
Gafi meraba-raba bantal disampinganya. Dia dapat merasakan sang istri Dita, yang masih terlelap pulas. Walaupun jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi, namun Dita masih belum bangun juga.
Meskipun, tidak dapat melihat, Gafi bisa merasakan panasnya udara luar sehingga bisa menebak jam berapa saat ini.
Gafi kembali meraba wajah istrinya yang sedang tertidur itu dengan cinta. Dia merasa bahagia dan beruntung bisa menikahi Dita sebagai istrinya. Namun, Gafi merasakan kekhawatiran yang mendalam perihal keterlambatan Dita bangun dari tidurnya yang pulas.
Tadi Gafi mencoba berjalan dengan bantuan tongkat. Dia lalu mandi, dan mencoba berpakaian sendiri. Hasilnya, dia bisa melakuan sendri.
Akhirnya, Gafi mulai membangunkan Dita dengan menepuk-nepuk bahunya lembut. “Sayang, bangun dong. Sudah pagi nih, jangan tidur iya ” ucap Gafi dengan suara lembut.
Namun, Dita masih tetap lelap tertidur. Dan kemudian, Gafi mencoba mengulanginya lagi, “Dit, mungkin sudah jam sepuluh pagi. Sudah saatnya bsngun, Sayang.”
Dita mencoba membuka matanya. Tersenyum melihat sang suami. "Sudah jam sepuluh ya, Sayang," jawab Dita sambil tersenyum tersipu malu, seolah-olah Dita ingin meminta Gafi untuk beristirahat bersama dirinya sejenak.
"Iya, Sayang. Kenapa kamu belum bsngun juga?" tanya Gafi.
“Tapi aku merasa masih sangat mengantuk ,” sahut Dita sambil terus membuka mata perlahan.
"Apa kamu sakit, Sayang. Tidak biasanya kamu begini?" tanya Gafi. Dia merasa tidak berguna sebagai suami karena tidak bisa melakukan apa pun untuk sang istri.
“Tidak, Kak. Hanya masalah tidur saja. Aku merasa akhir-akhir ini sering mengantuk. Lebih cepat lelah," jawab Dita.
__ADS_1
"Pasti semua karena kamu harus mengurus suamimu yang buta ini. Aku hanya bisa menjadi beban. Sampai kapan ini aku alami," ucap Gafi dengan sendu.
Dia merasa semua pasti karena Dita harus mengurusnya. Semua harus di bantu. Tentu saja istrinya menjadi capek dan lelah.
"Kak, harus berapa kali aku katakan. Kak Gafi itu bukan beban. Aku tidak pernah merasa capek mengurus Kakak. Tapi entah kenapa seminggu ini tubuhku mudah lelah saja. Mataku mengantuk saja," jawab Dita.
Gafi tidak ingin membuat istrinya menangis lagi setiap dia mengeluh. Akhirnya tidak mempersalahkan itu lagi.
“Mungkin kamu butuh istirahat. Sebaiknya tidur saja jika itu yang kamu rasakan,” ucap Gafi menimpali. “Satu lagi, aku harap kamu bisa menjaga kesehatanmu. Kalau ada masalah tidak usah segan untuk memberitahukannya padaku. Aku sangat kuatir jika begini."
Dita terkejut mendengar ucapan Gafi yang sangat perhatian terhadap kesehatannya. Sedari dulu, Gafi memang selalu khawatir dan merawat istrinya. Dita rasanya sangat bahagia memiliki suami seperti Gafi.
“Terima kasih, Kak. Aku bahagia memiliki suami yang selalu memikirkan kesehataku. Dari awal menikah, Kakak yang selalu perhatian padaku. Sekarang giliran aku yang harus memberikan itu. Sebagai suami istri, sewajarnya kita saling membantu. Jangan pernah katakan jika itu beban bagiku," ucap Dita.
Beberapa saat kemudian, Dita merasa beberapa gejala mual dan rasa tidak nyaman di perutnya. Ia menganggap hal itu sebagai akibat dari asupan makanannya yang kurang sehat sebelumnya.
Dita bangun dan berlari ke kamar mandi. Menumpahkan semua isi perutnya. Gafi yang mendengar dari tempatnya duduk merasa sangat kuatir. Dia takut ada masalah serius dengan kesehatan istrinya itu.
Gafi memiliki firasat yang berbeda. Ia merasa ada sesuatu yang tidak biasa dan mendorong istrinya untuk pergi ke dokter untuk mengecek keadaannya. Saat Dita kembali lagi ke tempat tidur, Gafi lalu mengatakan kekuatirannya.
“Sepertinya lebih baik kalau kamu pergi ke dokter, Dit. Mungkin ada sesuatu yang sedang terjadi di dalam tubuhmu.” Ucap Gafi dengan suara khawatir di wajahnya.
__ADS_1
"Pasti ini hanya masuk angin saja, Kak. Nanti. aku minta dibuatkan air jahe saja. Aku ambil sarapan dulu. Pasti Kak Gafi sudah sangat lapar," ujar Dita.
"Tadi ibu sudah mengantar teh hangat dan roti. Dia harus pergi dengan ayah. Mungkin sore baru pulang. Kata ibu sarapannya ada di atas meja," jawab Gafi.
Dita melihat ke. meja samping tempat tidur. Sudah ada dua gelas teh dan sepiring roti bakar.
"Kak Gafi sudah mandi?" tanya Dita. Dia melihat suaminya itu telah berganti pakaian.
"Sudah, tadi aku mencoba sendiri," jawab Gafi.
Dita merasa bersalah. Semua karena keterlambatan dirinya bangun. Seandainya suaminya jatuh, bagaimana tadi?
"Maafkan, aku. Pasti karena aku ketiduran, lain kali bangunkan saja aku kalau kakak ingin melakukan sesuatu," ucap Dita merasa sangat bersalah.
"Jangan berkata begitu. Aku hanya belajar melakukan sesuatu. Tidak ingin bergantung denganmu terus, Sayang. Kamu jangan melarang itu. Aku nanti merasa sangat tak berguna," ucap Gafi.
Dita memeluk suaminya. Mengerti dengan perasaan Gafi. Dia tidak ingin juga terlalu melarang. Biar Pria itu juga terbiasa dengan keadaannya saat ini.
"Sayang, kamu harus janji akan periksa ke dokter. Jangan abaikan penyakit karena menganggapnya sepele. Aku tidak mau kamu sakit," ucap Gafi kembali mengingatkan.
"Nanti aku akan berobat setelah Ayah dan Ibu kembali. Jangan khawatir, Kak," balas Dita. Dia memeluk Gafi dan membenamkan kepalanya di dada sang suami.
__ADS_1
Sementara di rumah Mama Rachel tampak kesibukan. Seperti akan ada acara besar. Semua orang di rumah tampak sibuk. Terutama Axel, dia terlihat mondar mandir memastikan semua baik dan lancar.
...----------------...