
Dita memandangi Gafi dengan tersenyum. Pria itu tampak terdiam terpaku karena terpesona dengan senyuman Dita. Gadis itu memang terlihat bertambah manis dengan senyumannya.
"Lucu ya, Kak. Aku dulu tidak pernah mau berteman selain dengan Axel. Bagiku dialah duniaku. Baru aku sadari sekarang, ternyata dunia ini sangat indah dan beragam. Aku tidak pernah pergi selain dengan orang tuaku, atau Axel. Sedih banget hidupku dulu," ucap Dita dengan tersenyum.
"Tidak apa, Dita. Justru itu lebih baik bagi seorang wanita. Tidak baik juga wanita sering bepergian," ucap Gafi.
"Kak Gafi enak, dulu tinggal di luar negeri, sekarang bisa menetap di Indonesia lagi. Banyak pengalaman," ucap Dita.
"Kalau kamu mau kita bisa liburan semester besok ke luar negeri," ujar Gafi.
"Kakak dan keluarga'kan sudah pindah ke sini?"
"Kamu lupa jika mama Nazwa masih ada di Singapura," ucap Gafi.
"Oh, iya. Aku lupa. Enak banget ya punya keluarga besar. Aku hanya sendiri. Ayah dan Ibu anak tunggal."
"Tahun depan pesta pernikahan Kak Shella, kamu mau ikut ke Singapura?" tanya Gafi.
"Sepertinya aku tidak ikut. Hanya ayah dan ibu saja," jawab Dita.
__ADS_1
"Kenapa? Jangan bilang kamu tidak mau bertemu Axel," ujar Gafi.
"Memang itu alasannya. Axel meminta aku pergi sejauh mungkin dari kehidupannya. Aku harus melakukan itu walau awalnya sulit. Tapi sekarang aku telah terbiasa tanpanya. Justru aku bersyukur, karena dia meminta aku menjauh aku jadi banyak mengenal teman dan lebih tahu tentang dunia ini." Dita berucap pelan dan terbata karena menahan sebak di dada.
Dita masih teringat terus dengan ucapan Axel. Bukannya dendam, tapi untuk melupakan semua butuh waktu yang cukup lama.
Dita lalu menceritakan semua yang terjadi antara dia dan Axel. Selama ini dia hanya memendam sendiri. Dengan kedua orang tuanya saja, Dita tidak pernah mengatakan semua ucapan Axel yang menyakitkan itu.
Gafi yang mendengar cerita dari Dita saja menjadi heran, kenapa sepupunya itu bisa berkata kasar begitu. Padahal dia dan Dita telah bersama sejak usia mereka masih kecil.
"Atas nama keluarga aku meminta maaf, atas apa yang telah Axel ucapkan dan lakukan padamu," ujar Gafi dengan tulus.
"Kamu pasti sangat dendam dan tidak akan melupakan semuanya," ucap Gafi.
"Kenapa aku harus dendam? Bukankah hak AXel jika memilih wanita lain," ujar Dita.
Gafi tampaknya semakin kagum dengan Dita. Dia bisa menyimpan semua luka hatinya seorang diri.
"Kenapa aku baru mengenal Dita sekarang, dulu aku tidak pernah memperhatikan karena dia yang memang sangat tertutup. Selalu mau dekat Axel," gumam Gafi dalam hatinya.
__ADS_1
Keduanya terdiam beberapa saat, entah apa yang mereka pikirkan.
"Aku sekarang mengerti kenapa kamu memilih kuliah di sini dan tidak mau mengatakan kemana kamu pergi," ucap Gafi.
"Aku menjauh karena tidak ingin hati ini lebih jauh lagi untuk terluka. Menjauh bukan berarti benci atau tidak suka pada seseorang. Tetapi lebih kepada menghargai diri sendiri dengan tidak membiarkan orang lain menginjak-injak diri ini."
"Aku setuju dengan ucapanmu itu. Pasti kamu sangat marah dan dendam," ujar Gafi.
"Aku telah memaafkan semuanya.Memaafkan tidak berarti melupakan. Itu adalah melepaskan sakit hati.Meminta maaf tak berarti salah. Mengalah bukan berarti kalah ataupun takut. Berikanlah pujian pada mereka yang menghina.Tebarkanlah senyuman mesti tak dibalas. Balaslah kebencian dengan kasih sayang. Bersabar bukan berarti tak mampu membalas," ucap Dita dengan lirih.
Setelah cukup lama mengobrol, mereka akhirnya pulang. Gafi mengantar Dita hingga ke kos. Satu jam perjalanan, sampailah mereka di halaman kos Dita. Sebelum turun Dita memberikan pesan pada Gafi.
"Kak, aku mohon jangan mengatakan pada siapapun yang aku kenal, jika aku kuliah di sini," pesan Dita dengan memohon.
"Walau itu Mamaku?" tanya Gafi. Dia bertanya, karena selama ini apa pun yang dia kerjakan, selalu mengabarkan kedua orang tuanya.
"Iya, Kak. Maaf, jika karena aku Kakak harus berbohong pada keluarga," ucap Dita.
"Baiklah." Hanya satu kata itu yang Gafi ucapkan sebagai jawaban.
__ADS_1
...----------------...