TAK SEINDAH SURGA S1/S2

TAK SEINDAH SURGA S1/S2
Bab 78 S2. Operasi Gafi


__ADS_3

Dita duduk di kursi tunggu di ruang operasi. Dia gelisah sekaligus khawatir, mendengar kabar operasi kornea mata suaminya Gafi. Dia berdoa semoga semuanya baik-baik saja. Akhirnya, dokter keluar dari ruang operasi dan Dita memandangnya dengan tatapan tajam.


"Saya punya kabar baik untukmu," kata dokter yang tersenyum.


"A-apa?" tanya Dita ragu.


"Operasi berjalan sukses. Kornea matanya sudah terpasang dengan baik," ucap dokter.


Dita merasa lega, air matanya jatuh mengalir di pipi. "Terima kasih banyak, Dokter. Saya tak tahu harus berterimakasih bagaimana."


"Sama-sama. Gafi masih dalam pengawasan intensif, jadi kamu tidak bisa melihatnya sekarang. Namun, kamu bisa bertemu dengannya besok.”


Dita mengangguk sambil tersenyum. Yuni dan Reno memeluk putrinya mengucapkan rasa syukur. Begitu juga kedua orang tua Gafi. Mereka langsung sujud syukur saat dokter mengatakan jika operasi berjalan lancar.


Setelah diperbolehkan membesuk suaminya, Dita merasa senang dan bersemangat. Gafi masih terbaring di tempat tidurnya, tetapi sudah terlihat jauh lebih baik. Dita duduk di sampingnya dan memegang tangan suaminya.


"Bagaimana perasaanmu, Kak?" tanya Dita sambil tersenyum.


"Merasa lebih baik sekarang," jawab Gafi lambat.


Dita berharap Gafi bisa sembuh dengan cepat, tetapi dia tahu dari pengalaman sebelumnya bahwa penyembuhan butuh waktu yang lebih lama. Dita masih dapat merasakan ketakutan saat dia mengalami kecelakaan mobil yang menimpa dia dna suaminya yang menyebabkan kebutaan bagi Gafi.


"Mereka menempatkan kornea dari donor ke mataku. Aku tidak tahu harus berkata apa selain ucapan terima kasih untuk pemberi donor," jelas Gafi.

__ADS_1


"Tentu saja aku tahu itu. Bagaimana rasanya sekarang, Kak?"


"Mataku masih berkabut, tetapi aku akan memperbaiki penglihatan setiap hari," katanya optimis.


"Itu karena baru saja selesai operasi, lagi pula mungkin karena pengaruh perban yang masih melekat di mata," jawab Dita.


Dita melihat ke jendela dan terpesona oleh cahaya matahari yang bersinar terang di luar. Dia menghela napas panjang mengingat semua yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Setelah beberapa menit diam, dia menggenggam tangan Gafi.


"Aku tidak pernah berpikir mengalaminya, yang terjadi pada kita. Aku sangat bahagia saat melihat Kakak terus berjuang pulih. Kamu yang selalu menggembirakan hidupku."


Gafi menggenggam kembali erat tangan istrinya. "Aku telah melakukannya bukan untuk membuatmu khawatir atau kesedihan, tetapi aku memilih melakukannya untuk memperbaiki diriku dan hidupku bersama kamu."


"Terima kasih telah bersabar denganku. Kamu sangat berarti bagiku dan aku merasa sangat beruntung memiliki kamu sebagai pasangan hidupku, Kak," ucap Dita sambil mencium kening suaminya.


"Aku yang selalu merasa wanita paling beruntung di dunia ini, Kak. Aku mendapatkan suami yang begitu sabar. Apa lagi saat ini ditubuhku ada benih cinta kita," kata Dita.


Gafi mengulurkan tangannya untuk meraba perut Dita. Dia bahagia karena akhirnya ada pendonor, jadi dia bisa melihat wajah bayinya setelah dilahirkan nanti.


Gafi tersenyum senang. Dia merasa beruntung juga memiliki Dita, yang selalu di sisinya dalam keadaan apa pun. Dita tidak berkata banyak tapi suaminya bisa merasakan cinta dalam tatapan matanya.


Mereka melanjutkan obrolannya, mengingat kenangan indah mereka bersama, dan bercerita tentang rencanan masa depan mereka bersama anak-anak.


Gafi menyadari bahwa dia bersyukur masih bisa hidup dan memiliki istrinya abadi dalam hatinya. Dia tahu dia akan selalu memberikan semua hal terbaik dalam hidupnya untuk Dita serta calon anak mereka, dan bersyukur selalu memiliki dan mendapatkan cinta serta dukungan dari istrinya dalam setiap perjuangannya.

__ADS_1


Sementara itu Axel dan kedua orang tuanya ditemani mama Nazwa datang melamar ke rumah Syifa. Keluarga sahabat Dita itu menyambut lamaran dengan senang hati. Pernikahan akan dilangsungkan satu bulan lagi.


Saat ini mereka dalam perjalanan menuju rumah sakit setelah acara lamaran selesai. Mereka ingin mengetahui keadaan Gafi saat ini.


Seluruh keluarga langsung masuk ke ruang rawat Gafi. Saat ini di kamar hanya ada Dita yang setia menemani. Dita yang meminta kedua orang tua dan mertuanya untuk kembali ke rumah.


Begitu melihat Axel dan keluarga lainnya datang, Dita begitu bahagia. Dia langsung memeluk Rachel.


"Mama, Kak Gafi akan segera melihat lagi," ucap Dita dengan terisak karena haru.


"Alhamdulillah, Sayang. Mama ikut bahagia. Mama dengar kamu juga sedang berbadan dua. Selamat ya, jaga kesehatan. Sekarang ada satu nyawa yang menumpang hidup denganmu," ucap Rachel.


"Terima kasih, Ma," jawab Dita. Pandangannya lalu tertuju pada Axel. Dita lalu melepaskan pelukannya dengan Rachel. Lalu mendekati Axel.


"Selamat ya Axel. Semoga semua diperlancar hingga hari H. Maaf, aku tidak bisa hadir," ucap Dita.


"Terima kasih, Dita. Aku mengerti dengan keadaanmu. Selamat juga untuk Gafi, dan kamu karena sebentar lagi Gafi sudah bisa melihat lagi. Kamu juga akan memiliki baby," ucap Axel.


Keduanya saling berpelukan. Mungkin sebagai sahabat. Tidak ada rasa cinta lagi selain saling menyayangi. Mereka sudah saling mengikhlaskan. Bukankah cinta tidak harus saling memiliki.


"Terkadang, di dalam hidup kita harus belajar ikhlas dan melepaskan. Mengikhlaskan apa yang telah berlalu, dan melepaskan apa yang seharusnya pergi. Ikhlas tidak melulu soal merelakan. Tetapi ikhlas adalah kondisi dimana kita melepaskan tanpa adanya beban dalam hati. Dalam hidup, kadang kamu harus menerima bahwa tak semua harapan jadi kenyataan. Dan yang kamu butuhkan adalah keberanian tuk merelakan."


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2