
Telah lebih dari dua minggu Gafi di rawat. Kesehatan makin membaik, begitu juga Dita. Dia telah pulih sedia kala. Hari ini keduanya telah diizinkan pulang.
Sekarang mereka telah berada di kamar rumah Dita. Dia meminta izin pada kedua orang tua Gafi untuk tinggal di kediaman orang tua Dita.
"Kak Gafi mau mandi. Nanti kita pergi ke taman, ya?" tanya Dita.
"Tapi aku pasti akan menyusahkan kamu," jawab Gafi.
"Kak, harus berapa kali aku katakan jika aku tidak pernah merasa kakak menyusahkan. Jika kakak berpikir begini terus, aku jadi sedih," ujar Dita.
Dita menghapus air mata yang mengalir dari sudut matanya. Gafi selalu berpikir jika dia akan menyulitkan dan membuat Dita susah. Hal itu juga mampu membuat hatinya terasa nyeri, dan sedih.
"Sayang, maafkan aku. Bukan maksud aku membuat kamu sedih," ucap Gafi.
"Jangan pernah katakan itu lagi," ujar Dita.
"Iya, Sayang," jawab Gafi.
"Kita mandi setelah itu ke taman."
__ADS_1
Dita lalu membantu Gafi mandi. Memakaikan bajunya. Setelah mandi Dita memutuskan untuk membawa suaminya ke taman raya yang indah, tempat yang sering mereka kunjungi saat penglihatan Gafi masih normal. Ketika mereka sampai di taman, Dita membimbing suaminya menuju tempat duduk dan menggenggam tangannya erat, memberikan keamanan dan kenyamanan yang sangat dibutuhkan oleh Gafi.
"Kita di taman, Sayang. Ingatkah Kakak tempat ini?" tanya Dita dengan suara lembut.
"Oh ya, ini taman raya yang indah," jawab Gafi, tersenyum kecil saat ia merasakan suhu udara yang sejuk dan segar di dalam taman.
Dita menarik kursi ke sebelah suaminya dan duduk dengan erat di sampingnya. "Bagaimana rasanya di sini? Apakah Kakak merasa lebih baik?"
"Ya, aku merasa sedikit lebih baik. Terima kasih, Sayang," jawab Gafi dengan nada lembut. Dita merasa lega karena berhasil membuat suaminya merasa sedikit lebih nyaman.
"Apa kamu merasa kesepian, Kak?" tanya Dita sambil menepuk lembut tangan suaminya.
"Aku di sini kok, Kak. Kamu tidak akan pernah kesepian ketika aku bersamamu."
Mendengar kata-kata itu, sebuah senyum terukir di wajah Gafi. Hatinya terasa hangat karena merasa dicintai oleh istri terbaik yang pernah dimilikinya.
"Sungguh tidak terpikirkan olehku bahwa sesuatu yang indah seperti taman bisa memberikan ketenangan dan kebahagiaan yang begitu besar," tutur Gafi rendah hati.
"Mungkin kita bisa datang ke sini lebih sering. Siapa tahu nanti Kakak bisa membayangkan bagaimana keindahan taman ini ketika aku menjelaskannya kepadamu," ujar Dita penuh harap.
__ADS_1
Gafi mengangguk-angguk. Dia merasa tersentuh oleh harapan istri terbaiknya. Walaupun dia buta, tapi Gafi tidak sedih atau pun berputus asa. Dia tahu bahwa dengan bantuan istrinya, dia akan bisa melalui hari-hari sulit.
Setelah beberapa saat, Dita bangkit dan menarik Gafi untuk berjalan-jalan di taman. Taman raya ini amat indah, penuh dengan pepohonan yang tinggi, bunga yang menarik perhatian, dan air mancur yang menari-nari indah. Dita menggenggam tangan suaminya dengan erat, memastikan bahwa ia berjalan dengan aman dan mudah.
"Apakah kamu bisa melihat sesuatu yang indah di sini, Sayang?" tanya Dita, berharap bahwa Gafi dapat melihat keindahan taman ini meskipun saat ini ia kehilangan penglihatannya.
"Iya, aku bisa merasakan keindahan taman ini dengan suara dan aroma. Aku bisa mendengar suara daun yang tertiup angin, kicauan burung-burung, dan aroma bunga-bunga yang berwarna-warni," jawab Gafi.
Dita tersenyum, kebahagiaan yang ia rasakan membuatnya merasa seperti taman ini jauh lebih indah dari sebelumnya. Sekarang, ia tidak hanya bisa melihat keindahan taman ini dengan matanya, namun juga dengan perasaannya, kebahagiaannya, dan reaksinya terhadap kesenangan yang ia rasakan ketika berkunjung ke taman raya yang indah ini.
Suasana di dalam taman raya ini amat damai dan tenang. Terlebih masih pagi, sehingga taman ini cukup sepi dan tenang karena belum banyak pengunjung. Mereka berjalan-jalan di sepanjang jalan beraspal yang rata, dan saat itu Dita melihat Gafi tersenyum bahagia. Meskipun ia kehilangan penglihatannya, namun ia bisa merasakan kebahagiaan tersebut dengan perasaannya.
Dita memimpin jalan mereka hingga sampai ke tempat yang biasanya mereka kunjungi di taman raya ini. Sebuah danau indah dengan air jernih dan pepohonan yang rimbun di sekelilingnya. Dita membuka piknik yang telah ia siapkan, dan mereka duduk di tepi danau sambil menikmati pemandangan yang indah dan berkelas.
Dita berbicara dengan suaminya tentang masa lalu mereka, tentang cerita-cerita lucu dan kebahagiaan yang mereka alami bersama-sama. Gafi tersenyum dan tertawa saat ia mendengar cerita-cerita tersebut, dan Dita merasa bahagia karena ia berhasil membuat suaminya tersenyum bahagia meskipun sedikit saja.
Sepertinya, hal terindah dalam hidup tidak datang dari apa yang kita miliki atau apa yang kita lakukan, namun berasal dari kebahagiaan, kenyamanan, dan tenang yang kita rasakan di dalam hati kita. Dan hal-hal indah tersebut tetap akan bersinar walaupun ia tidak bisa dilihat. Bagi Dita dan Gafi, kebahagiaan, kenyamanan, dan tenang yang mereka rasakan saat berada di taman raya ini sudah cukup untuk mengembalikan sedikit kebahagiaan dalam hidup mereka.
...----------------...
__ADS_1