TAK SEINDAH SURGA S1/S2

TAK SEINDAH SURGA S1/S2
Bab 48. Berdua Andin di Kafe


__ADS_3

Farhan memandangi Andin dengan intens. Tidak pernah menduga akan bertemu di tempat seperti ini.


"Kenapa ada di sini?" Farhan dan Andin serempak bertanya.


Keduanya jadi saling pandang. Mungkin sedang merangkai kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan.


"Kamu dulu jawab. Kenapa ada di sini? Sungguh mengherankan anak seorang Ustad ada di klub malam apa lagi saat ini kamu telah menikah. Jangan katakan kamu ke sini karena sedang bertengkar dengan istrimu?" tanya Andin.


"Aku awalnya janjian dengan rekan kerja. Tapi melihat keadaan, aku pilih pulang saja dan mengundur pertemuan. Tidak akan efektif juga pertemuan di sini. Berisik!" ucap Farhan.


Dia memandangi wajah Andin dan kembali bertanya, "Kamu sendiri sedang apa di sini?" tanya Andin.


Mendengar Farhan bertanya hal yang sama lagi, dia mencoba menipu pria itu dengan memasang wajah sedih. Dia tahu hal itu menjadi kelemahan pria itu.


"Panjang ceritanya. Aku sebenarnya tidak mau masuk ke tempat seperti ini, tapi terpaksa. Anakku saja terpaksa aku tinggalkan." Andin mengucek matanya agar mengeluarkan air mata.

__ADS_1


"Bagaimana jika kita ke kafe terdekat dari sini saja. Aku mau berbagi cerita sedikit. Aku berharap kamu mau mendengarnya!" pinta Andin dengan pelan. Berharap Farhan tergugah hatinya.


Farhan tampak berpikir sejenak. Dia sebenarnya ingin mencari keberadaan istrinya. Namun, pria itu sadar, tidak ada yang bisa dia minta keterangan dan bertanya mengenai istrinya karena wanita itu tidak memiliki teman apa lagi sahabat. Keluarga pun tiada.


Farhan mempersilakan Andin masuk ke mobilnya. Andin tersenyum karena merasa senang, akhirnya bisa berduaan lagi dengan pria yang pernah mengisi hatinya itu.


Sampai di kafe, mereka memilih meja yang ada di sudut ruangan. Dia masih terus menyunggingkan senyuman.


Farhan lalu memesan dua minuman dan sepiring camilan. Padahal pria itu belum makan malam, tapi perutnya tidak terasa lapar. Masih memikirkan kepergian istrinya.


Farhan menatap mantan kekasihnya itu dengan intens. Menarik napas dalam. Tidak tahu harus menjawab apa. Jika jujur, Andin nanti pasti mencibir masa lalu Rachel.


"Aku telah berkata sejujurnya. Aku juga heran kenapa harus di tempat seperti tadi. Kamu sendiri sedang apa dan mengapa ada di sana?" tanya Farhan. Dia memang penasaran mengenai keberadaan mantan kekasihnya itu. Setahu Farhan, Andin adalah wanita baik dan berasal dari keluarga baik. Dia pernah bertemu dengan mamanya.


"Aku mencari papa anakku. Atau mantan suamiku," ucap Andin dengan wajah dibuat sedih.

__ADS_1


"Apa suamimu kerja di klub?" tanya Farhan makin penasaran. Jika memang suami Andin kerja di klub, di mana mereka berkenalan? Apa Andin sering ke klub? Banyak pertanyaan bermain di pikirannya saat ini.


Andin menatap Farhan. Dalam hatinya, dia harus dapat menarik simpati pria itu. Dari sikapnya, Andin yakin di hati Farhan masih terukir namanya. Bisa dilihat dari sikapnya dengan dia dan Rachel. Farhan bahkan, lebih membela dia dan temannya dari istrinya itu sendiri.


"Suamiku bukan kerja di sana, tapi dia seorang pengusaha. Saat ini dia mencampakkan aku karena tergoda wanita malam yang bekerja di klub itu. Dasar pel*cur, bisanya merusak rumah tangga orang saja. Suamiku jadi melupakan aku dan anaknya," ucap Andin dengan terisak.


Farhan tampak mulai masuk perangkap wanita itu. Buktinya dia jadi iba mendengar cerita Andin.


"Jika memang suamimu telah mendua, untuk apa kamu pertahankan lagi rumah tangga kalian?" tanya Farhan.


"Aku takut jadi janda. Orang selalu memandang jelek dengan wanita berstatus janda. Lagi pula anakku masih kecil. Siapa nanti yang menanggung biaya hidupnya. aku telah diusir dari rumah orang tuaku. Kemana lagi aku mengadu?" ucap Andin dengan suara sendu.


Farhan tampak berpikir. Entah apa yang akan dia lakukan untuk membantu wanita itu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2