan dirinya. Pria itu berjalan menuju taman hotel. Duduk seorang diri di kegelapan malam.
"Aku memang jahat. Maaf jika selama ini aku banyak menyakiti dan mengecewakanmu. Jujur sebenarnya tidak niat aku untuk menyakiti kamu sedalam dan sebesar itu. Aku ingin kamu tahu, jika aku sangat menyesali semuanya. Jika saja waktu dapat di ulang kembali, aku ingin kita seakrab dulu lagi."
Gafi dan Dita berjalan bergandengan tangan menuju mobilnya yang terparkir. Tanpa sengaja mata Dita melihat keberadaannya Axel.
__ADS_1
"Aku masih ingat jelas, fase bagaimana aku berusaha menghilangkan sesak di dada selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Aku masih ingat bagaimana rasanya menangis gemetaran di malam hari. Untuk tidur pun rasanya takut sekali, takut untuk terbangun esok di pagi hari mengetahui hal yang menyakitiku lagi. Dan aku masih ingat gimana sepasrahnya aku minta sama Tuhan untuk membuat aku lupa dan ikhlas akan luka yang kau berikan. Jadi maafkan aku jika belum bisa sepenuhnya bersikap seperti dulu lagi. Aku hanya ingin menjaga perasaanku sendiri," ucap Dita dalam hatinya.
...----------------...