TAK SEINDAH SURGA S1/S2

TAK SEINDAH SURGA S1/S2
Bab 9 S2. Keinginan Dita


__ADS_3

Dita duduk di sudut kamarnya, tatapan yang penuh rasa gugup terpaku pada bayangannya yang terpantul di cermin. Suaranya gemetar ketika dia mencoba mengungkapkan keinginannya yang terbesar pada ibunya. Pikirannya penuh dengan pertanyaan dan keraguan tentang bagaimana caranya membuka hati ibunya untuk mendukung impian kuliahnya di luar kota.


Sejenak, dia merenung, mengatur kata-kata yang akan dia ucapkan. Cahaya remang-remang kamar memberikan atmosfer yang hampir seperti dalam mimpi, memberinya sedikit keberanian. Dengan napas yang dalam, Dita mulai berbicara pada bayangan dirinya sendiri di cermin.


"Ibu," ucap Dita perlahan, suaranya gemetar.


"Aku tahu ini mungkin sedikit mengejutkan, dan aku sangat gugup untuk mengatakannya. Tapi aku ingin Ibu tahu bahwa aku sangat ingin berkuliah di luar kota, seperti yang pernah aku utarakan dulu."


Dia terdiam sejenak, mata yang mencerminkan keraguan memandang bayangannya sendiri. Dia menepuk pipinya dan merutuki kekonyolannya saat ini. "Aku tahu ini akan membuat Ibu khawatir, tetapi aku sudah menyiapkan diri dengan baik. Aku ingin mendapatkan pendidikan dan pengalaman yang lebih luas di luar sana."


Dita merasa detak jantungnya semakin cepat, namun dia terus melanjutkan. "Aku berjanji akan berusaha keras, belajar dengan sungguh-sungguh, dan tetap menjaga komunikasi dengan Ibu. Aku tahu kalau Ibu selalu menginginkan yang terbaik untukku, dan aku harap Ibu bisa mendukung impian ini."


Tatapannya masih tertuju pada bayangan di cermin, seperti mencari kekuatan dan mengumpulkan nyalinya. Dia menghela napas, tidak berpikir bahwa dia akan selancar itu mengucapkan semua kalimatnya ketika berhadapan langsung dengan Yuni, ibunya.


Setelah merasa benar-benar yakin bahwa inilah waktunya, dia pun keluar dari kamarnya dan langsung melihat ibunya ada di dapur sedang menikmati secangkir teh hangat. Sebuah momen yang sangat tepat.


Dita berjalan mendekat dan duduk tepat di hadapan ibunya. Meskipun kalimatnya terpatah-patah dan tidak selancar tadi, dia akhirnya berhasil mengutarakan keinginannya itu.


"Apa kau yakin akan tinggal sendirian di luar kota?" tanya Yuni dengan wajah yang penuh kekhawatiran ketika Dita selesai mengutarakan keinginannya.


Dita merasa jantungnya berdegup lebih kencang lagi. Dia tahu pertanyaan ini akan muncul, tetapi dia tetap yakin dengan keinginannya. Dia mengangguk pelan, mencoba meyakinkan ibunya. "Iya, Ibu. Aku yakin. Aku akan tinggal sendiri di luar kota. Aku sudah merencanakannya dengan matang."

__ADS_1


Yuni terdiam sejenak, matanya memandang dalam ke arah Dita. "Aku khawatir padamu, apalagi membayangkanmu tinggal sendirian di sana. Apa kamu sudah memikirkan semua risikonya?"


"Aku sudah mempertimbangkan segala kemungkinan. Aku akan berusaha keras dan menjaga diriku sendiri. Aku tahu ini tidak akan mudah, tapi aku ingin memberikan yang terbaik untuk diriku sendiri dan untukmu juga."


Yuni meraih tangan Dita dengan lembut dan tersenyum, meskipun masih ada keraguan di matanya. "Kamu selalu sama seperti dulu, Dita. Aku akan mendukungmu dalam keputusan ini, tetapi kamu harus berjanji padaku bahwa kamu akan menjaga dirimu dengan baik di sana. Dan jangan ragu untuk menghubungi kami kapan saja jika kamu membutuhkan dukungan atau bantuan."


Dita merasa lega mendengar dukungan Yuni. Dia menggenggam erat tangan ibunya dan berkata, "Terima kasih. Aku berjanji akan berusaha keras dan menjaga diriku dengan baik. Aku akan membuatmu bangga."


