
Telah dua hari Dita dipindahkan ke ruang rawat inap. Kesehatannya makin membaik. Begitu juga Gafi, dia telah melewati masa kritis.
Yuni dan Reno pulang ke rumah. Axel di minta tolong buat jagain Dita. Saat ini keduanya telah dipindahkan ke rumah sakit terdekat dari rumah.
Dita membuka matanya dan melihat Axel yang duduk di samping tempat tidurnya sambil bermain ponsel. Dita lalu memanggilnya dengan suara pelan.
"Axel ...," panggil Dita.
"Aku mau bertemu Kak Gafi, bisa kamu membawaku ke ruang rawatnya," tanya Dita pelan.
Axel mendekati ranjang Dita. Tersenyum dengan wanita yang pernah mengisi hatinya itu. Saat ini dia telah benar ikhlas melepaskan nya, setelah melihat betapa keduanya saling mencintai.
Gafi yang rela bertaruh nyawa untuk melindungi Dita. Begitu juga Dita yang selalu saja memikirkan suaminya. Setiap saat dia hanya ingin bertemu dan mengetahui keadaan Gafi. Padahal keadaan dirinya sendiri tidak baik-baik saja.
"Kamu mau ketemu Kak Gafi?" tanya Axel dengan suara lembut.
__ADS_1
Dita hanya menjawab dengan anggukan kepalanya. Axel kembali tersenyum menanggapi. Dia menarik napas dalam sebelum memulai bicara. Mencoba merangkai kata agar tepat.
"Dita, saat ini kamu itu harus fokus dulu untuk kesehatan kamu. Setelah kamu yakin kuat, aku akan temani menemui Gafi. Percayalah Gafi juga akan sedih jika melihat kamu masih sakit. Jadi sekarang sehatkan dulu ya tubuhmu," ucap Axel.
Dita lalu menangis. Melihat itu Axel jadi serba salah. Dia makin merapatkan tubuhnya. Tidak tega melihat Dita begitu.
"Axel, aku akan tenang jika telah melihat dengan mataku jika Kak Gafi masih bersamaku. Aku takut terjadi sesuatu dan kalian semua menyembunyikan dariku," ucap Dita dengan terisak.
Rachel yang mau masuk mendengar semua ucapan Dita. Dia lalu berjalan mendekati wanita itu. Melihat kehadiran Rachel, tangis Dita makin pecah. Wanita itu lalu memeluknya untuk meredakan tangisnya.
"Ma, yakinkan aku jika Kak Gafi masih ada di sini. Semua orang meminta aku tenang dan memikirkan kesehatanku saja. Tapi bagaimana aku bisa tenang, sementara aku tidak tahu keadaan suamiku. Apa dia masih ada atau telah pergi? Aku hanya ingin melihatnya, Ma. Tolong bawa aku, Ma," ucap Dita memohon.
"Aku mohon, Ma. Aku akan lebih kuat jika tahu dan melihat keadaan Kak Gafi," ucap Dita.
Rachel memandangi Axel, meminta pendapat anaknya. Dia takut Reno dan Yuni akan marah jika tahu mereka membawa Dita melihat Gafi. Namun, Axel bilang, mungkin adanya baiknya Dita melihat Gafi. Biar dia yakin jika suaminya itu masih hidup.
__ADS_1
Axel meminjam kursi roda dan menggendong Dita. Dia mendudukan dengan pelan ke kursi roda itu. Berdua mamanya Rachel, Axel mendorong menuju ke ruang ICU.
Di depan ruang ICU dia bertemu dengan Mama Alya dan suaminya. Kedua orang tua Gafi itu langsung berdiri melihat kehadiran sang menantu.
"Sayang, kamu kenapa ke sini. Apa kamu sudah mendingan?" tanya Mama Alya.
"Aku mau melihat Kak Gafi, Ma. Di mana dia?" tanya Dita.
Alya lalu memandangi Rachel dan Axel. Dia menatap dengan penuh tanda tanya.
"Apa Yuni dan Reno tahu jika Dita ke sini?" tanya Alya sama Rachel.
Mendengar pertanyaan Mama mertuanya Dita langsung menjawab. Dia tidak mau Rachel dan Axel yang disalahkan.
"Aku yang memaksa mau ke sini. Aku tidak bisa tenang sebelum melihat keadaan Kak Gafi," jawab Dita.
__ADS_1
Alya tidak bisa berkata apa lagi. Dia akhirnya meminta izin pada perawat agar Dita boleh masuk. Sebagai seorang istri dia juga mengerti dengan kekuatiran yang dirasakan Dita.
...----------------...