Yuni menatap Dita dengan kasihan, meskipun dia telah menyetujui keinginan anaknya untuk kuliah di luar kota. Di dalam hatinya, kekhawatiran yang mendalam masih melekat erat. Ia merasa cemas akan masa depan yang akan dihadapi oleh anaknya.


Apa lagi Yuni tahu jika keputusan ini Dita ambil ada hubungannya dengan Axel. Namun, dia tidak akan mengungkit atau bertanya tentang itu. Yuni takut itu akan menambah luka anaknya.


"Bagaimana kalau sekarang kita makan malam?" Yuni beranjak dari kursinya setelah teh itu habis.


Setelah obrolan itu, Yuni memutuskan untuk memberikan Dita makan malam yang istimewa. Yuni dengan hati-hati memasak sepiring nasi goreng spesial, dengan bumbu yang begitu harum dan rasa yang begitu lezat. Ia menggoreng bawang merah, bawang putih, dan cabe merah dalam minyak hingga harum, lalu menambahkan potongan daging ayam dan udang yang telah diolah dengan rempah-rempah pilihan.


Setelah bahan-bahan utama tersebut matang, Yuni menambahkan nasi putih yang sudah dihangatkan dan mencampurnya dengan sempurna, menambahkan kecap manis, saus tomat, dan sedikit garam untuk memberikan rasa yang pas.


Yuni kemudian menghidangkan nasi goreng itu di atas piring putih yang bersih, mengatur dengan cantik dan menambahkan irisan telur dadar yang lembut sebagai hiasan di atasnya. Di sisi piring, ada beberapa irisan mentimun segar yang menambah kesegaran hidangan itu. Aroma harum nasi goreng itu menyebar ke seluruh rumah, mengundang selera.


Ketika Yuni membawa hidangan itu ke meja makan, Dita melihatnya dengan senyum berbinar. Hidangan nasi goreng kesukaannya memang tidak pernah gagal sama sekali, dan malam ini tidak terkecuali.

__ADS_1


Dita kembali ke kamarnya setelah makan malam bersama Yuni. Suasana di dalam kamarnya terasa hangat karena lampu remang-remang di pojok kamar memberikan sentuhan kelembutan pada atmosfer ruangan.


Di sudut meja belajarnya, terdapat tumpukan buku. Dita tahu bahwa persiapan untuk kuliah di luar kota membutuhkan usaha dan dedikasi yang ekstra. Di atas ranjangnya, ada foto-foto kenangan yang tersusun rapi di dinding.


Dita duduk di meja belajar dan membuka laptopnya. Dia mulai menelusuri informasi tentang universitas tujuannya, mencari tahu lebih banyak tentang program studi yang diminatinya, serta mencari tempat tinggal yang nyaman di luar kota.


Saat jendela kamarnya terbuka sedikit, angin malam mulai masuk, membawa aroma segar. Dita merasa kamar tidurnya terasa lebih nyaman dari malam sebelumnya.


Sementara itu, Yuni mencuci piring dengan suasana hati yang terasa sangat berat, meskipun matanya tampak sibuk dengan tugas rumah tangga, pikirannya sebenarnya sedang melayang jauh. Dia tahu bahwa di balik wajah kuat Dita, ada rasa patah hati yang dalam karena Axel, yang kini berpaling kepada Lisa.


Saat air mengalir dari keran, Yuni teringat akan ekspresi Dita. Wajah putrinya penuh dengan kekecewaan dan kebingungan. Yuni merasa sakit melihat Dita harus melewati rasa seperti itu.


"Apa semua ini hanya untuk mengalihkan suasana hatinya?" Dia bertanya-tanya.


Sambil mencuci piring, Yuni memikirkan bagaimana dia bisa memberikan dukungan ekstra pada Dita. Dia ingin memberikan tempat yang aman bagi putrinya untuk berbicara tentang perasaannya tanpa rasa takut atau malu. Yuni ingin Dita tahu bahwa dia selalu ada di sana untuknya, bahkan ketika mereka berbicara tentang hal-hal semacam ini.


Saat Yuni mengeringkan piring dan meletakkannya dengan hati-hati di rak, ia berjalan ke kamar Dita dan mendapati bahwa ternyata anaknya itu sudah tertidur dengan nyenyak, meringkuk di ranjangnya.


"Maafkan Ibu, Nak. Ibu tidak bisa membantu. Ini masalah hati. Tidak bisa dipaksakan," gumam Yuni dalam hatinya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2